Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Cinta Gila, Luke!



“Sudah abaikan saja! Sekarang kita beralih untuk kelompok selanjutnya saja!” seru Rayden yang segera mengalihkan topik pembicaraan.


“Lihatlah, kelakuan Papahmu itu!” bisik Will pada Rayga yang duduk tepat di sebelahnya.


“Hehehee, … Paman Will tenang saja, aku tidak pernah menggila setiap bertarung. Tapi sebaiknya Paman Will lebih perhatian pada Kak Luca saja, sebab dari keempat putranya hanya Kak Luca yang memiliki karakternya hampir sama persis seperti Papah,” bisik Rayga balik yang membuat Will semakin tak mampu berkata-kata lagi.


“Okay, … Jaydon dan Felix, kalian berdua yang akan memimpin penyerangan di markas Black Wolf dengan Ryuga yang akan memimpin tim pemantau nya. Sedangkan aku, Levi dan Jack yang akan menyerang markas utama White Wolf dengan Regis yang akan memimpin tim pemantau nya,” ujar Rayden yang kembali membagi kelompoknya.


“Tuan, bisakah kita bertukar satu orang?” pinta Felix dengan raut wajah memohon.


“Memang siapa yang ingin kau tukar?” tanya Will yang penasaran.


“Tim pemantau nya, aku ingin Regis yang bersama kelompokku sedangkan Ryuga yang berada di kelompok utama,” jawab Felix tanpa ragu-ragu maupun merasa sungkan baik dengan Ryuga maupun Regis.


“Kenapa kau ingin menukarnya? Kau punya masalah dengan Ryuga?” cecar Rayden menuntut penjelasan dari Felix, sebagai seorang ayah Rayden tidak terima dengan sikap Felix seperti itu.


“Bukan karena apa-apa, Tuan! Aku juga menyukai dan menyayangi Ryuga, tapi jika aku sudah di gabungkan dnegan Jaydon sebaiknya Regis saja yang menjadi penengahnya. Soalnya kalau Ryuga, dia memiliki karakter yang sama dengan Jaydon,” jelas Felix yang bingung cara menjelaskannya.


“Lalu apa hubungannya dengan itu?” tanya Will yang semakin penasaran.


“Sepertinya aku tahu apa alasannya,” ujar Luca.


“Apa itu?” desak Rayden.


“Paman Jay adalah orang yang sangat serius dalam bertarung begitu juga dengan Ryuga, sedangkan Paman Felix kebalikannya. Dia tidak suka terlalu serius saat bertarung, sehingga membuatnya tidak bisa mengecoh musuh,” jelas Luca tepat sasaran.


“Wahhh, … Tepat sekali!” seru Felix membenarkan penjelasan Luca.


“Ya sudah! Lakukan saja seperti itu! Sebentar lagi kita akan sampai di wilayah utara, begitu mendarat segera menuju ke target masing-masing. Jangan lupa tim pemantau harus selalu saling memberitahu keadaan wilayahnya,” ujar Rayden menekankan pada semuanya.


“Siap laksanakan!” sahut semuanya yang serentak memberi hormat pada Rayden, hingga membuat Rayden bingung sendiri melihat kekompakan mereka.


...****************...


Waktu terus berjalan, tibalah pesawat mereka mendarat dan sesuai perintah mereka langsung menuju ke lokasi target masing-masing. Di saat yang bersamaan, Leona kembali menemui Axlyn di ruang bawah tanah. Leona pun mengakui bahwa apa yang di katakan Axlyn memang benar tentang kematian kekasihnya. Namun, tiba-tiba Leona memberitahu Axlyn mengenai rencana gilanya.


“Hay, apa kau masih hidup!” seru Leona ketika melihat Axlyn yang sepertinya sedang tertidur.


“Apa kau datang untuk membunuhku sekarang?” sahut Axlyn masih menutup matanya.


“Tidak! Aku datang ke sini untuk memberitahumu bahwa apa yang kau katakana memang benar,” ujar Leona, sontak saja Axlyn langsung membuka kedua matanya dan menatap Leona.


“Lalu, apa kau akan membebaskan aku?” tanya Axlyn yang hanya bermain-main dengan ucapannya.


“Tentu, asal kau mau membunuh Lucia untukku!” jawab Leona di sertai seringai jahat di wajahnya.


“Kau memang benar tentang kedua kakakku yang menjadi dalang utama atas kematian orang yang ku cintai. Namun, bukan berarti aku akan melepaskan orang telah mengambil nyawa orang yang aku cintai begitu saja,” lanjut Leona.


“Aku akan tetap membunuhmu, tapi sebelum itu aku akan membunuh orang-orang yang di cintai oleh Kakakku yaitu Lucia!” sambungnya.


“Kenapa kau melibatkan dia? Bukankah dia tidak bersalah apapun tentang kejadian ini?” cecar Axlyn yang meminta penjelasan Leona.


“Kau tanya kenapa? Seperti alasan Luke membunuh pria yang ku cintai, aku juga membunuh Lucia karena Luke sangat mencintainya,” ujar Leona yang tersenyum penuh arti.


“Aku datang hanya untuk memberitahu tentang ini. Mungkin lain kali aku akan datang dengan membawa kabar tentang kematian Lucia dan bendera kematian untukmu, Axlyn!” sambung Leona yang kembali berjalan pergi meninggalkan Axlyn yang terus berteriak untuk tidak menyentuh Lucia.


“Lucia, jangan salahkan aku karena kau harus mati seperti ini! Salahkan dirimu sendiri yang membuat Luke sangat mencintai. Alasanmu dan anakmu mati hari ini adalah karena Luke sangat mencintaimu,” gumam Leona yang siap menarik pelatuknya.


“LEONA!! BERANINYA KAU INGIN MELUKAINYA, HAH!!” teriak Luke, setelah berhasil menggagalkan Leona menarik pelatuknya dengan cara dia melemparkan batu pada tangan Leona.


Namun, rencananya membunuh Lucia harus gagal karena Luke yang menemuinya pada waktu yang bersamaan. Awalnya kedatangan Luke hanya untuk memastikan, apakah perkataan Kaendra benar atau tidak. Tapi sepertinya dia tidak perlu memastikannya lagi, karena dia sudah melihat jawabannya.


“Ouh, … Kakakku tersayang! Sepertinya kau salah paham padaku,” ujar Leona yang masih bisa tersenyum menghadapi kemarahan Luke.


“Aku sungguh tidak ingin melukainya, tapi aku ingin membunuhnya seperti kau membunuh pria yang aku cintai!” lanjutnya sembari tersenyum kecut.


Mendengar hal itu, kemarahan Luke pun semakin memuncak. Dengan penuh emosi, Luke berjalan menghampiri Leona dan langsung mencekik lehernya seraya berkata, “Berani kau menyentuhnya, maka kau akan mati di tanganku sekarang juga!”


“Bunuhlah! Bunuh aku sebelum aku membunuh Lucia-mu itu,” ujar Leona tanpa ada rasa takut sedikitpun di matanya.


Luke pun semakin mengencangkan tangannya di leher Leona. Disaat Leona hampir kehilangan napas, Kaendra datang dan segera menghentikan aksi Luke yang hampir membunuh adik kandungnya dengan tangannya sendiri.


“HENTIKAN, LUKE!” teriak Kaendra sembari berusaha memisahkan Luke dari Leona.


Begitu terlepas dari cengkraman Luke, Leona langsung berusaha mengatur napasnya kembali. Sedangkan Luke masih terlihat kemarahan di wajahnya, beruntung Kaendra selalu ada untuk menghentikan Luke melukai Leona.


“Apa kau sudah gila, Hah? Kau ingin membunuh adikmu sendiri hanya karena wanita penyebab masalah itu!” bentak Kaendra lagi.


“Wanita penyebab masalah kau bilang? Apa kau juga ingin mati sama sepertinya, Hah!” bentak Luke balik.


“Jika bukan penyebab masalah lalu apa, Hah?” teriak Kaendra frustasi.


“Karena dia kau tidak segan untuk membunuh Kakak dan Adik kandungmu sendiri! Dan asal kau tahu, mereka semua datang kesini untuk menyerang kita karena wanita itu,” sambung Kaendra.


“Apa maksudmu?” desak Luke menuntut penjelasan lebih, tapi Kaendra tak mau menjawabnya.


“Leona, kembalilah ke markasmu dan bersiaplah untuk bertarung,” ujar Kaendra pada Leona.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...