
“Grandpa tidak mau membelikannya!” seru Regis dan Ryuga serentak.
“Lalu bagaimana dengan Kakek?” tanya Will yang penasaran kenapa kedua anak itu hanya menyebut Noland saja yang tidak mau membelikan mereka mobil.
“Kakek sudah membelikan kami motornya, makanya sekarang kami mau minta mobilnya sama Papah,” jelas Ryuga yang akhirnya mengatakan alasan mereka mendatangi perusahaan.
“Kalau begitu Papah juga tidak mau membelikannya,” tolak Rayden dengan cepat.
“Kalau begitu kami akan memberitahu Mamah tentang rahasia Papah dan Paman Will!” Regis kembali mengeluarkan senjata terbaiknya.
“Kalian ini, …” Rayden benar-benar tak bisa menghadapi kedua anaknya itu hanya dengan sebuah kata-kata.
“Belikan kami mobil atau, _...”
“Okay, Papah belikan! Pesan saja mobil yang kalian sangat inginkan itu dan kirim tagihannya pada Papah,” potong Rayden yang benar-benar tak ingin Zhia tahu tentang perjodohan Luca dengan anak rekan bisnisnya.
“Yesss, … Akhirnya kita juga mendapatkan mobil yang baru!”
Regis dan Ryuga pun berseru kegirangan, karena berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Padahal mereka tidak mendengar rahasia apa yang di bicarakan Papahnya dengan Will. Mereka hanya tidak sengaja mendengar saat Rayden menyuruh Will untuk tutup mulut, terutama dari Zhia.
“Hahahaa, … Selamat dan semangat bekerja Tuan muda agar bisa membayar tagihannya,” ujar Will yang menertawakan penderitaan Rayden sembari memberikan semangat untuk meledeknya. Akhirnya, Rayden mendapatkan balasannya karena mengganggu Will yang sedang sibuk bekerja.
“Sialan kau, Will! Beraninya kau menertawakanku,” umpat Rayden yang menatap kepergian Will dengan kesal.
Sebelum menutup pintunya Will kembali berkata, “Semangat, Tuan muda!”
“Eeeh, … Mau kemana kalian berdua?” tanya Rayden saat melihat kedua putranya mencoba untuk kabur.
“Hehehee, …”
Regis dan Ryuga pun hanya terkekeh kecil, mereka berniat mengikuti Will pergi dari sana setelah berhasil mendapatkan apa yang mereka mau. Tapi Rayden tak mengijinkan keduanya pergi dan malah menyuruh keduanya untuk duduk di sofa.
“Kalian berdua duduk dengan tenang di sana,” perintah Rayden dan keduanya pun menurut.
Kemudian, Rayden berjalan menuju keruang kerjanya. Dia pun mengambil setumpuk besar dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Lalu Rayden juga mengambil sebuah laptop yang biasa dia gunakan untuk bekerja di luar.
“Karena kalian berdua sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan, maka sekarang waktunya kalian untuk bekerja,” ujar Rayden.
“Tapi, Pah!” Regis dan Ryuga berusaha untuk berasalan dan menyanggah perintah Papahnya.
“Tidak ada tapi-tapian! Selesaikan semua dokumen ini sampai selesai waktu bekerja. Jangan kalian pikir hanya bisa meminta saja, kalian juga harus bekerja jika ingin memiliki sesuatu,” ujar Rayden lagi yang tidak ingin mendengar kata bantahan lagi dari kedua putranya itu.
“Cepat kerjakan, jangan hanya melamun seperti itu!” lanjut Rayden yang kini sudah duduk di meja kerjanya sembari mengawasi Regis dan Ryuga.
“Iya, Pah!” sahut Regis dan Ryuga yang mulai bekerja, jika ada yag tidak mengerti mereka pun langsung menanyakannya pada Papahnya.
Rayden memang menyayangi anak-anaknya, dia akan memberikan apapun yang diinginkan oleh mereka. Akan tetapi, sebagai seorang ayah Rayden juga harus mengajarkan kepada anaknya bagaimana caranya untuk hidup mandiri. Mengajarkan yang namanya kerja keras, jika ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Rayden tidak ingin anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang manja dan hanya bisa mengandalkan kedua orang tuanya saja. Sebisa mungkin Rayden menginginkan setiap anaknya sukses dengan kerja keras mereka sendiri.
...****************...
Tanpa terasa matahari sudah mulai terbenam menyebarkan suasana yang menenangkan hati dan pikiran setiap orang yang menikmatinya. Di sebuah taman yang berada di area rumah sakit, terlihat Axlyn sedang duduk di atas kursi rodanya. Sedangkan Luca duduk di bangku taman dengan jarak yang cukup jauh dari Axlyn.
Semua orang yang memperhatikan mereka bisa mengetahui bahwa mata Luca tidak pernah teralihkan dari Axlyn. Namun, Axlyn sendiri tidak menyadarinya dia malah focus memperhatikan seekor kupu-kupu yang sedang terbang bebas di depannya.
Sayapnya begitu indah dan terlihat sangat kuat, meskipun pada kenyataannya sayap itu sangat rapuh dan akan patah jika ada seseorang yang menyentuhnya.
“Suaminya tampan sekali ‘yah,” bisik seorang wanita muda yang tengah berjalan dengan saudara laki-lakinya.
“Istrinya juga sangat cantik, tapi sepertinya dia dari Asia,” bisik balik saudara laki-lakinya yang menganggumi kecantikan Axlyn.
Sontak saja, Luca pun langsung menatapnya dengan tajam ke arah laki-laki itu. Merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam Luca, Laki-laki itu pun segera mengajak saudarinya untuk pergi dari tempat itu. Sedangkan Luca pun perlahan mulai mendekati Axlyn.
“Langit sudah senja! Apa kau masih ingin tetap berada di sini?” tanya Luca pada Axlyn.
“Maaf ‘yah! Kau jadi membuang waktumu, karena harus mengurusku di sini,” ucap Axlyn dengan nada lembutnya bahkan dia juga tersenyum lembut pada Luca.
“Apa kau demam lagi?” tanya Luca yang terkejut melihat perubahan sikap Axlyn yang jauh dari kata biasanya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Axlyn yang akhirnya tersenyum dengan manisnya.
“Jangan membuatku takut,” pinta Luca yang merasa aneh dengan perubahan sikap Axlyn.
“Aku sudah mengetahuinya, besok aku sudah bisa keluar dari rumah sakit, bukan? Tapi kenapa kau bilang masih membutuhkan waktu dua hari lagi?” desak Axlyn yang meminta penjelasan dari Luca langsung.
“Darimana kau tahu? Tidak, siapa yang memberitahumu?” tanya Luca yang bersikap seperti tidak terjadi apapun, padahal sudah ketahuan berbohong.
“Kau tak perlu tahu! Namun, aku juga tidak perlu mengetahui alasanmu berbohong seperti itu padaku dan bahkan menyuruh orang lain berbohong untukmu,” jawab Axlyn.
Luca pun terdiam, dia tidak berani berbicara lagi. Sebab di dalam hatinya dia sedang merasakan malu yang sangat luar biasa tapi dia tidak bisa menunjukkannya di depan Axlyn. Sedangkan Axlyn sendiri juga terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu hati dan pikirannya.
“Bisakah aku keluar dari rumah sakit malam ini?” tanya Axlyn tiba-tiba.
“Memang kenapa? Besok kau juga sudah bisa keluar ‘kok! Kenapa harus mala mini?” tanya Luca balik.
“Mmm, … Kita sudah jauh-jauh datang ke Paris, tapi kita bahkan tidak bisa mengunjungi Menara yang sangat terkenal di dunia itu,” ujar Axlyn sembari memandangi puncak Menara yang dia maksud.
“Menara Eiffel maksudmu?” tanya Luca memastikan.
“Iya, aku ingin pergi dan melihatnya malam ini! Sebab besok aku ingin kembali ke negara K,” jawab Axlyn membenarkan.
“Kenapa kau terburu-buru sekali? Jika kau mau kita bisa tetap berada di sini selama beberapa hari ke depan,” ujar Luca dengan santainya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...