
Beberapa jam sebelumnya, ….
Kepergian Lucia yang tanpa ijin pun mulai di sadari oleh Rayden. Awalnya Rayden mencari keberadaan Lucia di seluruh sudut villa dan bertanya pada setiap pelayan yang di temuinya, tapi tidak ada satu pun yang tahu soal kepergian Lucia.
Hingga Rayden pada satu kesimpulan bahwa Lucia pasti pergi menemui Levi dengan ijin dari Zhia. Walaupun saat itu Rayden enggan untuk menghadapi istrinya, tapi demi mengetahui keberadaan putrinya Rayden pun mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Zhia yang tengah minum teh di taman dengan Noland dan Julia.
“Zhi, apa kau tahu kemana perginya Lucia?” tanya Rayden begitu menghampiri Zhia.
“Aku tahu! Kenapa memangnya?” tanya Zhia balik.
“Apa dia pergi menemui bajingan itu?” Rayden memastikan dugaannya.
“Siapa yang kau maksud?” tanya Zhia dengan ekspresi dinginnya.
“Apa kalian berdua sedang bertengkar?” tanya Julia yang merasa tidak nyaman dengan percakapan keduanya.
“Tidak!” sahut Rayden.
“Sedikit!” sahut Zhia bersamaan dengan Rayden.
“Apa karena masalah Lucia?” tanya Noland yang akhirnya penasaran.
“Sepertinya begitu, Pah!” jawab Zhia yang angsung merubah sikapnya menjadi terlihat lebih lembut di bandingkan tadi saat berbicara dengan Rayden.
“Kalau begitu sebaiknya kalian selesaikan masalah itu sekarang! Tidak baik terus menunda masalah ini, bagaimana pun juga Luci yang akan di rugikan dalam masalah ini,” ujar Julia yang mulai beranjak dari tempat duduknya.
“Papah dan Mamah akan masuk kedalam saja! Kalian berdua bicarakan dengan baik-baik dan kepala dingin.”
Noland ikut menimpali, dia pun mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan beriringan dengan Julia. Meninggalkan Zhia dan Rayden begitu saja di taman.
Setelah kepergian Noland dan Julia, Rayden dan Zhia masih saling terdiam dalam posisi Rayden yang masih berdiri di hadapan Zhia. Sedangkan Zhia duduk dengan tatapan mata yang menatap kea rah lain. Meski begitu, Rayden menyadari bahwa Zhia tengah menahan air matanya agar tidak terjatuh begitu saja.
“Apa kau menangis, Zhi?” tanya Rayden dengan perasaan khawatir, dia pun langsung duduk di samping Zhia sembari menggenggam tangannya. Sementara Zhia hanya diam di sertai air matanya yang mulai berjatuhan membasahi pipi cantiknya.
“Kenapa kau menangis seperti in, Zhi? Apa kerena aku? Tolong, maafkan aku jika sikapku beberapa hari ini membuatmu sedih dan sampai menangis seperti ini,” ucap Rayden dengan setulus hatinya, sesekali dia menciumi punggung tangan milik Zhia yang sedang di genggamnya itu.
“Apa kau tahu, Ray? Ini pertama kalinya kita bertengkar selama dan sehebat ini. Kau bahkan memilih untuk tidur di kamar yang terpisah denganku, hanya untuk menghindari kita bicara,” ujar Zhia di sela isak tangisnya.
“Maafkan aku, Zhi! Tapi aku butuh waktu untuk memikirkannya,” ucap Rayden dengan wajah tertunduk, karena tak kuasa menatap mata Zhia yang basah oleh air mata karena sikapnya.
“Sampai kapan, Ray?” desak Zhia yang tak ingin menunggu lebih lama lagi.
“Pada akhirnya kita akan tetap menikahkan putri kita satu-satunya, Ray! Entah itu Levi maupun pria lain nantinya,” sambung Zhia.
Rayden hanya menunduk terdiam tanpa kata. Sehingga membuat Zhia semakin kehilangan kesabarannya, dia pun terpaksa memberi pilihan tersulit dalam hidup Rayden. Hingga kabar mengenai kedatangan Kakek Roman, mengalihkan perhatian keduanya.
“Aku ingin kau memberikan keputusanmu hari ini juga! Jika kau masih tidak membuat keputusan, lebih baik aku pergi dengan membawa Lucia jauh darimu!” ujar Zhia yang membuat Rayden seketika langsung mendongakkan wajahnya, hingga mata mereka saling bertemu.
“Apa yang baru saja kau katakan, Zhi?” tanya Rayden meminta penjelasan.
“Berapa kali aku harus mengatakannya agar kau bisa mendengarnya dengan jelas, Ray?” tanya Zhia balik, tatapan matanya seperti sudah membulatkan keputusannya.
Rayden hanya diam seribu bahasa dengan tatapan mata yang tidak lepas dari mata Zhia. Hingga seorang pelayan datang dan memberitahukan kedatangan Kakek Roman dengan maksud ingin melamar Lucia untuk cucunya yaitu Levi.
“Maafkan saya, Tuan dan Nyonya muda! Tuan besar menyuruh anda berdua untuk datang ke ruang tamu sekarang juga,” ujar sang pelayan.
“Ada apa memangnya?” tanya Rayden yang merasa aneh, kerena belum lama Noland dan Julia menyuruh mereka untuk bicara berdua saja d taman.
“Itu, Tuan Roman datang dan katanya ingin menyampaikan sesuatu langsung kepada anda berdua,” jawab pelayan itu.
“Tuan Roman?” ujar Rayden yang sepertinya dapat menebak apa yang akan di sampaikan olehnya.
“Baik, Nyonya muda!” sahut pelayan seraya berjalan pergi.
Sejenak keduanya saling terdiam, hingga Zhia berkata, “Sekarang putuskan pilihanmu, Ray! Jika kau memang mencintaiku dan putrimu, maka buatlah keputusan yang bisa membuat kami bahagia! Pilihan berada di tanganmu sejak awal, Ray!”
Kemudian Zhia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tamu. Lalu di susul oleh Rayden yang mengikutinya dengan jarak yang cukup berjauhan. Benar saja, begitu memasuki ruang tamu Rayden dan Zhia langsung melihat keberadaan Kakek Roman dan Bastian yang tengah berbincang dengan Noland dan Julia.
“Ouh. … Cano, Zhi! Kalian duduk ‘lah juga!” ujar Noland menyuruh Rayden dan Zhia untuk duduk.
“Terima kasih, Pah!” ucap Zhia yang duduk bersebelahan dengan Rayden.
“Bolehkah aku bicara sekarang?” pinta Kakek Roman.
“Jika kau ingin membicarakan tentang Levi dan Lucia, maka kau tidak perlu berkata apapun lagi,” ujar Rayden.
“Ray!” seru Zhia yang langsung melontarkan tatapan tajamnya.
“Apakah maksudmu, _....”
“Benar, aku telah memutuskan untuk merestui hubungan mereka berdua. Namun, meskipun mereka berdua telah menghabiskan malam bersama. Aku tetap ingin putriku menikah setelah adanya pesta pertunangan,” jelas Rayden yang akhirnya menyerah dan mengikuti keputusan semua orang.
Tampak semua orang berada di sana merasa sangat bahagia setelah mendengar keputusan dari Rayden itu. Zhia pun tersenyum sembari menggenggam tangan Rayden seraya berbisik, “Terima kasih, Ray! Kau selalu menjadi suami dan ayah terbaik untukku dan anak-anak kita.”
“Sudah aku katakana sejak awal, bahwa yang aku butuhkan adalah waktu untuk bisa menerima situasi ini,” bisik Rayden balik kepadanya istrinya.
“Mengenai pertunangan, sebaiknya kita tanyakan pendapat mereka berdua yang bersangkutan,” ujar Kakek Roman menyarankan.
“Benar, sebaiknya kita panggil mereka berdua juga untuk membahas masalah ini.” Noland pun sependapat dengan Kakek Roman.
“Biar aku saja yang menghubungi mereka,” ujar Rayden yang sepertinya mengetahui dimana Levi dan Lucia berada sekarang.
Flashback off, ….
Sesuai waktu yang di tentukan oleh Rayden dalam 20 menit Luca, Lucia dan Levi tiba di villa. Begitu memasuki ruang tamu, Levi di kejutkan dengan keberadaan Kakek Roman yang tengah asyik berbincang dengan Noland dan semua anggota Xavier di sana.
“Kalian sudah datang? Duduklah!” ujar Rayden yang terdengar tidak marah sama sekali dari nada bicaranya, begitu pun dengan raut wajahnya.
Sikap Rayden yang terlihat tidak ada penolakan sseperti sebelumnya membuat Levi dan Lucia langsung menatap ke arah Luca. Sebab Luca tadi mengatakan dnegan raut wajah seriusnya bahwa Rayden sedang marah karena mencari keberadaan Lucia.
“Kenapa kalian berdua menatapku? Duduklah, Papah sudah menyuruh kalian berdua untuk duduk di sana,” ujar Luca yang bersikap seolah tak tahu apapun.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...