Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Pengorbanan



Ternyata orang yang harus Leona hadapi adalah Luca beserta pasukannya. Disini keberadaan tim pemantau sepertinya tidak di perlukan, sehingga Rayga memutuskan untuk ikut bertarung saja bersama dengan Luca dan Will.


“Berani sekali kalian menyerang wilayah kami? Tidak ‘kah kalian takut mati di tempat ini,” ujar Leona dengan sombongnya, tapi Luca hanya menanggapinya dengan tawa sinisnya.


“Bukankah seharusnya pertanyaan itu kau yang menjawabnya sendiri! Tidak ‘kah kalian takut akan kematian yang kami bawa dengan menculik adikku dan juga orangku?” balas Luca.


“Dimana pun tempatnya, jika orang itu membuat masalah dengan kami. Maka tanpa ragu kami akan mendatanginya dengan membawa bendera kematian,” sambung Luca dengan penuh percaya diri.


“Sombong sekali dirimu! Bagaimana kalau kita pastikan siapa yang akan mati di tempat ini?” tantang Leona yang ternyata telah menyiapkan tim penembak yang bersembunyi di dekat mereka.


“Hahaaa, … Kau pikir siasat murahan seperti ini tidak akan terpikirkan olehku! Kau salah besar, Nona! Seharusnya sejak awal kau bersembunyi saja di dalam kamarmu,” ujar Luca yang malah tertawa dengan perkataan Leona.


Dor, … Dorr, …. Dorrr, ….


Tak lama kemudian terdengar suara tembakan yang saling bersahutan. Awalnya Leona berpikir suara tembakan itu berasal dari anak buahnya, tapi dia salah besar karena suara tembakan itu berasal dari tim pemantau yang di pimpin oleh Rayga. Alhasil, tim yang di tugaskan Leona mulai berguguran membuat yang lainnya panik.


Karena tidak diperlukan untuk tim pemantauan, Rayga dan timnya pun menjadi tim assassin yang membunuh semua anak buah Leona yang bersiap untuk menembak Luca dan pasukannya dari jarak jauh. Namun, biasanya assassin menggunakan pedang dan belati, Rayga dan timnya malah menggunakan senjata api untuk menghabisi mereka tanpa perlu membuang tenaga dengan bertarung.


“Apa kau melihatnya sekarang? Sikap sombong memang tidak baik bagi siapapun, sebab kau akan mati bahkan sebelum bertarung,” ujar Luca yang semakin memprovokasi kemarahan Leona.


Awalnya Leona hanya menunjukan raut wajah kemarahan, tapi tiba-tiba dia tersenyum penuh arti seraya berkata, “Kau benar sikap sombong memang tidak baik bagi siapapun, karena mungkin kau akan kehilangan dua wanita yang paling berarti di dalam hidupmu.”


“Dimana kau menyembunyikan Axlyn dan Lucia? Dimana kau menyembunyikan mereka, Hah” bentak Luca dengan geram dan tatapan tajamnya.


“Hahahaaa, … Kau pikir aku akan memberitahu dimana mereka sekarang? Tapi satu hal yang pasti mereka sedang berada dalam perjalanan menuju kematian. Bwahahahaa, ….” Leona tertawa puas melihat Luca yang malah terprovokasi oleh perkataannya.


“Luca, jangan hiraukan perkataannya! Bagaimana kalau kita tutup mulut wanita jalan itu secepatnya agar tidak mencemari pendengaran kita, bahkan mataku juga sudah sakit hanya sekadar melihatnya.”


Beruntung ada Will yang selain bertugas untuk menaklukan musuh, dia juga di beri tugas khusus oleh Rayden agar bisa mengawasi dan mengendalikan Luca dan Rayga agar tidak terlalu menggila. Alhasil, Luca pun bisa meredakan amarahnya dan kembali bersikap tenang seperti biasanya.


“Kau benar, Paman! Tidak seharusnya aku memberikan umur lebih lama lagi untuk wanita ****** sepertinya,” ujar Luca yang tersenyum mengejek Leona.


“Dasar bajingan sialan! Matilah kalian berdua di tanganku!” seru Leona.


Dia pun mulai menyerang Luca dengan menggunakan sebilah pedang yang tertulis namanya, sedangkan Matt dan Max langsung menyerang Will secara bersamaan. Anak buah mereka pun ikut bertarung dalam pertarungan sengit itu.


Sesaat Luca terus terdesak oleh semua serangan mematikan Leona, karena dia tidak memiliki pedang yang bisa dia gunakan untuk serangan balik. Begitu juga dengan Will yang sedikit kawalahan menghadapi Matt dan Max yang kemampuan bela dirinya cukup baik.


Namun, keadaan mulai berbalik ketika Luca menemukan sebuah potongan besi ketika dia berhasil di jatuhkan oleh Leona. Walau hanya sebuah potongan besi, tapi berada di tangan Luca bisa menjadi senjata yang lebih mematikan di bandingkan pedang apapun di dunia.


Pertarungan sengit antara Luca dan Leona pun terus berlanjut.


Beralih sebentar pada tim assassin yang di pimpin Rayga. Setelah berhasil membunuh pasukan bayangan milik Leona, Rayga pun menyusuri setiap sudut markas itu untuk mencari keberadaan Lucia dan Axlyn. Namun, setelah berkeliling Rayga tidak menemukan Lucia di manapun sampai dia menemukan sebuah pintu yang mengarah ke ruangan bawah tanah.


“Hay, haruskah kita masuk ke dalam? Siapa tahu ada harta karun yang sangat berharga, lumayan untuk kalian kalau aku sudah banyak harta karun sejak masih di dalam perut Mamah,” ujar Rayga yang seperti biasanya selalu mengajak bergurau teman setimnya.


“Kami juga tidak terlalu memerlukannya, karena gaji bulanan dari Papahmu sudah sangat cukup untuk menghidupi lima istri dan sepuluh anak,” sahut salah satu anak buahnya yang juga hanya sebatas candaan.


“Sudahlah, ayo kita masuk saja!” ujar Rayga yang memimpin masuk dan anak buahnya mengikutinya di belakang.


Betapa terkejutnya Rayga ketika memasuki ruang bawah, dia langsung melihat Axlyn dalam keadaan terikat di kursi dengan tubuh yang penuh dengan luka. Perasaan Rayga sedikit lega ketika mengetahui bahwa Axlyn masih bernapas bahkan masih sadar, meskipun tubuhnya sangat lemas.


“Kak Axlyn, apa yang terjadi padamu? Dimana Kak Lucia? Apakah Kak Lucia juga berada di tempat ini?” cecar Rayga sembari melepaskan tali ikatan yang membelenggu tangan dan kaki Axlyn.


“Lucia tidak berada di sini, dia ada di markas utama dan menjadi tawanan Luke. Kalian selamatkan ‘lah dia terlebih dahulu,” jawab Axlyn dengan lirih.


“Tidak apa, Papah dan Kak Levi sedang menuju ke sana. Kak Lucia pasti akan baik-baik, sebaiknya kita pergi dari sini terlebih dahulu,” jelas Rayga sembari membantu Axlyn berjalan keluar dengan cara memapahnya.


Begitu keluar dari ruang bawah tanah, Axlyn langsung melihat pertarungan sengit yang sedang berlangsung antara pihak Luca dan pihak Leona yang sama-sama kuatnya. Awalnya Rayga ingin menemani Axlyn, tapi dia tidak tega melihat keadaan Will yang semakin terpojokkan oleh Matt dan Max.


Menyadari Will lebih membutuhkan bantuan dari pada dirinya, Axlyn pun menyuruh Rayga untuk segera membantunya. Rayga pun segera membantu Will, sedangkan Axlyn yang tidak memiliki tenaga lagi hanya bisa memperhatikan pertarungan sengit itu ambil bersembunyi.


Awalnya Luca, Will maupun Rayga masih bisa menghadapi pasukan Leona dengan baik, meskipun cukup sulit untuk segera menyelesaikan pertarungan itu. Hingga tiba-tiba Leona mengeluarkan kemampuan rahasianya ke arah Luca. Yaitu mengecoh lawan untuk menghindari serangan pedangnya, sementara diam-diam Leona melemparkan belati tersembunyi yang berada di balik pakaiannya.


“Aaakhhh, … Huugh, …” Suara rintihan lirih dari Axlyn dan muntahan darah segar dari mulutnya seketika mengalihkan perhatian Luca, Will dan semua orang.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...