
“Hay, sampai kapan kalian akan terus bergosip, Hah? Atau kalian mau menjadi bahan percobaan dari senjataku ini!” seru Rayden yang merasa kesal dengan kelakuan Will.
“Siap, Tuan! Kami sudah siap tempur sekarang!” sahut Will yang segera bergegas untuk mengatur anak buahnya.
Pertarungan kali ini, baik Rayden maupun Levi mengerahkan seluruh anak buah mereka bahkan bantuan juga datang ada beberapa klan lain yang berteman baik dengan mereka. Sehingga tidak heran Rayden dan Levi menyewa tiga pesawat sekaligus yang satu pesawatnya mampu membawa 400 penumpang sekaligus.
Selain itu, Rayden dan Levi juga menyewa ratusan mobil yang bisa mereka gunakan begitu diba di wilayah utara. Selain itu, mereka juga membeli ratusan drone yang akan di gunakan untuk memantau keadaan dengan Regis yang akan bertanggung jawab akan hal itu.
Semua persiapan begitu matang dan semua itu dapat di lakukan dalam semalam, karena kekompakan mereka yang begitu menakjubkan. Semua orang bekerja keras demi menyelamatkan putri satu-satunya keluarga Xavier dan juga pemimpin terbaik seperti Axlyn.
...****************...
Disisi lain, Kaendra mencoba memberitahu Luke bahwa tidak seharusnya dia membawa Lucia ke wilayah mereka. Bukan hanya akan menyebabkan pertarungan hebat dengan dua klan terbaik yaitu klan BlackSky dan klan ViLuc. Akan tetapi, juga menyebabkan perpecahan internal di antara mereka terutama Leona yang ingin menagih pembalasan atas pembunuhan yang direncanakan Kaendra dan Luke terhadap kekasihnya dulu.
“Luke, kita perlu bicara! Ini sangat penting dan menyangkut keselamatan kita semua,” ujar Kaendra yang langsung menghentikan langkah Luke yang ingin menemui Lucia dengan membawa berbagai menu makanan.
“Apa yang ingin kau bicarakan! Jika tidak terlalu penting kita bicarakan nanti saja,” tukas Luke dengan sikap acuh tak acuhnya, setelah itu berniat untuk kembali menuju ke kamar Lucia.
“Apakah cinta sudah membutakan matamu, Luke!” teriak Kaendra yang berhasil menghentikan langkah Luke lagi.
“Apa kau tidak sadar? Bahwa tindakanmu membawa wanita itu ke wilayah kita sama dengan kita mengibarkan bendera perang kepada mereka? Dan bukan hanya saja, wanita itu juga pada akhirnya akan membuat kita menjadi terpecah belah terutama hubunganmu dengan Leona!” lanjut Kaendra.
“Apa kau semakin bodoh setelah mendapat beberapa pukulan dari mereka? Wilayah ini adalah daerah kekuasaanku, tidak ada satu orang pun yang akan berani menentang perintahku. Jadi, mereka tidak akan sanggup menghadapi kekuatanku di sini,” ujar Luke dengan sombongnya.
“Dan untuk Leona, bukankah kau melihatnya sendiri Leona akan selalu mendukung dan berada di pihakku. Maka tidak akan mungkin ada perpecahan di antara kita berdua,” sambungnya penuh percaya diri.
“Leona sudah mengetahui semuanya bahwa kita ‘lah dalang utama terbunuhnya kekasihnya saat itu. Perempuan itu telah mengatakan semuanya pada Leona dan kau tahu sendiri bahwa Leona lebih licik dari kita berdua,” ujar Kaendra secara tidak langsung memberitahu maksud terselubung kebaikan Leona pada kedatangan Lucia.
“Apa kau pikir Leona akan melukai Lucia selama ada aku di sini? Itu tidak akan pernah terjadi, karena Leona lebih loyal kepadaku di bandingkan kepadamu. Dan satu hal, pria itu adalah masa lalunya, tidak akan Leona terus mengingatnya sampai sekarang,” tukas Luke yang tidak mempercayainya.
“Kau pikir kenapa Leona selama ini selalu mengincar wanita yang membunuh kekasihnya sampai sekarang? Itu karena dia tidak bisa melupakan pria itu sampai detik ini!” seru Kaendra.
“Terserah apa katamu, tapi aku tidak akan memperdulikan apapun yang keluar dari mulutmu itu,” ujar Luke yang mengabaikan perkataan Kaendra begitu saja.
Tanpa di sadari oleh keduanya, sejak awal Leona mendengarkan pembicaraan mereka. Melihat sikap Luke yang seperti tidak merasa bersalah sama sekali, semakin membuat kemarahan Leona semakin memuncak.
“Begitu mudahnya kalian berdua membunuh orang yang aku cintai, maka dari itu jangan salahkan aku kalau aku juga membunuh orang yang kalian cintai,” gumam Leona yang menatap kedua kakaknya dengan tatapan membunuh.
Sementara Leona sedang menyusun rencana untuk membunuh Lucia, Rayden dan pasukannya kini hampir tiba di wilayah utara. Dan sebelum melakukan penyerangan, Rayden pun menyusun rencana agar mereka tetap memenangkan pertarungan meskipun sedang berada di wilayah musuh.
Namun, demi keamanan mereka semua hanya para pemimpin kelompok yang akan melakukan rapat darurat di dalam pesawat sebelum penyerangan. Akan tetapi, kali ini bukan Rayden yang memimpin rapat maupun menyusun rencananya melainkan Luca dan Regis.
“Seperti yang kalian lihat! Tiga titik lokasi ini adalah markas musuh yang akan kita hadapi saat ini. Sisi barat adalah markas mereka yang bernama klan Black Wolf, sedangkan sisi timur markas klan Shadow Wolf dan seperti yang kalian ketahui Luke adalah penguasa wilayah utara. Jadi, sudah pasti bahwa titik lokasi di sisi utara ini adalah markas besarnya yaitu markas klan White Wolf,” jelas Luca.
“Karena berada di tiga lokasi yang berbeda, maka dari itu kita akan membagi menjadi tiga kelompok!” sambungnya.
“Benar sekali! Dan karena itu juga aku tidak bisa melakukan pemantauan seorang diri. Aku memerlukan bantuan Rayga dan Ryuga untuk memantau masing-masing, artinya satu kelompok akan terdapat satu pemantau atau pengamat menggunakan drone yang akan di terbangkan,” imbuh Regis yang memberitahu bahwa dia tidak bisa memantau tiga wilayah yang berbeda sekaligus.
Semua orang pun setuju dengan rencana yang di katakana oleh Luca dan Regis, tanpa ada satu yang menolaknya. Sehingga kini tibalah peran Rayden untuk membagi orangnya menjadi tiga kelompok yang berbeda.
“Baiklah, karena tidak ada yang menolak rencana Luca dan Regis maka aku akan membagi kelompoknya. Jika ada rencana lain, maka silahkan bicarakan dengan pemimpin kelompok masing-masing,” ujar Rayden yang mempercayakan setiap keputusan pada para pemimpin pasukan.
“Luca dan Will akan memimpin penyerangan di markas klan Shadow Wofl, sementara Rayga yang akan memimpin tim pemantau.” Rayden pun mulai membagi kelompoknya, di mulai dengan Luca yang di pasangkan dengan Will dan Rayga agar tidak lepas kendali.
“Baik, Pah!” sahut Luca dan Rayga yang menerima tugas itu dengan sepenuh hati.
“Tuan, apakah anda secara tidak langsung menyuruh saya untuk menjadi pengawas kedua putramu agar tidak lepas kendali seperti anda dulu,” protes Will yang bisa menangkap maksud tersembunyi Rayden dengan baik.
“Bukankah kau juga Pamannya? Apa salahnya kau mengawasi mereka untukku,” ujar Rayden yang secara tidak langsung membenarkan ucapan Will barusan.
“Wahh, … Tuan, anda sungguh terlalu, _....” gerutu Will yang tak bisa membantah perkataan Rayden lagi.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...