
Permainan pun dimulai, baik Noland maupun Kakek Roman saat itu juga takjub dengan kemampuan Rayga. Pasalnya baru beberapa menit yang lalu mereka mengajarkan tentang golf pada Rayga, tapi sekarang anak itu malah sudah seperti pemain professional saja.
Pada akhirnya Rayga benar-benar memenangkan taruhannya, dia pun langsung menunjukan mobil dan motor yang dia inginkan pada Noland dan Kakek Roman.
“Yesss, … Aku pemenangnya! Jangan lupa, mobil dan motor harus sama persis dengan foto yang Rayga perlihatkan tadi,” ujar Rayga yang terlihat sangat bahagia, jauh beda dengan raut wajah Noland dan Kakek Roman yang masih takjub dengan kemampuan Rayga.
“Yuhuuuu, … Grandma! Mamah! Rayga akan mendapatkan mobil dan motor sport keluaran terbaru!” seru Rayga yang langsung berlari kegirangan menuju ke arah Julia dan Zhia.
Julia dan Zhia pun hanya bisa tertawa melihat kelakuan Rayga. Mereka bahkan tidak menganggap serius perkataan Rayga, karena biasanya memang dia suka berkoar-koar seperti itu.
Begitu sampai Rayga pun langsung menempatkan dirinya duduk di antara dua wanita vcantik kesayangannya itu. Terlihat Noland dan Kakek Roman juga sedang berjalan menuju ke arah dengan raut wajah yang terlihat muram.
“Apa yang barusan kau katakan, Rayga?” tanya Zhia yang menganggap bahwa perkataan putranya hanya sebuah candaan seperti biasanya.
“Iya, Mah! Grandpa akan membelikan Rayga sebuah mobil sport keluaran terbaru, sedangkan Kakek yang aan membelikan motor sportnya,” jelas Rayga dengan raut wajah berbinar-binar.
“Kau serius?” tanya Julia memastikan.
“Tentu, Grandma! Soalnya Grandpa dan Kakek Roman kalah taruhan saat bermain golf tadi. Jadi, sebentar lagi koleksi mobil dan motor sport Rayga akan bertambah lagi,” jawab Rayga yang masih terlihat kegirangan.
“Benarkah seperti itu, sayang?”
Kali ini Julia langsung menanyakan pada orang yang bersangkutan yaitu Noland yang kini sudah berada tepat di depannya dengan Kakek Roman di sampingnya. Mendapat tatapan tajam dari istrinya, Noland pun berusaha memalingkan wajahnya. Dia tidak berani menjawabnya, sehingga Kakek Roman ‘lah yang menjawabnya.
“Benar, Rayga menang taruhan yang di buat oleh suamimu ini.” Kakek Roman membenarkan.
“Kali ini Rayga tidak bohong maupun bercanda, Mah!” seru Rayga.
“Maaf, sayang! Aku pikir Rayga akan kalah kerena tidak pernah belajar bermain golf. Tapi siapa sangka dia langsung menjadi bisa menguasainya dengan baik dalam sekali di ajari,” ucap Noland yang terpaksa harus meminta maaf untuk sedikit meredakan amarah Julia.
“Astaga, kamu ‘kan tahu sendiri bahwa cucumu ini adalah anak Cano! Tentu saja, dia akan dengan mudah mempelajari sesuatu karena dia juga anak genius,” ujar Julia yang tak mampu berkata apapun lagi.
“Mah, Rayga juga anak Zhi juga,” sela Zhia yang merasa tidak di anggap sebagai ibunya.
“Tentu saja, Zhi! Tapi gen dari Cano yang selalu mendominasi anak-anakmu ini,” sahut Julia yang membenarkan perkataan Zhia.
“Sudahlah, ini cuma taruhan kecil saja!” ujar Kakek Roman menyuruh Julia untuk tidak terlalu memikirkannya.
“Rayga, sesuai dengan taruhan yang kita sepakati! Aku akan membelikanmu motor yang kau inginkan,” lanjut Kakek Roman yang akan menepati janji yang telah dia buat.
“Terima kasih, Kakek!” ucap Rayga yang langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Kakek Roman.
“Grandpa juga akan membelikan mobil yang kau mau itu,” ujar Noland pelan, karena masih takut dengan tatapan istrinya.
“Yeay, .., Thank you so much, Grandpa!” Rayga pun langsung beralih memeluk Noland.
Setelah itu, Noland dan Kakek Roman pun langsung memesan mobil serta motor yang di tunjukan Rayga. Kemudian, mereka melanjutkan pergi ke sebuah restaurant untuk berbincang-bincang sembari menunggu makan siang.
...****************...
Sementara di perusahaan BLOUSHZE Group, Rayden dan Will sedang sibuk-sibuknya dengan semua dokumen yang sudah menumpuk di ruangan masing-masing. Namun, karena sudah terbiasa menyerahkan sebagian besar pekerjaannya kepada Luca. Rayden pun langsung merasa pusing begitu melihat banyaknya dokumen yang sudah menumpuk di atas meja kerja.
Akhirnya Rayden pun teringat dengan putra kebanggaannya itu, dia mencoba menghubungi Luca tetapi tidak sekalipun di angkat. Karena merasa sedikit bosan dengan pekerjaannya dan juga ingin mengetahui bagaimana keadaan Luca di Paris, hingga panggilan telepon darinya tidak ada satu pun yang di angkat. Rayden pun menyuruh Will untuk datang ke ruangannya dengan alasan Will di suruh membawa kopi dan beberapa camilan.
“Tuan muda, ini saya Will!” seru Will sembari mengetuk pintu.
“Kenapa Tuan muda harus menyuruhku membawakan semua ini? Bukankah sudah ada orang bertugas untuk melakukan pekerjaan ini?” cecar Will yang merasa sedikit kesal, karena pekerjaannya yang masih sangat banyak menjadi terganggu.
“Aku sengaja melakukannya, karena aku ingin mengajakmu bersantai sebentar,” ujar Rayden dengan santainya.
Kemudian, Rayden pun beranjak dari kursi kerjanya dan beralih duduk di sofa yang ada di sana. Sedangkan Will masih berdiri dengan wajah kesalnya melihat kelakuan dari Tuannya yang seperti anak kecil. Padahal pekerjaan mereka sedang banyak-banyaknya, tapi Rayden malah mengganggu waktunya.
“Duduklah! Lupakan dulu tentang pekerjaan yang sangat membosankan itu,” perintah Rayden yang memaksa Will untuk ikut duduk menemaninya bersantai.
“Tuan muda, seharusnya anda tidak boleh bersantai seperti ini? Banyak sekali dokumen yang harus kita selesaikan hari ini juga,” ujar Will dengan wajah putusnya.
“Apa yang terjadi dengan Luca di sana? Kenapa dia tidak mengangkat satu pun panggilan dariku?” tanya Rayden yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.
“30 menit yang lalu, dia masih menghubungi ‘kok,” jawab Will.
“Tapi 10 menit yang lalu, dia tidak menerima panggilan telepon dariku,” ujar Rayden menegaskan.
“Mungkin dia sedang buang air besar atau melakukan hal lainnya,” sahut Will sekenanya dia mengira.
“Kapan dia bisa kembali ke sini?” tanya Rayden lagi.
“Katanya sekitar dua atau tiga hari lagi, sampai Axlyn di ijinkan keluar dari rumah sakit dan bisa melakukan perjalanan jauh dengan pesawat,” jawab Will lagi.
“Kenapa Tuan muda terus menanyakan hal yang tidak penting!” lanjut Will yang semakin merasa kesal, karena waktunya terbuang dengan percuma.
“Bagaimana dengan kondisi Felix?” tanya Rayden yang lagi-lagi mengalihkan topik pembicaraan.
“Apa Tuan muda tidak mengetahuinya juga? Felix sudah kembali kerumahnya kemarin sore. Lukanya sudah sangat membaik dan sudah mulai bisa beraktivitas seperti biasanya. Apakah masih ada yang ingin Tuan muda tanyakan lagi?” jelas Will sembari menahan emosinya yang semakin memuncak.
“Tapi jangan tanyakan keadaanku, karena saya sedang tidak baik-baik saja!” lanjut Will dengan penuh penekanan di setiap katanya.
“Ya ampun, Will! Kau sensitive sekali ‘sih hari ini,” ujar Rayden masih dengan gaya santainya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...