Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Tidak Bisa Di Hentikan!



Beberapa saat yang lalu, ….


Begitu Rayden, Levi dan yang lainnya tiba di markas utama. Mereka memang di sambut oleh banyaknya anak buah Luke, tapi mereka tidak di serang sama sekali sepertinya Luke menyuruh untuk menunggu perintah selanjutnya darinya.


Takut bahwa semua itu adalah jebakan, Levi dan Jack menyarankan untuk menyerangnya lebih dulu. Namun, belum mendapat keputusan dari Rayden, Luke pun muncul dengan penuh percaya diri.


Lalu berkata, “Tidak kusangka akan kedatangan tamu secepat ini! Bagaimana dengan penyambutan dariku, apa kalian menyukainya?”


“Apa yang bajingan itu rencanakan?” bisik Jack pada Levi.


Disaat yang bersamaan sebuah informasi mengejutkan datang dari Ryuga melalui alat komunikasi jarak jauh mereka. Ternyata Ryuga bersembunyi di suatu tempat dan diam-diam menerbangkan beberapa drone untuk memastikan bahwa kelompok mereka aman saat memasuki area markas Luke.


“Pah, aku menemukan Kak Lucia!” seru Ryuga yang melihat keberadaan Lucia melalui celah jendela sebuah kamar yang bangunannya tepat berada di hadapan mereka.


“Dimana Lucia berada sekarang?” tanya Levi yang terlihat sangat antusias.


“Lucia? Dia berada di dalam bangunan yang ingin kalian hancurkan ini. Tepatnya di lantai tiga, kalian lihat sosok yang yang sedang memperhatikan kita dari atas itu,” ujar Luke sembari menunjuk ke sebuah jendela di lantai tiga dimana Lucia memang benar sedang mengawasi mereka.


“LUCIA! Kau baik-baik saja ‘kan, sayang!” teriak Levi supaya Lucia bisa mendengar suaranya.


“Diamlah, apapun yang kau teriakan dia tidak akan bisa mengenali kalian lagi!” seru Luke yang merasa terganggu dengan panggilan sayang Levi pada Lucia barusan.


“Sepertinya apa yang dia katakan memang benar! Kak Lucia terlihat kebingungan melihat kalian semua dari atas semua, dia seperti otang baru pertama kali melihat kita,” jelas Ryuga yang masih mengamati Lucia melalui drone milikinya.


Dorr, …


Terdengar suara tembakan di susul dengan jatuhnya drone milik Ryuga yang sedari tadi mengawasi Lucia. Ternyata tembakan itu berasal dari Luke yang lagi-lagi tidak menyukai kalau mereka masih mengawasi Lucia.


“Sudah cukup kalian melihat wanita-ku, _....”


“Sejak kapan istriku menjadi wanita-mu? Kau hanya bajingan gila yang terobsesi pada istri orang!” tukas Levi dengan penuh kemarahan.


“Terserah apa katamu yang terpenting saat ini Lucia berada di sisiku. Jika kalian menyerang ku, maka Lucia dan baby yang berada di dalam perutnya yang akan menanggung akibatnya,” ujar Luke yang pada akhirnya menggunakan Lucia sebagai tamengnya.


“Dasar pengecut!” umpat Levi yang harus menahan amarahnya.


“Benarkah? Tapi menurutku ini adalah memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin. Sekarang letakan senjata kalian dan patuhlah pada perintahku, kalau kalian melawan maka aku akan menyuruh anak buahku untuk melukai Lucia dan bayinya,” ancam Luke yang menginginkan Rayden dan yang lainnya tunduk kepadanya.


Rayden dan yang lainnya tampak ragu untuk menanggalkan senjata mereka, terlebih lagi saat ini mereka sedang berada di wilayah kekuasaan musuh. Namun, keselamatan Lucia dan bayi adalah yang paling utama bagi mereka, sehingga Rayden dan yang lainnya pun hanya bisa patuh dengan ancaman Luke.


“Bagus! Bagus, Hahahaaa, ….” Luke tertawa dengan puas melihat para musuhnya langsung tunduk hanya karena perkataannya.


Namun, baru saja menikmati situasi itu tiba-tiba Leona datang dengan tergopoh-gopoh, disusul oleh Luca dan Will. Semua orang pun terkejut melihat kondisi Leona yang terlihat sangat terdesak, sedangkan Luca terlihat sangat marah dan Will terlihat sangat frustasi.


“Luke, … Kaendra telah terbunuh dan dia juga ingin membunuhku,” ujar Leona dengan napas yang terengah-engah.


“APA?!” Mendengar kabar kematian Kakak sulungnya jelas saja kalau Luke sangat terkejut.


“Apa kau sedang mengadu sekarang?” tanya Luca dengan nada yang penuh mengintimidasi.


“Jadi, kau yang telah membunuh Kakak-ku!” seru Luke, tapi di abaikan begitu saja oleh Luca.


“Dan apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menanggalkan senjata kalian di hadapan musuh?”


“Jika kau tidak ingin Lucia dan bayinya terluka, maka letakan senjatamu juga dan biarkan aku membalas atas kematian Kakak-ku,” ancam Luke berharap Luca juga bisa di tundukan olehnya.


“Sepertinya kau sedang mengancam orang yang salah! Aku Luca Cano Xavier, tidak akan pernah di hentikan oleh siapapun hari ini. Dan kau wanita ******, akan aku pastikan kau mati dengan cara yang paling mengenaskan,” ancam Luca balik yang masih menargetkan Leona sampai akhir.


“Beraninya kau, _....”


“Aaahh, … Jadi, di sana kau menyembunyikan adik kembarku!” potong Luca yang melihat keberadaan Lucia yang ternyata saat itu sudah berdiri di atas balkon menatap ke arah mereka dengan beberapa anak buah Luke yang selalu mengawasinya.


“Luca, berhati-hatilah karena sepertinya Lucia tidak mengenal kita sama sekali,” ujar Rayden.


“Aahh, … Jadi, seperti itu! Sekarang kita lihat, apakah Lucia masih akan melupakan tentang kita setelah ini!” sahut Luca yang langsung mengerti situasinya.


Tanpa berkata apapun, Luca langsung menghampiri Levi dan menempatkan senjatanya tepat di kepala Levi. Dia sengaja memperlihatkan hal itu kepada Lucia, sedangkan Rayden dan yang lainnya segera mengambil kembali senjatanya untuk berjaga.


“Lucia, lihatlah! Jika kau tidak mengingat tentang pria ini lagi, maka aku akan membuatmu tidak akan pernah mengingatnya lagi selamanya!” seru Luca sembari memperlihatkan wajah Levi pada Lucia.


“Kalian cepat hentikan dia!” perintah Luke pada anak buahnya, tapi Rayden dan anak buahnya juga segara bersiap sedia untuk bertarung.


“Aku akan memberimu waktu dalam tiga detik untuk mengingatnya, jika kau masih melupakannya maka aku tidak akan segan lagi meledakan kepalanya yang akan membuat anak di dalam perutmu itu tidak memiliki ayah lagi!” seru Luca yang mendesak Lucia untuk segera mengingat tentang masala lalu, sebab dia sendiri juga tidak punya banyak waktu.


“Satu, …”


Lucia yang awalnya hanya diam saja menatap Levi, tiba-tiba saja merasakan sakit pada bagian kepalanya yang terasa sangat menyakitkan. Sekilas bayangan mengenai wajah orang-orang itu terus bermunculan di kepalanya dan semakin dia berusaha untuk menahan rasa sakit itu, bayangan tentang masa lalunya semakin bermunculan.


“Dua, ….”


Lucia semakin merasakan sakit di kepalanya yang sangat luar biasa bersamaan dengan kembalinya ingatan dia secara perlahan. Menyadari bahwa aksi Luca itu bisa membuat Lucia kembali mengingat semuanya, Leona pun segera bergegas masuk untuk mengamankan Lucia sebagai ancaman untuk musuhnya.


“Sialan! Lagi-lagi dia,” umpat Luca yang langsung bisa mengira apa yang ingin Leona lakukan pada Lucia.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...