
“Apa maksudmu? Aku hanya ingin membantu Kak Luke membohongi wanita itu,” jawab Leona berbohong.
“Apa sekarang kau juga berniat membohongiku? Aku sudah merawatmu dan Luke sejak kalian masih sangat kecil, jadi aku sudah tahu seperti apa raut wajah kalian saat sedang mencoba untuk menyembunyikan sesuatu,” ujar Kaendra.
“Ikutlah denganku!” ajak Leona sembari menarik tangan Kaendra.
Kaendra kembali mendesak Leona untuk mengatakan apa yang sedang dia coba sembunyikan dengan mendekati Lucia. Sadar bahwa dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Kaendra, Leona pun langsung menarik Kakak sulungnya itu ke suatu tempat yang cukup sepi.
“Ada apa?” tanya Kaendra begitu Leona telah melepaskan tangannya.
“Aku telah mengetahui segalanya,” ujar Leona dengan raut wajah seriusnya.
“Mengetahui tentang apa?” tanya Kaendra yang tampak kebingungan dengan maksud perkataan Leona.
“Tentang kematian Jamie! Sebenarnya kau dan Kak Luke bukan yang memerintahkan wanita itu untuk membunuh Jamie dengan bayaran yang cukup menggiurkan? Kenapa kalian melakukan itu? Kenapa kalian membunuh pria yang aku cintaI, Hah?” teriak Leona dengan tatapan penuh kemarahan.
“Seharusnya aku memang harus membereskan wanita sialan itu ketika ada kesempatan,” umpat Kaendra yang secara tidak langsung membenarkan apa yang baru saja di katakana oleh Leona.
“Jadi, benar! Kalian yang telah membunuhnya, tapi kenapa kalian melakukan itu!” ujar Leona menuntut penjelasan.
“Karena pria itu membahayakan keluarga kita, karena itulah aku setuju dengan saran dari Luke untuk membunuhnya,” jawab Kaendra sedikit meninggikan suaranya.
“Apa? Membahayakan keluarga kita?” lirih Leona yang tak percaya dengan alasan sepele Kaendra yang membunuh kekasihnya.
“Dia hanya pria biasa yang mencari uang untuk makan sebagai pengantar makanan. Apanya yang membahayakan keluarga kita, Hah!” teriak Leona frustasi, karena ternyata memang benar perkataan Axlyn bahwa dirinya ‘lah penyebab sebenarnya kematian kekasihnya sendiri.
“Apa kau bodoh! Kau percaya begitu saja bahwa dia hanya pria biasa? Lalu kenapa dia sering keluar masuk di penjara, Hah!” bentak Kaendra.
“Kau yang bodoh! Kalian berdua yang tolol! Sebelum aku memutuskan menjalin hubungan dengannya aku sudah mencari tahu latar belakangnya dengan teliti. Dia memang seorang pengantar makanan biasa yang harus menghidupi kedua adiknya,” jelas Leona.
“Dia sering mendatangi kantor polisi, pengacara dan kejaksaan hanya untuk mengantar makanan saja. seharusnya kalian cari tahu lebih teliti kebenarannya sebelum membunuhnya. Seharusnya kalian bertanya padaku, … Hiks, …” sambungnya tanpa terasa air matanya menetes begitu saja membahasi wajahnya.
“Maaf, … Karena kami bertindak gegabah.” Hanya kata maaf dan penyesalan yang bisa Kaendra katakana pada Leona.
“Kata maaf tidak akan cukup untuk menenangkan hatiku! Seperti yang kau dan Luke lakukan, maka aku juga akan mengambil nyawa orang yang paling kalian cintai!” ujar Leona dengan penuh tekad.
Setelah itu, Leona pun berjalan pergi meninggalkan Kaendra dengan penuh kemarahan. Kaendra berusaha untuk mengejar dan memberikan alasan lain agar Leona mau mengerti, tapi sepertinya Leona sudah menutup mata dan telinganya rapat-rapat. Apapun yang Kaendra katakana dia tidak mau mendengarnya lagi sama sekali.
...****************...
Sedangkan Rayden, Luca, Will dan Regis sudah berada di Gudang persenjataan yang selama ini di sembunyikan oleh Levi. Terlihat Levi sedang sibuk membagi senjatanya kepada anak buah mereka.
Sedangkan Felix dan Rayga tengah mengatur penerbangan untuk mereka semua, di sisi lain Jaydon dan Ryuga mencoba membagi menjadi beberapa kelompok.
“Levi, apakah semuanya sudah siap?” tanya Rayden yang menghampiri Levi.
“Sudah, Pah! Apakah Papah sudah menemukan lokasi markas mereka?” tanya Levi balik.
“Luca yang berhasil menemukannya! Kalau begitu kita bersiap pergi sekarang juga!” perintah Rayden pada yang lainnya untuk segera bersiap melakukan penerbangannya.
Rayden pun langsung berhenti dan mengambil salah satu senjata secara acak seraya berkata, “Glock 17, sepertinya aku pilih yang ini saja!”
“Aku akan mengambil yang ini.” Lalu, Luca pun mengambil sebuah senjata yang membuat perhatian semua orang langsung tertuju kepadanya.
“Ruger Super Redhawk 454 Casull? Apa kau yakin akan menggunakan senjata itu?” tanya Will dan Levi bersamaan.
“Kenapa memangnya? Setidaknya aku ingin menggunakan senjata ini untuk meledakan kepala bajingan itu,” ujar Luca yang sudah menentukan target utamanya.
“Ya sudah! Kalau begitu aku akan mengambil yang ini saja,” sahut Will yang mengambil salah satu senjata.
“Aku juga akan menggunakan yang ini,” imbuh Levi yang juga mengambil senjata yang sama dengan Will.
Will dan Levi memilih menggunakan pistol paling mematikan yaitu Desert Eagle buatan pabrikan senjata Israel. Senjata ini begitu terkenal sehingga sering ditampilkan pada film-film bergenre action. Dijuluki sebagai Prestige Resolve in the World, Desert Eagle dilengkapi peluru magnum yang dapat menusuk sekaligus menciptakan ledakkan pada target. Dengan panjang laras 260 mm dan berat 1,6 kilogram membuat senjata ini semakin ciamik. Desert Eagle dilengkapi peluru 357 Magnum, 41 Magnum, 44 Magnum, 440 Cor-bon, dan 50 Action Express.
Sementara Regis terlihat bingung dan ragu untuk memilih senjatanya, karena dia memang anak yang paling tidak suka pertarungan maupun kekerasan di dalam keluarga Xavier. Bisa di katakan delapan puluh persen Regis menuruni sifat mamahnya yang berhati lembut dan selalu ceria.
Melihat putra bungsunya sedang kebingungan, Rayden pun mengambil senjata yang sama dengannya dan memberikannya kepada Regis. Seraya berkata, “Peganglah senjata ini sebagai perlindungan untukmu! Gunakan senjata ini saat di perlukan, karena kau tidak akan ikut bertarung dalam pertempuran ini. Kau akan menggantikan tugas Luca yaitu menunjukan kepada kami lokasi keberadaan musuh.”
“Terima kasih, Pah!” ucap Regis yang langsung memeluk papahnya yang ternyata secara diam-diam Rayden selalu memperhatikan setiap karakter kelima anaknya itu.
“Meskipun terkadang terkesan cuek dan tidak peduli, tapi sebenarnya Tuan muda sangat memperhatikan anak-anaknya dengan caranya sendiri,” bisik Will memberitahu Levi tentang rahasia terbesar Tuannya.
“Hay, apa yang sedang kalian berdua gosipkan! Ayo, cepat bersiap kita pergi sekarang!” bentak Rayden yang bisa memperkirakan dnegan tepat bahwa Will pasti sedang menggosipkan dirinya.
“Wihhh, … Kau lihat sendiri ‘kan? Meskipun sudah tua feelingnya masih tidak bisa di ragukan lagi ketajamannya,” bisik Will lagi yang masih saja ingin menggosipkan Tuannya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...