
“Sial, bagaimana bisa mereka menghindarinya di detik terakhir,” umpat Luke.
Ternyata Luke benar-benar berniat untuk menembak Lucia, perasaan cintanya sungguh membutakan mata hatinya oleh rasa cemburu. Karena di saat kematian hampir menemuinya Lucia masih tetap saja ingin melindungi Levi dengan mengorbankan nyawanya sendiri.
Oleh sebab itulah, Luke tetap menarik pelatuknya meskipun peluru itu menembus kepala Lucia ataupun Levi. Beruntungnya, Levi memiliki respon yang sangat cepat sehingga dia bisa langsung dapat menghindari peluru itu begitu Jack berteriak memperingatinya.
Jack pun langsung berlari ke dalam Gedung dimana suara tembakan itu berasal untuk menangkap pelakunya. Tapi sayangnya, Jack malah bersimpangan dengan Luke tepat di depan Gedung. Tanpa ada perasaan curiga apapun, Luke dengan mudahnya melewati Jack, Levi dan Lucia.
Sementara itu, Levi sibuk memeriksa keadaan Lucia yang sedikit shock atas kejadian barusan. Levi langsung bernapas lega ketika tidak ada satu pun luka di tubuh wanita yang sangat dia cintai itu.
“Luci, kau tidak apa-apa? Apakah kau terluka?” tanya Levi dengan perasaan takut, cemas yang bercampur aduk dengan yang lainnya.
“A-aku tidak apa-apa! Aku hanya sedikit terkejut, kupikir tadi aku akan mati di gendonganmu,” ujar Lucia dengan polosnya tanpa dia sadari perkataannya barusan bagaikan anak panah yang sangat tajam yang langsung melesat ke lubuk hati Levi.
Dalam tangisnya, Levi langsung meraih tubuh Lucia ke dalam pelukannya. Sungguh Levi sangat takut kehilangan Lucia, jika saja tadi dia terlambat menghindarinya. Maka sepanjang hidupnya Levi akan menyesali kejadian pada hari ini.
“Kenapa kau lakukan itu? Bagaimana kalau aku terlambat menyadarinya sedetik saja? aku tidak akan pernah bisa membayangkan hidupku tanpa dirimu, Lucia!” ujar Levi di sela isak tangisnya.
“Tapi kau berhasil melindungiku, sesuai dengan apa yang kau janjikan pada keluargaku,” sahut Lucia yang tidak ingin Levi berlarut-larut memikirkan masalah tadi.
“Jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi!” seru Levi menekankan pada Lucia.
“Lebih baik kau memberitahuku kalau ada bahaya, daripada kau harus diam-diam melindungiku seperti tadi! Lebih baik aku yang mati karena melindungi mu, di bandingkan jika harus melihatmu tiada saat melindungi ku,” sambung Levi dnegan perasaan putus asa.
“Baiklah, aku tidak akan melakukan hal itu lagi untuk ke depannya!” janji Lucia yang tidak mau membuat Levi terus merasa khawatir tentangnya.
“Kita akan menikah besok! Jangan lakukan hal-hal berbahaya yang bisa melukaimu,” ujar Levi lagi yang kembali memeluk Lucia dengan eratnya.
“Baiklah, tapi aku harap kau juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan melakukan hal yang berbahaya, karena kita akan menikah besok,” ujar Lucia yang meminta Levi untuk menjanjikan hal yang sama dengannya.
Percakapan keduanya pun terhenti ketika Jack datang menghampiri mereka untuk melapor. Jack memang menemukan senjata yang pembunuh itu gunakan, tapi dia tidak melihat siapapun ada di sana. Selain itu, Jack juga menemukan setangkai mawar merah dengan secarik kertas yang bertuliskan sebuah ancaman.
“Tuan muda, saya tidak bisa menangkap orangnya. Tapi saya menemukan ini beserta dengan senjata yang pembunuh itu gunakan,” ujar Jack.
“‘Kejutan, sebelum hadiah utama untuk pernikahan kalian berdua!’. Ini adalah surat ancaman,” ujar Levi yang langsung menyadarinya.
“Bunga itu, dia pasti orang yang sama yang telah mengirimiku bunga mawar merah beberapa waktu yang lalu!” seru Lucia yang teringat jelas dengan kiriman bunga yang tidak pernah dia tahu siapa pengirimnya.
“Periksa cctv yang ada di Gedung itu,” perintah Levi.
“Baik, Tuan muda!” sahut Jack yang langsung pergi untuk melaksanakan perintah.
Selepas kejadian itu, Levi dan Lucia pun sama-sama tidak membahasnya lagi. Mereka pun tetap menuju ke tujuan awal mereka yaitu untuk mengambil cincin pernikahan. Akan tetapi, malam harinya baik Levi maupun Lucia sama-sama mengadakan rapat rahasia dengan anggota klan masing-masing.
Beralih pada Lucia yang diam-diam mendatangi para tahanan di malam pernikahannya, tapi bukan Luca namanya kalau tidak mengawasi adik perempuan. Awalnya Luca hanya ingin bicara beberapa hal pada Lucia, dia pun pergi menuju kamar Lucia untuk menemuinya. Tapi siapa sangka Luca malah melihat adiknya pergi secara diam-diam, hingga dia pun terpaksa harus mengikutinya.
“Lucia, kau mau kemana malam-malam begini?” tanya Luca yang seketika menghentikan langkah kaki Lucia.
“Kak Luca,” ujar Lucia yang terkejut dengan keberadaan Luca di sana.
“Lucia, kau tidak sedang mencoba melarikan diri di malam sebelum pernikahanmu ‘kan? Ingatlah, kau sendiri yang memaksa untuk tetap menikah dengan Levi, tapi kenapa kau sekarang mencoba melarikan diri?” cecar Luca dengan tatapan menyelidik pada sang adik.
“Benarkah? Kupikir kau mencoba melarikan diri dari pernikahanmu,” ujar Luca yang ternyata sudah salah paham pada adiknya.
“Lalu kenapa kau ingin menemui mereka?” tanya Luca lagi mengubah topik pembicaraan.
“Aku ingin memastikan sesuatu,” jawab Lucia yang membuat Luca semakin penasaran saja.
“Percuma saja, karena aku sudah membunuh mereka! Tidak ada informasi satu pun yang bisa membantu kita untuk menemukan siapa dalang utamanya,” jelas Luca yang terpaksa harus jujur kepada Lucia.
“Jadi, seperti itu!” gumam Lucia raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih.
“Ada apa?” tanya Luca yang mulai mencemaskan adiknya.
“Kak, jujur saja pernikahan ini hampir saja tidak akan pernah terjadi. Jika aku ataupun Kak Levi tidak selamat dari penembak jitu hari ini,” ujar Lucia yang akhirnya memberitahu sang Kakak mengenai kejadian yang mereka alami di depan toko perhiasan.
“Kau tenang saja! Apapun yang terjadi, kami semua akan melindungimu!” tukas Luca yang langsung memeluk tubuh adiknya dengan begitu erat.
“Aku juga akan melindungi kalian semua dengan kekuatanku,” batin Lucia yang tidak mau orang-orang yang di cintainya berjuang sendirian untuk melindunginya.
“Mereka mulai berani menyentuh adikku secara terang-terangan! Awas saja, nantikan pembalasan dariku setelah ini,” batin Luca yang yang tidak akan melepas kejadian itu begitu saja.
...****************...
Disisi lain, Levi pun sedang menemui Axlyn dan seluruh anggota klannya. Meskipun besok adalah hari pernikahannya tidak membuat Levi untuk bersikap santai terlebih lagi nyawa Lucia hampir terancam tepat di depan mata kepalanya sendiri.
“Jack, kau dapatkan informasi yang aku minta?’ tanya Levi pada Jack.
“Tidak ada pergerakan apapun dari Tuan Richo. Jadi, bisa di pastikan bahwa kejadian hari ini tidak ada hubungannya dengan beliau,” jelas Jack.
“Kejadian hari ini? Apakah terjadi sesuatu pada anda Tuan muda?” tanya Axlyn spontan, meskipun hatinya sudah ikhlas melepaskan tapi tetap saja Axlyn masih memperdulikan Levi.
^^^Bersambung, ....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...