
“Lihatlah pulau yang di sana itu!” lanjut Lucia menunjuk salah satu pulau yang dapat mereka lihat dari kapal pesiar mereka.
“Ada dengan pulau itu?” tanya Levi yang sebenarnya tidak terlalu memperdulikannya.
“Di pulau itulah kita akan tinggal untuk sementara waktu,” jawab Lucia.
“Hanya kita berdua? Mereka tidak akan ikut ‘kan?” tanya Levi memastikan sembari menunjuk para kru kapal pesiar yang sedari tadi mengawasi mereka.
“Tentu saja bukan hanya kita berdua, karena sudah pasti aka nada para penduduk sekitar yang telah lama menetap di pulau itu. Tapi setidaknya kita bisa hidup berdua saja di rumah kita,” jelas Lucia yang tidak ingin membuat Levi salah paham lagi.
“Kalau begitu aku tidak masalah,” sahut Levi yang terlihat sangat bahagia.
Lucia pun tersenyum melihat perubahan sikap dari Levi yang jauh berbeda dari sebelum. Seakan Levi sedang menunjukan sisi lainnya yang tidak semua orang tahu dan seolah itu hanya di tunjukan kepadanya.
Dalam hatinya Lucia berkata, “Kenapa sifat Kak Levi sekarang sangat jauh berubah dengan yang dulu? Dulu dia selalu menunjukan sisinya yang dingin dan seolah tidak peduli dengan apapun. Namun, sekarang dia malah selalu bersikap manja padaku layaknya anak kecil, semakin perhatian bahkan sampai hal terkecil yang tak pernah aku pikirkan.”
“Tapi aku menyukai Kak Levi yang sekarang! Kak Levi yang hanya menatapku, hanya perhatian padaku dan hanya mencintaiku,” lanjut Lucia lagi di dalam hatinya.
“Luci, ada apa?” tanya Levi yang melihat Lucia melamun sambil terus menatapnya.
“Aaah, … Tidak apa-apa,” sahut Lucia yang langsung mengalihkan perhatian dengan kembali focus pada makanannya.
Selesai makan, Levi dan Lucia pun memutuskan untuk bersantai sembari menunggu sampai kapal menepi di pulau yang akan menjadi tujuan mereka.
Awalnya, Lucia dan Levi hanya ingin berbaring sebentar. Namun, siapa sangka mereka malah ketiduran dengan lelapnya saat sedang bersantai di salah satu tempat yang tersedia di kapal itu. Sebagai informasi kapal pesiar yang di naiki Lucia dan Leci adalah kapal pesiar bernama Yacht Infinitas karya E. Kevin Schopfer.
...****************...
Sementara itu, di kediaman Xavier terlihat Zhia dan Julia sedang menikmati acara minum teh di sore hari. Hingga tiba-tiba Ryuga datang dan duduk bersama mereka, Zhia pun menawarkan Ryuga untuk ikut bergabung dengan mereka.
“Mamah! Grandma, bolehkah Ryuga duduk di sini?” Ryuga selalu meminta ijin terlebih dahulu.
“Tentu, apa kau juga mau minum tehnya?” jawab Zhia sembari menawarkan teh buatannya.
“Boleh, Mah! Terima kasih,” ucap Ryuga.
Zhia pun langsung menuangkan secangkir teh dan memberikannya kepada Ryuga. Namun, sepertinya ada sesuatu yang ingin Ryuga katakan kepada mamahnya dan Zhia pun langsung menyadari hal itu hanya dengan melihat raut wajahnya saja.
“Ryu, kau sendirian? Dimana kedua adikmu berada sekarang?” tanya Julia, karena tidak biasanya mereka bertiga tidak pergi bersama-sama.
“Mereka sedang bermain catur dengan Papah, Grandpa dan Kakek Roman. Sedangkan Ryu tidak terlalu menyukainya, makanya Ryu ke sini saja,” jelas Ryuga yang merasa sedikit di khianati oleh kedua adiknya.
“Sudah, tidak apa-apa! Lalu apa yang ingin kau katakan pada Mamah? Sepertinya kau sedang ragu untuk mengatakannya atau tidak,” ujar Zhia memancing putranya untuk bicara.
“Bukan seperti itu, tapi Ryu hanya ingin bertanya tentang sesuatu.” Ryuga akhirnya mencoba memberanikan diri untuk mengatakannya.
“Tentang apa? Kalau Grandma dan Mamahmu mengetahui jawabannya, kami pasti akan menjawabnya,” ujar Julia menyakinkan cucunya.
“Mamah! Grandma, apakah benar kalau seseorang sangat perhatian kepada orang lain apalagi lawan jenisnya itu di sebut sebagai cinta?” Akhirnya Ryuga menanyakan pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.
“Hmmm, … Pertanyaanmu yang satu ini cukup komplek,” ujar Julia sembari memikirkan perkataan yang tepat untuk menjawabnya.
“Begini, Ryu! Tidaklah kamu dikatakan mencinta, jika kamu tidak memiliki perhatian terhadap apa yang kamu cintai,” jawab Zhia.
“Benar sekali!” Julia pun langsung membenarkannya.
“Sedangkan dalam dimensi kemanusiaan, cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kamu cintai,” lanjut Julia yang memberikan contoh lainnya.
“Hal ini terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya, atau perhatian penuh terhadap kekasih hati dari dua orang yang saling mencintai,” sambungnya.
“Jika kamu mencintai pasangan hidupmu, harus kamu tunjukkan dalam perhatian yang tulus kepadanya,” ujar Zhia.
“Perhatian terhadap kondisinya, perhatian terhadap perasaannya, perhatian terhadap keinginannya, perhatian terhadap keluarga besarnya, perhatian terhadap aktivitasnya, perhatian terhadap hobinya, dan lain sebagainya,” sambungnya.
“Ouh, … Jadi begitu!” gumam Ryuga yang sepertinya mengerti maksud penjelasan dari Grandma dan Mamahnya.
“Tapi kenapa kau menanyakan tentang itu, Ryu?” tanya Zhia yang menjadi sangat penasaran dan akhirnya menduga-duga bahwa putranya itu sedang jatuh cinta.
“Ada seorang gadis yang menurut Ryu terlihat kasihan, karena dia sering di bully di kampus oleh gadis lainnya. Awalnya Ryu tidak mau memperdulikannya, sebab itu juga bukan urusan Ryu. Tapi lama kelamaan pembullyan itu semakin keterlaluan, jadi Ryu pun membantunya,” jelas Ryuga yang dalam mode curhat kepada Grandma dan Mamahnya.
“Lalu?” tanya Julia dan Zhia bersamaan, sebab sekarang keduanya sudah semakin merasa penasaran.
“Yaaa, …Awalnya gadis itu hanya mengucapkan terima kasih atas bantuanku dan sejak itu Ryu memang sering memperhatikannya agar tidak mendapat pembullyan lagi dari yang lainnya. Akan tetapi, suatu hari dia malah bertanya pada Ryu, _...” jelas Ryuga yang terkesan menggantung perkataannya.
“Bertanya seperti apa?” Alhasil membuat Julia dan Zhia menjadi penasaran tingkat dewa.
“‘Kenapa kau selalu membantu? Kenapa kau selalu perhatian padaku? Dan kenapa kau saja mengikuti? Jangan bilang kalau kau jatuh cinta padaku?’ Itu yang dia tanyakan pada Ryu!”
Dengan wajah polosnya Ryuga menirukan ekspresi, nada bicara dan sikap gadis itu hingga hampir sama persis. Sontak saja, Julia dan Zhia pun tak dapat menahan tawa mereka lagi. Sekarang mereka benar-benar menyadari bahwa Ryuga dan kedua adiknya memang masih sangat polos dengan yang namanya cinta.
“Kenapa Grandma dan Mamah tertawa? Apakah ada yang lucu dari perkataan Ryu tadi?” tanya Ryuga yang sedikit kesal, karena malah di tertawakan.
“Maaf, sayang! Kami akan berhenti tertawa sekarang,” ujar Zhia yang berusaha meredam rasa ingin tertawanya lagi.
“Sekarang Mamah yang bertanya padamu! Bagaimana perasaanmu setiap melihat gadis itu?” lanjut Zhia menanyakan pendapat anaknya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...