Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Pemakaman Axlyn



Awalnya Will memang berniat untuk langsung membawa jenazah Axlyn ke tempat pemakaman yang sudah di sediakan, seperti yang dia lakukan kepada korban yang lainnya. Namun, Rayden memerintahkannya untuk membawa jenazah Axlyn ke kediaman Xavier terlebih dahulu. Karena banyak orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Axlyn sebelum di makamkan.


Bukan hanya untuk memberikan penghormatan terakhir saja, tetapi Zhia dan yang lainnya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Axlyn karena telah rela berkorban demi keselamatan putra sulungnya.


Dan benar saja, kedatangan jenazah Axlyn telah di sambut oleh banyak orang sampai keluar dari pintu gerbang. Zhia bahkan telah menyiapkan tempat yang di penuhi dengan bunga mawar dan krisan putin untuk meletakkan peti mati Axlyn, agar semua orang bisa memberikan penghormatan terakhirnya.


Pintu belakang ambulance pun perlahan mulai terbuka, memperlihatkan sosok Luca dan Will yang ternyata selalu mendampingi Axlyn sepanjang perjalanan. Zhia pun ikut menangis terisak ketika melihat Luca yang berlinangan air mata. Begitu Luca turun dari ambulance, Zhia langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan hanta untuk menenangkannya.


“Mamah, … Hiks, …!” ucap Luca dengan suara yang gemetar menahan tangisnya.


“Tidak apa-apa, sayang! Axlyn pasti juga tidak ingin melihatmu menangisi kepergiannya seperti ini. Jangan menangis lagi, yah! Kita harus mengantar kepergiannya dengan ikhlas dan tersenyum bangga atas pengorbanannya,” ujar Zhia sembari memeluk dan mengelus lembut punggung putra sulungnya.


Luca hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan kepala dan masih dengan mencoba menahan tangisannya. Setelah itu Noland, Julia dan Kakek Roman juga memeluk Luca untuk memberinya sedikit semangat. Tak lama kemudian, Triple R, Felix serta Jaydon datang untuk menurunkan sendiri jenazah Axlyn dan meletakkannya di tempat yang sudah di siapkan.


Disaat yang bersamaan, sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping mobil ambulance. Perlahan keluar sosok Rayden dan Levi yang keluar dari mobil secara bersamaan. Rayden segera menghampiri dan memeluk istrinya, sedangkan Levi membuka bagasi belakang mobil untuk mengambil kursi roda.


“Sayang, aku kembali!” ujar Rayden pada istrinya.


“Kau sudah melakukan yang terbaik untuk kita semua, Ray!” puji Zhia yang tidak ingin menyalahkan siapapun atas meninggalnya Axlyn dalam pertarungan.


Kemudian, Levi membuka pintu mobilnya lagi dan membantu Lucia keluar dari mobil tersebut dengan cara menggendongnya. Dia pun meletakkan Lucia di kursi roda tersebut dengan sangat berhati-hati agar luka di perut istrinya tidak menimbulkan rasa sakit.


“Lucia! Kau baik-baik saja, sayang!” ujar Zhia yang langsung menghampiri putri kesayangannya, begitu juga dengan Noland, Julia dan Kakek Roman yang ikut menanyakan keadaannya.


“Sekarang tidak apa-apa! Sebaiknya kita selesaikan dulu pemakan untuk Axlyn,” ujar Lucia.


Prosesi penghormatan terakhir untuk Axlyn pun di mulai, keluarga besar Xavier satu persatu mengucapkan terima kasih dan doa yang terbaik untuk Axlyn.


Sedangkan Luca hanya menangis di pojokan sembari menatap pilu wajah Axlyn untuk terakhir kalinya. Kala itu, Luca merasa Axlyn bagaikan seorang putri hanya hanya sedang tertidur lelap seperti salah satu dongeng pengantar tidurnya waktu kecil.


“Axlyn sayang, terima kasih banyak atas pengorbananmu! Sebagai seorang ibu, aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu. Kau wanita yang sangat sangat baik, pantas saja hati putraku yang dingin bagaikan gunung es bisa mencair oleh ketulusanmu. Hiks, …. Semoga kau mendapatkan tempat terindah di sisi Tuhan pencipta semesta alam.”


Ucapan terima kasih dan doa dari Zhia untuk Axlyn sembari meletakkan setangkai bunga krisan putih di depan peti mati Axlyn. Lalu terdengar Rayden juga mengatakan sesuatu selain ucapan terima kasihnya atas pengorbanan Axlyn.


“Sebagai Ayahnya Luca, aku juga sangat berterima kasih kepadamu. Meskipun kalian tidak berjodoh di kehidupan kali ini, aku akan mendoakan kalian bisa berjodoh di kehidupan selanjutnya. Sekarang kau beristirahatlah dengan tenang di sana, selagi menunggu masa itu tiba!” ucap Rayden yang juga meletakan setangkai bunga.


Setelah itu bergantian dengan Levi dan Lucia, terdengar jelas bahwa Levi sangat menyesal karena dia tidak bisa menyelamatkan Axlyn lagi kali ini. Begitu juga Lucia yang merasa bersalah, sebab karena dirinya semua pertarungan itu harus terjadi.


“Maafkan aku, Axlyn! Karena kali ini adaku tidak bisa datang untuk menyelamatkanmu lagi. Dan terima kasih, sebab sampai akhir kau tetap melindungi istri dan calon anakku. Semoga kau mendapatkan tempat yang lebih baik lagi dari dunia ini,” ucap Levi yang berlinang air mata.


“Jangan menyalahkan dirimu seperti ini, Lucia! Semua yang terjadi adalah keputusan Axlyn sendiri yang memilih untuk mempertaruhkan nyawanya, demi menyelamatkan Luca saat itu,” ujar Levi yang tidak ingin Lucia terus menyalahkan dirinya sendiri dan larut dalam kesedihan.


“Axlyn, aku akan berjanji satu hal padamu! Kelak jika anak ini lahir dengan sehat serta selamat dan jika anaknya perempuan, maka aku akan menggunakan namamu untuk anak ini. Lalu nama Axel, jika bayinya laki-lagi agar kami semua bisa selalu mengingat tentang dirimu setia memanggil anak ini.”


Sembari menatap jenazah Axlyn dan mengusap perutnya dengan lembut, Lucia mengucapkan janjinya. Levi dan yang lainnya pun tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja Luca merasa terkejut begitu mendengarnya.


Setelah itu, semua orang pun melakukan yang sama mendoakan yang terbaik untuk Axlyn satu persatu atau berkelompok karena banyaknya orang yang melayat saat itu. Bahkan kediaman Xavier di penuhi oleh bunga krisan, saking banyaknya orang yang ingin mengantar kepergian Axlyn ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Iring-iringan mobil mewah pun mengikuti mobil ambulance yang akan membawa jenazah Axly ke tempat pemakaman. Pada saat peti mati Axlyn di turunkan ke liang lahat dan tanah mulai menutupinya, pada saat itu pula Luca menyadari bahwa selama ini dia memang sudah jatuh cinta pada Axlyn tanpa dia sendiri sadari.


“Axlyn, kenapa aku harus menyadarinya sekarang? Di saat kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi? Di saat kau pergi untuk selamanya, kenapa aku baru menyadari bahwa selama ini aku mencintaimu! Hiksss, ….” gumam Luca dengan berderai air mata.


“Seharusnya kau memberiku satu kesempatan untuk aku mengatakan bahwa, ‘Aku sangat mencintaimu, Axlyn!’. Tidurlah dengan tenang, aku pasti akan menemui lagi jika memang sudah waktunya,” lanjut Luca masih berderai air mata.


“Aku tidak akan sia-siakan pengorbananmu ini dengan melakukan hal bodoh! Tapi aku akan menggunakan sisa hidupku hanya untuk mencimu,” sambung Luca yang memantapkan hatinya atau mungkin menutup hatinya untuk wanita lain.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...