
Sementara di perusahaan ZD Group, Levi dan Theo baru saja menyelesaikan rapat mereka. Hal yang pertama Levi lakukan begitu keluar dari ruang rapat adalah memeriksa ponselnya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Axlyn dan Luca.
“Apa yang terjadi? Kenapa Luca juga terus menelpon ku,” gumam Levi.
Orang pertama yang Levi hubungi adalah Axlyn dan Lucia, tetapi ponsel keduanya sama-sama tidak dapat di hubungi. Lalu saat Levi hendak menghubungi Luca balik, ternyata Luca sudah terlebih dahulu menghubunginya.
“Yakh, … Kenapa kau baru menerima teleponku, Hah!” bentak Luca dengan penuh emosi begitu Levi menerima panggilan teleponnya.
“Maaf, aku baru selesai mengikuti rapat dan aku tidak tahu kalau ponselku dalam mode silent,” jelas Levi yang perasaannya sudah mulai merasa buruk.
“Dimana Lucia? Siapa yang bersama Lucia sekarang?” teriak Luca yang tidak peduli dengan penjelasan dari Levi, karena yang terpenting baginya saat ini adalah keadaan Lucia.
“Kau tahu sesuatu ‘kan? Apa yang terjadi?”
Akhirnya Levi menyadari arti dari puluhan panggilan tak terjawab dari Axlyn maupun Luca, bahwa istrinya saat ini kemungkinan besar sedang dalam bahaya. Levi pun langsung menuntut Luca untuk mengatakan situasi sebenarnya.
“Apa kau bodoh! Axlyn dan Lucia saat ini sedang dalam bahaya. Jadi, segera temui mereka!” bentak Luca lagi yang semakin geram dengan sikap Levi yang tidak langsung gerak cepat.
“Sial!” umpat Levi yang segera menutup panggilan teleponnya.
Kemudian Levi langsung berlari menuju ke mobilnya yang sudah tersedia di depan perusahaannya, karena memang dia berencana akan langsung menemui Lucia di rumah sakit begitu rapatnya selesai. Namun, tepat sebelum dia masuk tiba-tiba Jack menghampirinya dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
“Tuan, Axlyn dan Nona Lucia tidak ada di rumah sakit!” ujar Jack memberikan laporan.
Ternyata begitu mengetahui bahwa Axlyn menghubunginya, Jack segera menuju ke rumah sakit untuk memeriksanya. Sebab tidak biasanya Axlyn akan menghubunginya berulang kali kalau itu bukan masalah yang mendesak.
“APA!” seru Levi yang semakin merasa tidak enak dengan firasatnya.
“Kami hanya menemukan ponsel milik Axlyn yang telah rusak di area rumah sakit yang cukup jarang di lalui orang umum kecuali oleh petugas yang bertanggung jawab,” jelas Jack lagi sembari memperlihatkan ponsel milik Axlyn yang dia temukan.
“Sialan! Bagaimana dengan keadaan istriku? Seharusnya kalian segera memeriksa semua cctv yang ada di sana!” cecar Levi yang semakin merasa frustasi.
“Kami sudah memeriksanya, Tuan! Lihatlah, sepertinya Nyonya Lucia menumpang pada mobil ini,” ujar Jack sembari menunjukan cctv yang berada tepat di depan rumah sakit, dimana Lucia menumpang mobil yang di kenal sebagai Tuan Alvano.
“Mobil ini, aku sepertinya tahu siapa pemiliknya,” gumam Levi yang kembali di sadarkan hal membuat hati dan pikirannya semakin kacau.
“Kami telah mengarahkan semua anak buah kita untuk melacak keberadaan mobil tersebut dan juga mencari keberadaan Axlyn,” ujar Jack yang langsung bertindak sebelum di perintahkan oleh Levi.
“Kerja bagus! Minta bantuan pada semua klan yang berhubungan dengan kita untuk mencari keberadaan mereka,” ujar Levi yang merasa kurang hanya sekadar mengirim anak buah saja, karena negara K sangat luas.
“Baik, Tuan!” sahut Jack yang segera melakukan apa yang telah di perintahkan.
Pencarian besar-besaran pun di lakukan yang di pimpin langsung oleh Levi. Sedangkan Luca sendiri segera memberitahu Will dan yang lainnya, dimana mereka semua langsung setuju untuk saat itu juga terbang ke negara K.
Sementara Kakek Roman, Noland-Julia, Rayden dan juga Zhia masih belum mengetahui tentang masalah tersebut karena Luca meminta semua orang untuk merahasiakannya sementara waktu
.
Didalam kepanikan kepanikan, Luca melupakan bahwa dia pernah memberikan Lucia sebuah kalung yang dipasangi GPS olehnya sendiri. Padahal satu detik pun Lucia tidak pernah melepaskan kalung pemberian dari saudara kembarnya itu, seperti dia selalu mengenakan cincin pernikahannya dengan Levi.
...****************...
Begitu juga dengan Luke yang berniat memaksa Lucia untuk pergi bersamanya ke wilayah kekuasaannya. Lucia mulai menyadari bahwa ada rencana tersembunyi dari Luke ketika mereka melewatkan belokan yang seharusnya menuju kekediaman Zaen Der. Namun, Lucia masih bisa bersikap tenang karena dia memikirkan keselamatan janin yang berada di dalam perutnya.
“Aku tahu kini kau sudah menyadarinya, tapi kenapa kau mencoba untuk melarikan diri?” tanya Luke yang penasaran karena Lucia masih bisa bersikap tenang.
“Apa kau akan membunuhku?” tanya Lucia balik tanpa menatap wajah Luke sedikitpun.
“Bagaimana aku bisa membunuhmu, kalau di sisi lain aku sangat mencintaimu?” ujar Luke yang akhirnya mengakui siapa identitasnya yang sebenarnya.
“Jadi, kau yang selama ini mengejar dan menggangguku?” tanya Lucia yang akhirnya menatap wajah Luke, tapi tatapan jelas sekali tersimpan kemarahan dan juga perasaan jijik.
“Aku tidak mengganggumu, Lucia! Aku hanya ingin selalu bersamamu, memilikimu dan selamanya mencintaimu!” jawab Luke, tapi Lucia tidak melihat semua yang dikatakan Luke dari matanya. Hanya sebuah ambisi dan keserakahan yang bisa Lucia lihat dari tatapan mata Luke padanya.
“Tidak! Yang aku lihat di matamu bukanlah cinta, melainkan ambisi gilamu!” tukas Lucia dengan cepat.
“Baiklah, terserah seperti apa kau menilaiku! Namun, seperti inilah caraku mencintaimu,” ujar Luke yang tidak terlalu mempermasalahkan pendapat Lucia tentang dirinya.
Percakapan itu terhenti begitu mobil yang mereka naiki juga berhenti di sebuah lahan luas yang berada di tengah area terbuka yang dekat dengan pesisir pantai. Sebab sepanjang jalan Lucia mendengar suara debur ombak dan terdapat jurang di salah satu sisi jalan.
Terlihat sudah disambut oleh banyaknya anak buah Luke. Tak hanya itu saja, ada beberapa helicopter yang sudah menunggu kedatangan Luke dan Lucia.
“Sial, aku tidak pernah menyangka bahwa dia akan membawaku pergi dari negara ini! Aku bisa saja melawan mereka dengan kemampuanku, tapi aku tidak bisa membahayakan janin yang baru 6 minggu di perutku,” batin Lucia yang terus mencoba memikirkan jalan keluar terbaik menurutnya..
Raut wajah Lucia yang tadinya sangat tenang, kini mulai terlihat panik dan kebingungan. Disisi lain Lucia berencana ingin melawan Luke, tapi dia juga harus memperhatikan keselamatan bayi yang ada di kandungannya.
“Keluarlah, sebelum aku menarik paksa dirimu keluar dari mobil ini,” ujar Luke sembari menarik kunci mobilnya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...