Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Kabar Kematian



Dengan terbunuhnya ketiga pemimpin klan musuh, kemenangan memang di raih oleh pasukan Rayden dan yang lainnya. Namun, sesungguhnya kekalahan yang mereka rasakan karena Lucia terluka dan Axlyn harus mengorbankan nyawanya demi melindungi Luca.


Ryuga yang melihat Kakak sulungnya sedang menangis terisak, dia segera menghampirinya dan mencoba untuk sedikit menghiburnya. Namun, Luca malah memilih pergi untuk menemui jenazah Axlyn.


“Kak, jangan bersedih! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” ujar Ryuga yang belum mengetahui tentang kematian Axlyn.


“Axlyn telah tiada karena menyelamatku!” Luca pun memberitahu perihal kematian Axlyn


“Apa?”


Sontak saja, Ryuga sangat terkejut mendengar kabar itu. Sejauh yang dia tahu bahwa kakak sulungnya menyukai Axlyn dan sekarang Axlyn telah mati demi menyelamatkan kakak sulungnya itu. Satu hal yang pasti akan terjadi, Luca akan selalu menyalahkan dirinya sendiri dan menutup hatinya pada wanita manapun.


“Aku akan pergi untuk menemui jenazahnya! Kau uruslah sisanya disini dan khusus mayat Luke dan Leona, biarkan kedua mayat itu menjadi mayat terakhir yang harus di bereskan,” ujar Luca yang berjala pergi dengan limbung seakan kehilangan arah hidupnya.


“Baiklah, Kak!” sahut Ryuga, meskipun Luca sudah pasti tidak mendengarnya.


...****************...


Beralih pada Rayden, Will dan Levi yang berhasil membawa Lucia ke rumah sakit tepat waktu. Begitu tiba di rumah sakit, beruntung Lucia langsung di tangani oleh dokter professional. Sehingga saat ini Rayden, Will dan Levi menunggu sampai operasi pengeluaran belati dan pengobatan pada perut Lucia.


Takut, cemas, khawatir dan tak menentu terlihat jelas di wajah mereka. Bahkan sampai mereka melupakan tentang medan pertarungan dan memberi kabar pada yang lainnya. Untungnya Regis memberikan kabar terlebih dahulu bahwa semuanya sudah di selesaikan oleh Luca, serta memberitahu keadaan Luca yang sangat terpuruk atas kepergian Axlyn untuk selamanya.


Drrrtt, … Drrrrtttt, ….


Ponsel milik Rayden tiba-tiba saja bergetar, hingga menyadarkan semua orang yang sedang cemas dengan keadaan Lucia. Kemudian, Rayden sedikit menjauhi Will dan Levi sebelum dia menerima panggilan telepon tersebut. Lalu Rayden pun mengambil ponselnya dan begitu melihat nama putra bungsunya yang tertera di layar ponselnya, Rayden pun segera menerima panggilan telepon tersebut.


“Ada apa, Regis? Apakah terjadi sesuatu yang buruk di sana?” cecar Rayden yang sempat melupakan tentang pertarungan itu karena terlalu focus memikirkan keadaan Lucia.


“Tidak terjadi apapun, Pah! Semuanya telah di selesaikan oleh Kak Luca dan kami sedang membereskan sisanya saja,” jelas Regis yang tidak mau papahnya khawatir dengan keadaan di sana.


“Syukurlah, kau membuat Papah takut saja tadi,” ujar Rayden yang akhirnya bisa merasa sedikit lega.


“Ouhya, Pah! Bagaiman keadaan Lucia? Regis dengar bahwa Kak Lucia terkena luka tusukan di perutnya?” tanya Regis yang juga mengkhawatirkan Kakak perempuan satu-satunya.


“Lucia masih dalam perawatan Dokter, kita berdua saja yang terbaik untuk Lucia dan babynya,” jawab Rayden.


“Tentu, Pah! Kami semua pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Kak Lucia dan Babynya,” ujar Regis.


Namun, tiba-tiba Will menghampirinya dan meminta ijin untuk berbicara dengan Regis. Dia berkata, “Tuan, bisakah saya bicara sebentar dengan Regis?”


“Nahh, … Bicara sepuasmu, tapi aku juga harus mendengarnya.”


Rayden pun langsung mengarahkan ponselnya pada Will, setelah mengaktifkan speakernya. Tak mau ambil pusing, Will pun tidak memprotesnya sama sekali. lagi pula pada akhirnya semua orang pasti akan mengetahui tentang apa yang akan dia bicarakan.


“Regis, bagaimana keadaan Luca di sana? Apakah dia baik-baik saja?”


Will pun langsung bertanya tentang keadaan Luca, karena sejak kematian Axlyn terus mengkhawatirkan keadaan mental Luca. Sebab Will sangat mengetahui bagaimana perasaan Luca terhadap Axlyn, meskipun sering kali kedua selalu bertengkar bila bertemu.


“Huwaaa, … Paman Will, keadaan Kak Luca sedang sangat kacau sekarang! Bahkan kami semua tidak ada yang berani mendekatinya sama sekali seakan Kak Luca terus mengeluarkan aura kesedihan yang sangat sangat menyeramkan,” jelas Regis yang terdengar sangat frustasi melihat keadaan kakak sulungnya.


“Apakah dia masih berada di dekat jenazah Axlyn?” tanya Will yang mencoba memastikan dugaannya.


“Benar sekali, Paman Will! Sepertinya Kak Luca merasa sangat kehilangan,” jawab Regis yang juga merasa sedih untuk kakak sulungnya.


Pernyataan Will pun seketika mengalihkan perhatian Rayden dan Levi yang langsung menatap tajam pada Will untuk meminta penjelasan. Mereka berdua benar-benar terkejut begitu mengetahui tentang kematian Axlyn.


“Baiklah, Paman akan segera ke sana!” ujar Will yang mengakhiri pembicaraan itu dan segera menutup sambungan teleponnya.


“Apa yang terjadi dengan Axlyn? Mengapa dia bisa meninggal dunia?” cecar Levi yang segera menuntut penjelasan dari Will, tatapan Rayden pun memiliki arti yang sama.


“Bisakah aku menjelaskannya nanti, setelah keadaan menjadi lebih tenang?” pinta Will yang juga belum siap untuk menceritakannya.


“Pergilah! Tolong tenangkan putraku, jangan biarkan dia terlalu larut dalam kesedihannya,”ujar Rayden yang mengerti maksud permintaan Will, sehingga dia pun langsung menyuruh Will untuk segera menemui Luca.


“Terima kasih, Tuan! Saya pasti akan menjelaskan semuanya setelah ini,” ucap Will.


Setelah itu, Will segera meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan mobil yang sama. Sedangkan Rayden dan Levi hanya bisa menatap kepergiannya dengan penuh kesedihan atas berita duka tentang meninggalnya Axlyn.


Sebagai seorang ayah, Rayden sungguh berada dalam dilema yang sangat besar antara menunggu hasil perawatan putrinya atau menenangkan putranya. Karena itulah dia memberikan salah satu tugasnya sebagai ayah kepada Will supaya dia bisa mewujudkan keduanya.


Dilema juga di rasakan oleh Levi, sebagai atasan dan orang yang selama ini melindungi Axlyn seharusnya dia ‘lah yang harus mengurus pemakamannya. Namun, di sisi lain Levi harus mengutamakan keselamatan istri dan anaknya di atas segala terlebih lagi dia sudah menjanjikan hal itu sejak awal.


Akan tetapi, setidaknya Levi cukup merasa tenang karena di akhir hidupnya Axlyn menemukan seseorang yang menyayanginya dengan sangat tulus seperti Luca. Meskipun setiap pertemuan mereka selalu bertengkar, tapi sebenarnya mereka saling peduli satu sama lain.


Setibanya di lokasi markas Leona, Will langsung encari keberadaan Luca. Berkat di beritahu oleh anak buahnya, Will pun segera menemukan keberadaan Luca yang tengah menangis dalam diam di samping jenazah Axlyn.


Perlahan dia pun berjalan menghampiri Luca dan menepuk pelan pundaknya seraya berkata, “Luca, tidak baik menangis pengorbanannya seperti ini! Lebih baik kita segera mengurus prosesi pemakamannya agar dia lebih tenang dan mendapatkan tempat yang lebih baik di alamnya!”


Luca menoleh menatap Will dengan berlinang air mata, lalu dia berkata, “Emmm, … Paman, aku akan memakamkannya di negara A agar aku bisa selalu mengunjunginya setiap hari!”


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...