
“Apa kau bertemu seseorang saat tiba di sini?” tanya Lucia yang mencoba memastikan sesuatu.
“Benar, saat di depan lift ada seorang pria yang menabrak saya. Dia memakai pakaian hitam dengan topi dan masker dengan warna yang sama,” jelas sang kurir yang teringat tentang kejadian saat dia hendak menuju ke kamar yang tertulis di alamat sang pemesan bunganya.
Brakkk, ….
Namun, di tengah pembicaraan mereka. Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka, hingga menimbulkan suara yang sangat keras. Dan keluarlah sosok Rayden yang terlihat begitu penuh amarah, bahkan sampai dia mengabaikan semua panggilan dari anak-anaknya.
“Papah!” seru Ryuga, Rayga dan Regis secara spontan.
“Pah, ada apa?” Lucia mencoba bertanya.
Namun, Rayden hanya sekilas melihat kelima anakanya itu. Akan tetapi, setela itu di kembali berjalan meninggalkan mereka dengan raut wajah yang terlihat marah dan sedih secara bersamaan.
“Kenapa dengan Papah?” tanya Regis.
Namun, belum sempat ada yang menjawabnya Lucia langsung saja pergi untuk mengikuti papahnya. Tak lama setelah itu, semua orang yang sebelumnya sedang bicara di dalam kamar keluar satu persatu dengan menunjukan raut wajah yang sangat sulit di artikan.
“Mah, apa yang terjadi dengan papah?” tanya Regis yang masih penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana ketika mereka keluar.
“Ryu, bawa Rayga dan Regis pergi dari sini! Dan urus tentang orang ini juga,” perintah Luca yang sepertinya sudah bisa menduga apa yang telah terjadi di dalam sana.
“Baik, Kak!” sahut Ryuga yang tidak ingin membuat masalah lagi untuk kakaknya itu.
Dengan menggunakan isyarat mata, Rayga dan Regis pun langsung mengikuti Ryuga pergi dengan membawa kurir yang membawa bunga untuk Lucia itu. Kini hanya tersisa Luca di sana yang harus mengatasi situasi yang terasa sedikit mencekam itu.
“Sebaiknya kita kembali ke villa terlebih dahulu,” ujar Luca yang tidak ingin memperkeruh situasi dengan bertanya di saat situasi yang belum tepat.
“Ayo, kita pergi!” sahut Noland yang mengajak Julia dan Zhia untuk mengikutinya.
“Kita akan bicarakan lagi tentang ini, setelah situasinya sudah cukup tenang,” lanjut Noland pada Kakek Roman dan juga Levi.
“Baik, Tuan besar!” sahut Levi sembari membungkuk dan memberi hormat.
“Kami akan menunggu sampai putramu siap untuk membahas soal ini lagi. Anda harus ingat bahwa cucuku akan selalu siap untuk bertanggung jawab atas cucumu, Lucia!” ujar Kakek Roman yang tidak bisa melakukan apapun selain menunggu.
“Tentu, karena aku juga ikut andil dalam membesarkan Levi,” balas Noland yang tersenyum tipis pada Levi sebelum mereka pergi.
Noland dan keluarga pun berjalan pergi, sedangkan Levi dan Kakek Roman masih terpaku di depan kamar itu. Dan tak jauh dari sana, Levi menyadari ada beberapa orang yang seperti sedang mengawasinya dari kejauhan.
Tanpa buang waktu, Levi langsung saja berjalan menuju ujung Lorong dimana dia merasa orang itu sedangb bersembunyi di sana. Kakek Roman pun hanya diam memperhatikan tingkah Levi yang di rasanya aneh itu. Namun, begitu sampai di ujung Lorong dia tidak menemukan siapapun di sana.
“Zaen, apa yang kau lakukan di sana?” tanya Kakek Roman yang mulai penasaran.
“Tidak ada! Ayo, kita kembali karena masih banyak yang harus Kakek jelaskan padaku,” jawab Levi yang terlihat sedang menahan amarahnya kepada sang Kakek.
Levi dan Kakek Roman pun juga kembali ke kediamannya. Disisi lain, akhirnya Lucia berhasil mengikuti papahnya saat sampai di parkiran. Dan pada saat Rayden masuk ke dalam sebuah taksi, Lucia pun mengikutinya dengan duduk tepat di sampingnya.
“Turunlah, Papah ingin sendiri untuk sementara waktu!” ujar Rayden pada putrinya.
Namun, Lucia tidak memperdulikannya dan dia malah menyuruh sang supir taksi untuk menjalankan mobilnya.
“Jalankan mobilnya, Pak!” perintah Lucia, hingga membuat sang supir taksi ragu untuk menjalankan mobilnya.
“Kita akan menuju kemana, Nona?” tanya sang supir taksi yang bersiap menjalankan mobilnya, meskipun ada sedikit keraguan di hatinya.
“LUCIA!” bentak Rayden pada putrinya.
“Jalankan saja dulu mobilnya, nanti aku beritahu lokasi tepatnya,” ujar Lucia yang tidak peduli dengan bentakan dari papahnya.
Sepanjang perjalanan yang tanpa tujuan itu, tidak ada satu pun yang saling berbicara baik itu Rayden maupun Lucia. Suasana begitu hening dan canggung, hingga sang supir taksi bahkan tidak berani untuk menanyakan lagi tujuan mereka akan pergi.
“Kami turun di sini, Pak!” Sampai ketika mereka melewati sebuah jembatan yang cukup panjang, Lucia pun meminta supir untuk berhenti.
“Tapi Nona kita masih berada di tengah jembatan, _....”
“Tidak apa! Kami akan turun di sini saja,” potong Lucia sembari memberikan ongkos yang tertera di mesin otomatis untuk biaya jalan mereka.
“Baiklah, Nona!”
Sang supir taksi pun langsung menhentikan mobilnya tepat di tengah jembatan. Terlihat Lucia langsung turun dari mobil tersebut, lalu berjalan ke samping dan membuka pintu untuk Papahnya.
“Apa yang kau lakukan, Luci! Kita masih berada di tengah jembatan, lebih baik kau kembali ke tempat dudukmu,” ujar Rayden yang mulai merasa cemas dengan apa yang akan di lakukan putrinya selanjutnya.
“Papah, turunlah! Luci ingin brebicara berdua dengan papah,” pinta Lucia dengan wajah memelas yang tak mampu di tolak oleh Rayden.
Rayden pun akhirnya mengikuti kemauan Lucia, kini mereka berdua sudah berada di tepi jembatan sembari menikmati pemandangan aliran sungai yang cukup deras di bawah jembatan itu. Cukup lama Lucia dan Rayden hanya diam dan hanya menatap pemandangan yang ada.
“Apakah Papah pada Luci?” tanya Lucia yang mencoba memulai pembicaraan.
“Tidak!” jawab Rayden dengan cepat dan penuh percaya diri.
“Papah hanya sedang merasa kecewa pada diri Papah sendiri,” lanjutnya yang masih tida mampu menatap wajah putrinya.
“Apa karena Luci?” tanya Lucia lagi.
“Tidak, bukan karena dirimu! Tapi karena Papah memang tidak bisa melindungi anak-anak Papah, terutama kamu anak perempuan Papah satu-satunya,” jelas Rayden dengan berlinangan air mata.
“Itu bukan salah Papah! Luci yakin bahwa Papah sebenarnya sudah mengetahui kebohongan Lucia tadi,” ujar Lucia yang juga mulai menitikkan air mata.
“Iya, Papah sudah tahu bahwa kau berbohong! Karena itulah, Papah merasa kecewa sebagai seorang ayah sebab tidak bisa menjadi sandaran bagi anak-anaknya. Sehingga anaknya bisa dengan mudahnya berbohong seperti itu,” jelas Rayden yang sudah tak kuasa menahan aimatanya lagi.
“Maafkan Lucia, Pah! Hikss, ….” ucap Lucia di sela isak tangisnya.
“Kenapa kau melakukan itu, Luci? Dan kenapa pula pria itu harus Levi?” cecar Rayden yang kini berani menatap wajah putrinya dengan lekat untuk melihat kejujuran di mata putrinya itu.
“Selama ini Papah selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu! Papah juga selalu berharap kau mendapatkan yang terbaik dalam segala hal, termasuk untuk pendamping hidupmu. Tapi kenapa harus Levi yang kau pilih,” sambungnya lagi dengan nada bicara yang sedikit mendesak.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...