Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Drama Pengantin Baru



“Ehmm, … Dia wanita yang hampir menikam Axlyn saat di basement,” jawab Luca yang menghindari tatapan Axlyn padanya.


“Iya, … Wanita itu memang selalu mengincar nyawaku, namanya Leona ketua Shadow Wolf! Dia dan klannya lebih berbahaya dari pada klan White Wolf,” jelas Axlyn tatapannya berubah sendu seakan menyiratkan sesuatu yang coba dia lupakan.


“Kita akan membahasnya nanti saja, karena aku harus bersiap sekarang!” ujar Felix yang tidak mempunyai banyak waktu.


“Aku akan mengambil gambarnya dan untuk pria yang datang bersama, Luca yang akan mengurusnya. Cari tahu siapa pria itu dan kalau bisa perjelas gambarnya,” lanjut Felix kembali memberi perintah sebelum dia pergi.


“Aku usahakan,” sahut Luca yang tidak begitu yakin.


“Kalau begitu aku pergi sekarang,” pamit Felix.


Mereka lalu kembali focus pada tugasnya, hingga tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu. Luca akhirnya berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya, dia sedikit meregangkan otot tubuhnya yang terasa sangat kaku karena semalaman berada di depan computer.


Tak terasa pagi mulai menjelang, dia melihat Regis dan Axlyn yang sepertinya ketiduran karena ingin menemaninya begadang.


“Akhirnya selesai juga! Sepertinya dia tertidur, karena menungguku di sini,” ujar Luca sembari tersenyum saat melihat adik bungsunya tengah tertidur lelap.


Lalu tatapan Luca terhenti ketika melihat Axlyn yang juga tengah tertidur di sana. Luca terus memperhatikan Axlyn, hingga dia menyadari bahwa wanita itu masih mengenakan gaun yang robek. Padahal ruang pemantauan di penuhi dengan pendingin ruangan dan Axlyn masih bisa tertidur dengan nyenyak nya.


“Bagaimana bisa wanita itu bisa tertidur dengan nyenyaknya di ruangan yang dingin seperti ini. Seolah dia sudah terbiasa dengan rasa dingin yang menusuk sampai tulang ini,” gumam Luca yang perlahan berjalan mendekati Axlyn.


Kemudian, Luca pun melepaskan jas yang dia kenakan saat itu dan langsung menutupi tubuh Axlyn. Beberapa saat Luca terus memperhatikan raut wajah Axlyn yang tengah tertidur itu, sampai dia tersadar dari aksinya itu ketika ponsel di saku celananya bergetar.


“Hallo, Paman Felix! Ada apa? Apakah terjadi masalah di sana?” cecar Luca dengan berbagai pertanyaan begitu dia menerima panggilan tersebut.


“Tidak terjadi apapun di sini! Aku hanya ingin memastikan apakah semuanya sudah beres di tempatmu?” tanya Felix balik.


“Aku sudah menyelesaikan semuanya! Sekitar ada dua puluh tempat yang aku palsukan untuk mengecoh mereka. Bagaimana dengan keadaan di tempat Paman?” ujar Luca menjelaskan sembari mencari informasi sekaligus.


“Sesuai rencana, kami juga sudah berada di lokasi yang di tunjukan oleh chipmu itu! Begitu juga dengan pasukan Will, dia sudah berada di salah satu tujuan yang kau palsukan untuk bulan madu Levi dan Lucia,” jelas Felix yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu yang lain pada Luca, tapi masih ada keraguan di hatinya.


“Baguslah kalau begitu! Sekarang tinggal tersisa mengirim Levi dan Lucia ke lokasi yang mereka inginkan untuk bulan madunya,” ujar Luca.


“Namun, ada sedikit masalah! Bisakah kau membantu kelompok Will?” pinta Felix yang tak langsung mengatakan maksudnya, hingga membuat Luca curiga bahwa itu akan berakhir buruk untuknya.


“Apa itu? Jika permintaan Paman tidak masuk akal, lebih baik cari orang lain saja untuk melakukannya!” ujar Luca nada ketusnya sedikit keluar.


“Tenanglah, kau hanya perlu menjadi umpan untuk mengarahkan mereka ke tempat Will berada. Bukankah itu pekerjaan yang sangat mudah?” jelas Felix dengan santainya.


“Baiklah, jika memang itu yang di perlukan. Maka aku akan melakukannya,” ujar Luca yang menyetujui permintaan Felix.


“Bagus! Menyamarlah sebagai Levi dan bawa juga Axlyn, buat dia terlihat seperti Lucia. Kemudian, terbanglah ke Paris karena kelompok Will sudah berada di sana.”


Setelah Luca menyetujui permintaannya, barulah Felix menjelaskan maksudnya sebenarnya. Seketika itu juga, Luca kehabisan kata-kata sebab Felix langsung menutup sambungan teleponnya secara sepihak begitu dia menyelesaikan perkataannya.


“Aish, … Dasar Paman Felix! Bagaimana aku harus mengatakan tentang ini padanya,” gerutu Luca yang langsung uring-uringan.


“Bagaimana ini? Apakah aku serahkan tugas ini pada Regis saja, tapi bagaimana kalau rencananya sampai gagal? Sial, aku benar-benar terjebak sekarang!” umpat Luca pada akhirnya.


Luca terus mencari cara untuk memberitahu pada Axlyn tentang permintaan Felix yang menyuruh mereka untuk menyamar sebagai Levi dan Lucia. Hingga matahari sudah sepenuhnya terbit di langit yang terlihat sangat cerah hari itu.


...****************...


Sementara Lucia sudah mulai membuka begitu cahaya matahari menerpa wajahnya, dia tersenyum bahagia begitu dia menatap wajah tampan suaminya yang tertidur lelap di sampingnya.


“Apa? Pagi!” seru Levi yang langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna begitu mendengar ucapan selamat pagi dari istrinya.


“Jadi, ini bukan karena kau sudah selesai mandi tapi karena hari memang benar-benar telah berganti begitu?” lanjut Levi yang masih tidak percaya bahwa dia telah melewatkan malam yang dia tunggu-tunggu begitu saja.


“Ini benar-benar sudah pagi, sayang! Hari pun sudah berganti, sebaiknya kita bangun sekarang,” jelas Lucia memberitahu kebenarannya.


“Apa? Kenapa kau tidak membangunkan ku semalam?” tanya Levi yang terlihat sedih dan putus asa.


“Kau terlihat lelah sekali semalam. Jadi, aku tidak tega membangunkan tidurmu yang begitu lelap,” jawab Lucia seraya membelai lembut wajah Levi.


“Kalau begitu kita lakukan saja sekarang!” seru Levi.


“Hmmm, …?” Lucia tampak bingung dengan perkataan Levi.


“Malam pertama yang aku lewatkan,” jelas Levi dengan raut wajah yang terlihat begitu menggemaskan di mata Lucia.


“Tapi aku tidak mau, lebih baik kita cepatlah bersiap,” ujar Lucia sembari mengecup pipi Levi sekilas.


“Aku tidak mau,” sahut Levi.


“Benarkah kau tidak mau berbulan madu denganku? Apa kau yakin?” goda Lucia, karena tidak akan mungkin akan menolaknya.


“Tidak! Tentu saja, aku sangat mau pergi honeymoon denganmu,” ujar Levi yang langsung bangkit dari tempat tidurnya.


“Aku akan segera bersiap sekarang juga,” lanjutnya sembari berlari ke arah kamar mandi.


Sementara Levi membersihkan dirinya, Lucia pun kembali mengatur koper yang akan mereka bawa. Setelah selesai membersihkan diri masing-masing, Levi dan Lucia pun turun menuju ke restaurant yang berada di hotel untuk sarapan bersama sebelum mereka pergi.


Levi pun sedikit terkejut ketika melihat Will dan beberapa orang lainnya tidak ikut sarapan bersama mereka. Tidak berhenti di situ saja, dia kembali di kejutkan dengan keberadaan Axlyn yang penampilannya hampir sama persis dengan Lucia, sementara Luca terlihat seperti dirinya.


“Ada apa ini? Kenapa mereka terlihat seperti kita?” tanya Levi berbisik pada Lucia.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...