
Tak lama kemudian, Luca pun kembali dengan membawa segelas air minum dan sebuah sedotan di dalamnya. Ternyata di balik sikap dingin dan cueknya Luca, tersimpan kebaikan dan kehangatan di dalam hatinya. Luca pun tidak segan-segan membantu Axlyn meminum air itu dan memperlakukan Axlyn dengan sangat hati-hati.
“Aku bisa sendiri,” ujar Axlyn yang tidak mau merepotkan Luca saat dia berniat untuk membantu.
“Ayo, kita berteman! Dengan begitu, bukankah tidak alasan lagi jika aku ingin membantumu,” ujar Luca yang langsung mengajak Axlyn untuk berteman.
“Hah? Kau tidak salah minum obat ‘kan?”
Sontak, Axlyn pun terkejut dia menatap lekat mata Luca. Sebab dia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya, karena menurutnya seorang Luca tidak akan mengajak berteman kepada siapapun dengan mudah.
“Aku serius! Lagipula tidak buruk juga memiliki teman sepertimu,” ujar Luca yang terlihat bersungguh-sungguh.
“Hay, apakah aku sudah mati sekarang?” tanya Axlyn yang masih tidak percaya bahwa sekarang dia di hadapkan dengan sebuah kenyataan.
“Kau masih hidup, karena aku membawamu ke rumah sakit tepat waktu! Bukankah tadi kau mau minum? Tanganku sudah pegal memegangi gelas ini terus!” seru Luca yang mulai kesal dengan setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh Axlyn.
“Kemarilah! Minumlah pelan-pelan.”
Dengan sangat berhati-hati Luca meletakan tangan kirinya di leher Axlyn untuk membantunya sedikit bangun. Sementara tangannya kanannya masih memegangi gelasnya. Mau tidak mau Axlyn pun menurut, dia pun meminum airnya dengan menggunakan sedotan.
Setelah itu, Luca pun kembali menidurkan kepala Axlyn ke bantal. Lalu dia sendiri pergi untuk meletakkan gelasnya ke tempat yang sebelum.
Kemudian, Luca kembali duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang Axlyn sembari memainkan ponselnya. Terasa jelas suasana canggung di antara mereka, Luca yang sebelumnya selalu mengajaknya bertengkar setiap bertemu dengan Axlyn. Tiba-tiba berubah perhatian dan bahkan mengajaknya berteman.
“Apa yang terjadi dengan pertarungan itu? Apakah kau berhasil menangkapnya?” tanya Axlyn berusaha mencairkan suasana.
“Tidak!” jawab Luca singkat.
“Lalu, apa kau berhasil membunuhnya?” Axlyn pun di buat semakin penasaran.
“Tidak! Dia berhasil melarikan diri,” jawab Luca memperjelas.
“Bagaimana dia bisa lolos? Padahal aku melihat jelas bahwa kau juga berhasil melukainya cukup parah!” seru Axlyn begitu mengetahui misi mereka ternyata gagal.
“Sebaiknya kau istirahat saja! Mau di pikirkan sebanyak apapun tidak akan mengubah hasilnya,” ujar Luca yang sedang tidak ingin membahas mengenai hasil pertarungan tersebut.
“Lalu bagaimana dengan Tuan muda dan adikmu. Apakah mereka berhasil pergi dengan aman?” tanya Axlyn lagi yang tiba-tiba teringat dengan tujuan utama mereka melakukan semua ini.
“Emmm, … Setidaknya untuk yang satu itu sangat sukses. Mungkin sekarang mereka sudah hampir tiba di tempat yang akan mereka tuju,” jawab Luca yang menatap lekat pada Axlyn, hingga membuat wanita itu merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” seru Axlyn yang menjadi salah tingkah dengan tatapan Luca padanya.
Axlyn semakin salah tingkah dengan Luca yang tidak menjawabnya dan malah terus menatapnya dalam diam. Kemudian Axlyn kembali berkata, “Berhentilah menatapku seperti itu!”
“Kalau begitu berhentilah berbicara! Bukankah aku tadi menyuruhmu untuk istirahat lagi,” ujar Luca menekankan.
“Baiklah! Aku akan bertanya, jadi berhentilah menatapku,” sahut Axlyn dengan raut wajah kesalnya.
“Tutup mulut dan matamu, maka aku akan berhenti menatapmu,” perintah Luca dan Axlyn langsung menurutinya.
Luca dan Axlyn diam-diam pun tersenyum saling tersenyum tipis dengan kelakuan mereka sendiri. Pasalnya terlihat mereka seperti selalu berdebat, tapi sesungguhnya mereka diam-diam saling memperhatikan satu sama lain.
...****************...
Sementara pasangan yang sedang mereka bicarakan kini sedang menikmati sarapannya yang kesiangan, maklum pasangan pengantin baru. Seperti yang di katakan Luca, pulau yang akan mereka singgahi sudah mulai terlihat dari kejauhan.
“Luci, kau yakin sudah tidak apa-apa?” tanya Levi yang mengkhawatirkan istri tercintanya.
“Emmm, … Sekarang sudah lebih membaik,” jawab Lucia sembari memasukan potongan daging steak ke dalam mulutnya.
“Tidak mau!” tolak Lucia dengan cepat.
“Jika kita tetap berada di dalam kamar, bukannya melahap makanannya kau pasti akan melahapku lagi. Lebih baik seperti ini,” lanjut Lucia yang sontak saja membuat Levi tersenyum dengan manisnya.
“Habisnya kau lebih enak di bandingkan apapun yang ada di dunia ini,” goda Levi seraya mengedipkan matanya dengan nakal.
“Dasar tukang gombal!” balas Lucia yang akhirnya juga tersenyum dengan manisnya.
Setelah itu, Lucia pun kembali melanjutkan aktivitas makannya agar bisa memperoleh energi lagi. Sedangkan Levi malah hanya diam memperhatikan Lucia yang tengah asyik makan. Lucia pun mengetahui aksi suaminya itu, tapi dia berpura-pura mengabaikan dan focus dengan makanannya.
“Lucia!” panggil Levi yang terus menatap lekat Lucia.
“Hmmm, …” Lucia hanya menyahutinya dengan dehaman.
“Kenapa kau terlihat begitu cantik ‘sih?” tanya Levi yang ingin menggoda istrinya lagi.
“Tentu saja, karena aku putrinya Papah Rayden dan Mamah Zhia,” jawab Lucia yang membuat Levi langsung kehilangan kata-katanya.
“Aish, … Kenapa kau membawa-bawa mereka ‘sih! Aku jadi kehilangan bahan untuk menggodamu lagi,” ujar Levi yang berpura-pura merajuk.
“Tapi memang itu kenyataannya! Lagipula fokuslah pada makananmu dulu, jangan menatapku terus seperti itu. Di lihat seberapa lama pun, Lucia yang cantik ini hanya akan menjadi miliki Zaender Levi seorang.”
Kata-kata Lucia seketika membuat hati Levi meleyot. Rasa kesalnya pun seketika menghilang dan di gantikan dengan perasaan bahagianya yang tak bisa di gambarkan dengan apapun di dunia ini. Levi pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menciumi wajah istrinya dengan gemasnya.
“Astaga, istri siapa ‘sih ini? Menggemaskan sekali, rasanya ingin aku lahap sekarang juga!” ujar Levi.
“Hentikan! Biarkan aku beristirahat sebentar dan mengisi energi dulu,” pinta Lucia yang berusaha menjauhkan Levi dari dirinya, sebab dia masih ingin makan.
“Baiklah! Makanlah yang banyak istriku, biar nanti malam aku juga puas memakanmu,” bisik Levi tepat di telinga Lucia.
“Tidak, nanti malam aku hanya ingin jalan-jalan dan tidur sambil memelukmu saja!” sanggah Lucia yang membuat raut wajah Levi seketika berubah.
“Kenapa? Apa kau tahu sudah berapa tahun aku berpuasa melakukan itu,” gumam Levi yang terdengar jelas oleh Lucia.
“Sayang, kita pergi berbulan waktu bukan hanya untuk melakukan itu. Akan tetapi, agar kita memiliki banyak waktu romantis berdua,” ujar Lucia berusaha memberikan Levi pengertian.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...