
“AXLYN!!” teriak Luca spontan.
Benar sekali, lagi-lagi Axlyn mengorbankan dirinya untuk melindungi Luca. Dia menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghentikan lemparan belati yang mengarah pada Luca, sehingga belati tersebut mendarat dan menancap tepat di dada sebelah kirinya.
Seketika itu juga, tubuh Axlyn ambruk sembari memuntahkan arah segar dari mulutnya dan dari luka itu mengalir darah segar yang perlahan membasahi pakaian Axlyn. Luca tidak memperdulikan pertarungan itu lagi, dia segera bergegas menghampiri Axlyn yang sudah tergeletak di atas atas.
Will dan Rayga ingin sekali menghampiri Axlyn, tetapi Matt dan Max terus menyerang yang membuat mereka tidak boleh lengah walau hanya sesaat. Sebab jika mereka lengah, mereka kan semakin terdesak dan bahkan bisa kalah dengan telak, karena kehebatan bela diri mereka memang patut di akui.
Sambil meneteskan air matanya, Luca memeluk tubuh Axlyn yang perlahan mulai terasa dingin. Tak ada satu kata pun yang mampu Luca katakan, hanya isak tangis dan sebuah pelukan yang tak mau lepas dari Axlyn yang bisa Luca berikan berharap bisa menghangatkan tubuh Axlyn kembali.
“Akhirnya aku bisa membalaskan dendam atas kematian kekasihku,” ujar Leona yang tersenyum bahagia.
...****************...
Sementara itu, terlihat jelas di mata Leona tatapan puas melihat Axlyn yang sedang dalam keadaan di ambang kematian. Hatinya benar-benar merasa sangat bahagia, karena pada akhirnya dia bisa membalaskan dendam atas kematian kekasihnya. Bahkan dia tidak segan memanfaatkan keadaan itu untuk membunuh Luca sekaligus.
“Leona kembali mengayunkan pedangnya dan mengarahkannya tepat di dada Luca, tapi beruntungnya Felix datang di saat yang sangat tepat. Felix segera mengambil alih tongkat besi yang tadi di gunakan Luca untuk menahan pedang tersebut.
“Jangan harap ini sudah berakhir, karena masih ada aku di sini!” ujar Felix dengan tatapan tajamnya.
“Sial, datang lagi pengacau entah dari mana,” umpat Leona yang segera menarik pedangnya dan menjaga jarak dari Felix.
“Aahh, … Aku dari markas sebelah! Aku habis memenggal kepala pria yang bernama Kaendra Van Raegan, jadi maklumi jika masih tercium bau darah habisnya tadi tidak sempat mandi,” ujar Felix yang berbohong tentang memenggal kepala, tapi selain itu dia mengatakan yang sebenarnya.
Terlihat Leona sangat terkejut mendengar kabar tentang kematian kakak tertuanya. Namun, hal itu malah di jadikan bahan oleh Felix untuk semakin memprovokasi kemarahan Leona.
Dengan wajah sok polosnya Felix berkata, “Kenapa kau diam? Apakah kau mengenal orang itu? Aaah, … Tentu saja, kau sangat mengenalnya bukankah kalian itu satu geng?”
“Bajingan sialan! Beraninya kau membunuh Kakakku,” umpat Leona penuh kemarahan.
Mendengar bahwa kakak tertuanya sudah terbunuh, Leona pun bertekad untuk membunuh Felix juga sebelum membunuh Luca. Tapi sayangnya, banyaknya pengalaman Felix dalam bertarung membuat Leona sedikit kesulitan untuk melukainya. Ditambah lagi dengan celotehan Felix yang membuatnya semakin sulit untuk berkonsentrasi.
...****************...
Disaat Felix, Will dan Rayga masih berusaha memenangkan pertarungan, sebenarnya Luca ingin segera membawa Axlyn pergi menuju ke rumah sakit terdekat. Akan tetapi, Axlyn yang menyadari bahwa sisa hidupnya tidak lama lagi dia tidak mau pergi kemanapun.
“Bertahanlah! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit,” ujar Luca dengan berlinang air mata. Namun, Axlyn menolaknya dengan menggelengkan kepalanya pelan.
“Kau terluka parah dan harus segera mendapat perawatan dari dokter!” seru Luca dengan perasaan frustasi melihat darah yang terus mengalir dari luka di dadanya.
“Waktuku sudah tidak banyak lagi untuk bersamamu seperti ini. Jadi, tetaplah seperti ‘yah sampai aku tertidur,” pinta Axlyn lirih sembari memberikan senyuman termanisnya.
Luca hanya bisa menangis terisak, menahan perasaan yang teramat pedih di hatinya. Permintaannya, jika pun dia harus mati karena luka tusukan di dadanya dia ingin menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan Luca. Pria yang bisa membuatnya merasakan tentang perasaan yang di sebut cinta dan Pria pertama yang memperhatikan dirinya dengan cara berbeda dari yang lainnya.
“Kenapa, … Hiks, …! Kenapa kau mengorbankan dirimu lagi untuk melindungiku?” tanya Luca di sela isak tangisnya.
“Jangan menangis! Cukup ingat aku di dalam ingatanmu, jangan di hatimu,” sambungnya seraya membelai wajah tampan Luca dengan lembut.
Bukannya berhenti menangis, Luca malah semakin terisak dan sesak di dadanya ketika Axlyn perlahan menutup matanya dan tangan yang baru saja membelai wajahnya terkulai lemah jatuh di tanah. Axlyn benar-benar tertidur di dalam pelukan Luca untuk selamanya. Luca memeluk tubuh Axlyn dengan erat sembari menangis meraung-raung seakan tidak terima dengan kepergian Axlyn.
Tangisan Luca pun kembali mengalihkan perhatian semua orang, tak terkecuali Leona. Saat itulah, tatapan Luca kepada Leona berubah menjadi tatapan haus untuk membunuhnya. Tanpa melepaskan tatapannya pada Leona, Luca perlahan membaringkan tubuh Axlyn dan perlahan mulai bangkit dan mengambil senjata apinya yang dia simpan dengan baik di saku jasnya.
Bahkan Will, Felix maupun Rayga baru kali ini melihat kemarahan Luca yang begitu sangat mengerikan bahkan tatapannya saja sudah berhasil mengintimidasi semua musuhnya. Matt dan Max juga menyadari akan hal itu, saat melihat Leona yang langsung kabur melihat tatapan membunuh yang Luca tunjukan kepadanya.
Menyadari akan terjadi hal buruk jika dia tetap di sana, Leona pun segera melarikan diri dari tempat itu. Will pun juga menyadari arti dari tatapan Luca barusan, dia segera menyerahkan Matt dan Max pada Rayga dan Felix sedangkan dia berusaha menenangkan Luca.
“Felix, biarkan dia dan ambil alih yang di sini!” perintah Will pada Felix.
“Ouh, … Baiklah!” sahut Felix.
Felix segera membantu Rayga, sedangkan Will segera mengejar Luca yang mencoba mengejar kepergian Leona. Namun, kali ini perkataan Will benar-benar tidak di gubris sama sekali oleh Luca. Alhasil, Will juga harus mengikuti Luca yang mati-matian untuk mengejar dan membunuh Leona.
“Luca, berhentilah! Tenangkan dirimu lebih dulu,” bujuk Will.
“Jangan mencegahku maupun menggangguku! Aku masih bisa berpikir dengan tenang dan aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan,” tukas Luca yang kembali melanjutkan pengejarannya.
“Aish, … Sial! Kenapa dia mirip sekali dengan Papahnya ‘sih!” gerutu Will dengan frustasi.
Ternyata Leona berusaha meminta perlindungan dari Luke, dia pergi menuju ke markas besar menggunakan jalan rahasia yang menghubungkan antar markas. Situasi ternyata jauh berbeda dengan markas milik Kaendra dan Leona. Luke dengan mudah menundukkan Rayden dan pasukannya dengan menjadikan nyawa Lucia menjadi taruhannya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...