
Matahari kini telah terbenam sepenuhnya, langit pun mulai di penuhi dengan cahaya bintang. Dinginnya angina malam pun mulai menusuk kulit mereka, rasa lapar membuat mereka memutuskan untuk kembali. Dan betapa terkejutnya Levi dan Lucia melihat makan malam yang begitu indah dan romantic yang telah di sediakan oleh Marvin dengan para pelayan lainnya.
Ketika Levi dan Lucia hendak langsung menuju ke Villa, seorang pelayang pun mengarahkan mereka ke suatu tempat yang berada dekat tepi pantai. Begitu sampai di tempat yang di tunjukkan, setiap langkah Levi dan Lucia akan menyala cahaya lampu kuning mengiringinya.
Lucia bahkan sampai terharu melihat kejutan itu, begitu juga dengan Levi. Mereka tidak menyangka bahwa Marvin dan para pelayan akan benar-benar menyiapkan makan malam yang sangat special untuk mereka. Bahkan ada alunan music piano dan violin secara langsung di dekat lokasi meja makan mereka.
“Selamat datang kembali, Tuan Levi dan Nona Lucia!” sambut Marvin dan para pelayan yang serentak menggunakan seragam formal yang sama.
“Woah, … Apakah Paman Marvin yang menyiapkan semua ini?” tanya Lucia dengan mata yang berbinar.
“Saya di bantu oleh para pelayan dan juga sesuai dengan perintah dari Tuan Rayden dan Tuan Luca,” jawab Marvin yang tidak ingin mendapat pujian seorang lain, padahal itu hasil kerja keras semua orang.
“Papah dan Kakak yang menyuruh kalian untuk menyiapkan semua ini?” ujar Lucia yang masih tak percaya.
“Benar, Nona Lucia!” jawab Marvin membenarkan.
“Aku pikir mereka masih membenciku,” gumam Levi.
“Mana mungkin, bahkan sebaliknya Papah sangat menyayangimu bahkan melebihi rasa sayangnya pada kami. Dan Kak Luca sebenarnya sangat mengaggumimu sejak kecil,” ujar Lucia sedikit membuka rahasia dari Papah dan Kakaknya.
“Benarkah? Aahh, … Itu tidak mungkin, cara mereka menatapku saja sudah sangat jelas,” sanggah Levi yang tidak mempercayainya sama sekali.
“Itu karena mereka mengganggap mu mengambil aku dari mereka, makanya mereka selalu memperlihatkan sisi tidak Sukanya. Padahal di balik tatapan itu mereka merasa lega, karena yang akan menjadi pendamping dan pelindungku adalah dirimu,” ujar Lucia menyakinkan Levi.
“Maaf menyela pembicaraan, Tuan dan Nona! Tapi kami telah menyiapkan pakaian untuk anda berdua. Apa kalian mau berkenan mengenakannya?” tanya Marvin.
“Apakah itu juga perintah dari mereka juga?” tanya Levi memastikannya.
“Benar sekali, Tuan!” jawab Marvin.
“Baiklah, karena sudah di sediakan kenapa tidak!” ujar Levi yang tidak terlalu memikirkan siapa yang menyiapkan semua itu untuk mereka, sebab yang terpenting baginya adalah Lucia selalu berada di sisinya.
“Silahkan ikuti kedua pelayan ini, Tuan dan Nona!” pinta Marvin.
Tanpa berkata apapun lagi, Levi dan Lucia pun langsung mengikuti kedua pelayan itu menuju dua tempat berbeda untuk mereka berganti pakaian.
Ternyata di dalam ruangan itu sudah di sediakan setelah jas di ruang ganti Levi dan sebuah gaun putih di ruang ganti Lucia. Tak beberapa lama kemudian, Levi dan Lucia pun keluar dari ruang ganti itu secara bersamaan.
Terlihat baik Levi maupun Lucia sama-sama tertegun melihat penampilan satu sama lain. Levi terlihat sangat berbeda begitu dia mengenakan setelan jas, dia terlihat bagaikan seorang pangeran yang akan menjemput sang putrinya. Begitu pun Lucia yang terlihat bagaikan sang putri yang tengah menunggu kedatangan pangerannya.
“Kau terlihat begitu indah, Ratu-ku!” puji Levi yang memuji kecantikan Lucia.
“Kau juga sangat tampan, Suami-ku!” balas Lucia yang tak lupa memuji suaminya.
“Bisa kita pergi sekarang?” tanya Levi.
“Tentu! Dengan senang hati aku akan selalu mengikutimu,” jawab Lucia.
Tanpa buang waktu lagi, Levi pun langsung menghampiri Lucia. Dia mengulurkan tangannya dan langsung di raih oleh Lucia di sertai senyuman manis keduanya. Kemudian keduanya pun mulai berjalan menuju ke meja makan yang telah di sediakan. Alunan lembut piano dan violin mengiringi langkah mereka.
“Silahkan duduk, Tuan dan Nona!” Marvin pun membantu Levi dan Lucia mengatur kursi mereka.
“Terima kasih, Vin!” ucap Levi.
“Terima kasih, Paman Marvin!” Begitu juga Lucia.
“Tentu, Tuan dan Nona! Silahkan menikmati makan malamnya, kami akan undur diri sekarang,” ujar Marvin seraya pamit setelah menghidangkan semua menu makanan di atas meja.
Levi dan Lucia pun hanya membalasnya dengan sebuah anggukan serta senyuman manis di bibir mereka. Setelah itu, Marvin dan pelayan yang lainnya mulai meninggalkan tempat itu. Kini hanya tersisa pemain piano dan violin saja yang menemani Levi dan Lucia di sana.
“Semua makanan ini sepertinya Papah dan Kakakmu juga yang menyiapkannya,” ujar Levi yang memperhatikan setiap menu yang ternyata makanan kesukaan Lucia.
“Tidak perlu, aku juga menyukainya! Makanlah yang banyak agar nanti aku juga bisa memakanmu lagi,” ujar Levi yang seketika membuat Lucia menjadi tersipu malu.
“Apaan ‘sih! Bisa tidak sehari saja kau tidak menggodaku,” protes Lucia.
“Kenapa? Kau terlihat semakin cantik dengan pipi yang merona hanya karena perkataanku.” Levi masih saja menggoda istrinya.
“Berhentilah mengatakan itu dan cepat makan makananmu,” perintah Lucia yang berusaha mengalihkan topik.
“Apa kau mau berdansa satu lagu setelah selesai makan?” tanya Levi yang ingin mengajak Lucia berdansa.
“Tidak! Aku ingin pergi jalan-jalan bersamamu lagi setelah makan,” jawab Lucia yang langsung menolaknya.”
“Baiklah, kalau itu yang di inginkan oleh Ratu-ku!” ujar Levi yang akan selalu mengalah untuk Lucia.
Benar saja, setelah selesai dengan makan malam mereka. Lucia langsung mengajak Levi untuk berjalan-jalan di tepi pantai. Karena angina laut cukup kuat malam itu, Levi pun melepaskan jasnya dan menyuruh Lucia untuk memakainya.
“Anginnya sangat kencang! Jadi, pakai ini untuk menghangatkan tubuhmu,” ujar Levi sembari memakaikan jasnya pada Lucia.
“Gendong aku juga,” pinta Lucia, begitu Levi selesai memakaikan jasnya.
“Naiklah!” sahut Levi yang dengan senang hati menerima permintaan itu.
Akhirnya Levi pun menggendong Lucia sembari berjalan menyusuri tepian pantai. Banyak sekali yang mereka bicarakan di setiap perjalanan mereka. Hingga Lucia menginginkan nama panggilan khusus hanya untuk mereka berdua.
“Kak Levi, sepertinya itu panggilan yang sangat tidak cocok untuk hubungan kita sekarang,” ujar Lucia membuka topik pembicaraan lain.
“Lalu kau ingin memanggilku apa sekarang?” tanya Levi yang penasaran dengan nama panggilan yang sudah di siapkan oleh istrinya.
“Hubby!”
“Bee!”
“Bagaimana kalau ‘Bee’ saja!”
Setelah menimbang dan memikirkannya cukup lama, akhirnya Lucia berhasil memutuskan nama panggilan yang tepat kepada suaminya itu.
“Bee? Bukankah itu lebah?” ujar Levi yang mengartikannya dalam bahasa inggris.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...