
“Tentu saja untuk membunuhmu,” jawab salah satu orang tersebut mewakili yang lainnya.
“Apa Kaendra yang menyuruh kalian?” ujar Levi memastikan.
“Hahahaa, … Berpikirlah sesuka hatimu, setelah itu pergi lah ke neraka!” sahut orang tersebut lagi yang langsung melayangkan serangan pada Levi.
Dan dengan mudahnya Levi menghindari serangan tersebut, di rasa kemampuan Levi sulit untuk di hadapi satu persatu. Mereka pun secara serentak langsung menyerang Levi dari berbagai sisi, terlihat Levi mulai kewalahan. Di sinilah tugas Jack berlaku, dia pun ikut turun tangan untuk menghabisi para musuhnya.
Pertarungan sengit dua lawan dua puluh pun berlangsung alot, hingga Levi pun memutuskan untuk mengeluarkan senjata andalannya yaitu belati kesayangan miliknya. Dengan gerakan super cepat, Levi akhirnya bisa melumpuhkan satu persatu.
Hingga tersisa satu orang yang di biarkan masih tetap hidup oleh Levi. Sebelum membunuhnya Levi mencoba bertanya, “Dimana Kaendra sekarang?”
“Cihhh, … Kenapa kau mencari orang itu di saat orang lain yang menginginkan kematianmu,” ujar orang tersebut yang tersenyum meremehkan Levi.
“Sial, mau mati saja harus bersikap belagu!” umpat Levi yang merasa kesal karena di remehkan oleh orang seperti itu.
“Kau mungkin bisa lolos dari kematian dari kelompok kami, tapi ingatlah setiap saat kematian akan selalu datang menghampirimu,” ujar orang tersebut lagi memberi peringatan kepada Levi secara langsung.
“Jika sudah selesai, maka matilah sekarang!” ucap Levi sembari mengayunkan belatinya tepat di leher orang tersebut.
“Aish, … Sialan, pakaianku menjadi kotor,” umpat Levi dengan kesal.
Sampai suara dering ponselnya terdengar, Levi pun menghela napas panjang sebelum mengangkat telepon yang berasal dari Lucia itu. Sementara Jack mencoba menghubungi anggota klan untuk mengurus mayat dan lokasi itu secepatnya. Jangan tanyakan soal Theo yang sama sekali tidak berani keluar untuk melihat mayat orang-orang tersebut.
“Hallo, Lucia!” sapa Levi begitu menerima panggilan telepon tersebut.
“Kau ada di mana sekarang? Kami sudah menunggumu untuk fitting baju?” tanya Lucia yang langsung pada inti pembicaraan.
“Aku masih berada di perjalanan, sebentar lagi juga sampai di sana!” jawab Levi yang berbohong setengahnya.
“Baiklah, hati-hati di jalan! Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu,” pesan Lucia sebelum menutup sambungan telepon tersebut.
“Tentu saja, kau tak perlu khawatir,” sahut Levi sembari tersenyum tipis.
“Ya sudah, bye sayangku! Muachh, …” ucap Lucia sembari memberikan ciuman virtualnya.
“Bye bye, sayang! Muachhh, …” balas Levi.
Setelah itu, mereka pun memutuskan pembicaraan melalui sambungan telepon itu. Dan tak lama kemudian, anak buah Levi datang untuk membereskan mayat para musuhnya dan memberikan Levi baju ganti yang baru.
“Jack, perintahkan beberapa orang untuk mengawasi pergerakan Paman Richo! Laporkan padaku setiap aktivitasnya,” perintah Levi pada Jack.
“Baik, Tuan muda! Tapi apakah anda mencurigai bahwa mereka ada hubungan dengan Paman anda?” tanya Jack yang penasaran dengan apa yang sedang diu pikirkan Tuan mudanya saat itu.
“Apa salahnya untuk berjaga-jaga,” sahut Levi dengan santainya.
“Ayo, kita pergi sekarang! Calon istriku sudah menunggu dari tadi,” sambung Levi yang tidak bisa membiarkan Lucia menunggunya lebih lama lagi dari ini.
Jack pun lanjut mengantar Levi ke tempat fitting baju pengantinnya. Dan benar saja sesampainya Levi di sana, Lucia sudah menunggu di depan butiknya. Baik Levi, Jack maupun Theon bersikap seolah tak pernah terjadi apapun karena tidak ingin membuat Lucia khawatir.
...****************...
Agenda fitting baju dan segala persiapan untuk pernikahan Levi dan Lucia pun berjalan dengan baik. Kini tersisa satu hari lagi sebelum menjelang hari pernikahan, Levi dan Lucia pun pergi ke toko perhiasan untuk mengambil cincin pernikahan yang sudah mereka pesan.
Mereka memang tidak datang bersama, tapi mereka janjian untuk bertemu di depan toko perhiasan. Saat itu, Lucia datang lebih awal di bandingkan dengan Levi yang masih tetap sibuk untuk mengurus perusahaan ZD Group sebelum dia meminta cuti panjang untuk honeymoon.
“Wanita-ku, Lucia! Kenapa kau lebih memilih pria itu di bandingkan dnegan diriku,” gumam Luke yang masih memperhatikan Lucia dari kejauhan.
Disaat yang bersamaan, tanpa Lucia sadari Luke ternyata mengikutinya. Kini dia sudah berada di Gedung seberang sembari memperhatikan Lucia melalui teleskop. Hingga ketika kedatangan Levi di sana, Luke segera mengeluarkan senjata api laras panjangnya untuk menembak Levi tepat di hadapan Lucia.
“Lucia!” panggil Levi dengan penuh cinta.
“Kak Levi,” balas Lucia sembari melambaikan tangannya pada Levi.
Luke segera menyiapkan senjatanya, sedangkan Levi mulai berjalan untuk menhampiri Lucia yang sudah menunggunya. Awalnya Lucia tersenyum bahagia menyambut kedatangan sang calon suami, tubuhnya seketika gemetar hebat ketika Lucia menyadari ada cahaya merah yang mengarah tepat di kepala Levi.
“Matilah kau!” geram Luke yang bersiap untuk membidik kepala Levi saat itu juga.
“K-kak Levi, _...”
Suara Lucia seketika tertahan, tanpa pikir panjang Lucia berusaha menggerakan tubuhnya untuk berlari menghampiri Levi. Sebisa mungkin Lucia menyembunyikan rasa takut di balik senyumannya. Tidak peduli apa yang terjadi, Lucia langsung memeluk Levi dan berusaha menghalangi apa yang menjadi target bagi sang penembak jitu itu.
“Ada apa?” tanya Levi yang bingung dengan sikap Lucia yang tiba-tiba berubah.
“Gendong aku sekarang,” pintan Lucia sedikit memaksa.
“Ta-tapi tokonya sudah ada di depan,” ujar Levi yang masih tidak menyadari keberadaan penembak jitu di sekitarnya.
“Gendong aku sekarang juga!” teriak Lucia dengan putus asa.
“Ba-baiklah,” sahut Levi yang akhirnya menggendong Lucia di punggungnya.
“Aku harap orang itu melepas tembakannya padaku. Kumohon, jangan terjadi sesuatu yang buruk padaku maupun pada Kak Levi hari ini,” batin Lucia yang menjadikan dirinya tameng agar bisa melindungi Levi dari penembak jitu yang tidak di ketahui.
“Kau melindunginya, Lucia! Bajingan seperti dia tidak pantas untuk mendapat perlindungan darimu, apalagi mendapatkan cintamu,” ujar Luke yang masih berusaha membidik Levi, tapi posisi Lucia terus menghalanginya.
Menyadari cahaya merah itu masih mengikutinya, Lucia hanya bisa terus berdoa dalam hatinya.
“Besok adalah hari pernikahan kami! Apakah ini adalah akhir kisah cintaku dengan Kak Levi, kami hanya bisa bersama sampai di sini saja! Jika memang aku harus tiada hari ini, aku ingin memberitahunya bahwa aku sangat mencintai pria ini,” batin Lucia.
“Aku sangat mencintaimu, Kak Levi!” ucap Lucia berbisik tepat di telinga Levi.
Hingga membuat Levi seketika langsung terdiam dan mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Lucia.
“Tuan muda, menyingkirlah! Ada penembak jitu di sekitar sini!” teriak Jack mengingatkan, tapi detik berikutnya langsung terdengar suara tembakan yang sangat keras.
Dorrr, ….
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...