
“Namun, aku tidak mau terlalu lama hanya berdua denganmu di tempat yang asing ini,” sahut Axlyn yang langsung saja menolaknya.
Mendengar penolakan Axlyn, sesaat perasaan Luca terasa sedikit sesak. Akan tetapi, dia pun tidak bisa berbuat apapun lagi. Sudah cukup baginya di abaikan oleh Axlyn, padahal di sela kesibukannya Luca menyempatkan diri untuk menemani Axlyn dan merawatnya dengan sebaik mungkin.
“Baiklah, aku akan membicarakannya pada Dokter-mu,” ujar Luca.
“Lalu apa kau masih ingin tetap di sini?” lanjutnya.
“Emmm, …” Hanya di sahuti dehaman oleh Axlyn.
“Kalau begitu aku akan menemanimu di sini,” ujar Luca yang berdiri tepat di belakang Axlyn sembari memegangi kursi rodanya. Sontak Axlyn pun langsung menatapnya dengan bingung.
“Ada apa? Kau ingin berkeliling di tempat ini?” tanya Luca yang berpura-pura tidak mengerti arti tatapan Axlyn barusan.
Tanpa menunggu jawaban dari Axlyn, Luca pun mendorong kursi roda itu dan mulai berjalan sembari menikmati keindahan taman yang ada di area rumah sakit itu. Axlyn pun terdiam dan membiarkan Luca melakukan apapun yang dia mau.
Semua orang masih mengira bahwa Axlyn dan Luca adalah sepasang pengantin baru. Mereka pun merasa sangat ingin dan berharap berada di posisi Axlyn, melihat Luca yang begitu tampan, perhatian, bertanggungjawab dan selalu menemani istrinya.
Padahal apa yang semua orang lihat tidak sesuai apa yang di rasakan keduanya. Luca sepertinya memang sudah mulai menaruh hati kepada Axlyn, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan perasaannya. Begitu juga dengan Axlyn yang lebih memilih untuk menekan perasaannya agar tidak terlalu jauh menyukai pria idaman semua wanita ini.
...****************...
Suasana jauh berbeda dengan sepasang pengantin baru yang sesungguhnya. Dengan tawa yang di penuhi kebahagiaan dan tatapan yang penuh cinta satu sama lain, Levi dan Lucia sedang bersepeda bersama mengitari sebuah taman yang sangat indah di pulau itu.
“Bee, cepat kemari!” panggil Lucia yang menyuruh Levi untuk segera mendekat padanya.
“Iya, sebentar!” sahut Levi yang kesulitan mengayuh sepedanya.
Levi terus mencoba mengayuh sepedanya, tapi ternyata rantai sepedanya telah terputus dan dia baru menyadarinya. Makanya sejak tadi Levi terus bermusuhan dengan sepedanya yang tidak bisa jalan sama sekali, meskipun dia telah mengayuhnya dengan sekuat tenaganya.
“Aish, … Sialan, ternyata rantainya terputus sejak tadi! Pantas saja sepeda butut ini tetap tidak bisa jalan, meskipun aku mengayuhnya sampai mati,” gerutu Levi yang dnegan kesal melempar sepedanya begitu saja.
“Bee!”
Suara Lucia kembali memanggilnya. Tanpa peduli lagi dengan sepedanya, Levi pun langsung berlari untuk menghampiri istrinya tercinta. Lucia pun sedikit terkejut ketika melihat Levi yang tengah berlari ke arahnya, padahal dia ingat persis tadi Levi masih mengayuh sepedanya.
“Bee, dimana sepeda milikmu?” tanya Lucia begitu Levi sudah berada tepat di depannya.
“Aku membuangnya di sana,” jawab Levi dengan napas yang terengah-engah.
“Kenapa di buang?” tanya Lucia meminta penjelasan.
“Rantainya putus, makanya aku dari tadi bergerak sedikitpun meski sudah mengayuhnya sampai mati,” jelas Levi yang terlihat kesal di raut wajahnya.
“Hahahahaaa, … Hanya karena rantainya putus kau membuangnya begitu saja, Bee!”
Lucia pun tak kuasa menahan tawanya ketika mendengar alasan Levi membuang sepedanya sekaligus. Padahal hanya rantainya saja yang terputus, tapi dia membuang sepeda itu dengan mudahnya.
“Kenapa kau malah tertawa?” tanya Levi yang bingung, mengapa istrinya tertawa begitu keras hanya karena sepeda yang dia buang.
“Kita bisa mengganti rantai sepedanya lagi, tapi kau malah langsung membuang semuanya begitu saja! Kalau Paman Marvin tahu, kau pasti kena omelannya,” ujar Lucia.
“Nanti aku belikan seratus sepeda lagi yang lebih bagus dari sepeda buluk itu,” sahut Levi yang tidak terlalu memperdulikan tentang sepedanya.
“Mau bersepeda bersama?” ajak Lucia seraya tersenyum dengan manisnya.
“Tentu,” sahut Levi dengan sangat senang hati.
Lucia segera turun dari sepedanya, kemudian Levi yang mengambil alih sepeda tersebut. Setelah Levi sudah duduk di atas sepeda itu, dia pun menyuruh istri cantiknya untuk duduk di bangku yang ada di belakangnya.
“Kita mau pergi kemana sekarang?” tanya Levi yang bersiap mengayuh sepedanya kemana pun Lucia inginkan.
“Ayo, kita bersepeda di tepian pantai,” jawab Lucia dengan riang gembira.
“Let’s go, My Queen!” seru Levi.
Dia langsung mengayuh sepeda yang mereka naiki dengan penuh semangat, Lucia pun semakin mempererat pelukannya pada suaminya. Tawa mereka terus menyertai setiap roda sepeda itu berputar, hembusan angin dan cahaya senja sore itu semakin menambah suasana indah pada pengantin baru itu. Hingga sampailah mereka di tepi pantai, tanpa sengaja mereka melihat sekelompok orang yang sedang mengadakan pesta kecil.
“Tuan! Nona, kemarilah!” panggil Marvin.
Ternyata pesta api unggun itu diadakan oleh Marvin dan para pelayan lainnya. mendapat panggilan dari Marvin, Levi pun langsung membelokkan sepedanya untuk menghampiri Marvin dan para pelayan itu.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Levi dengan tatapan bingung.
“Woah, … Ikan bakar! Bolehkah aku memakannya!”
Berbeda dengan Lucia yang perhatiannya langsung tertuju pada ikan bakan yang sudah hampir matang sepenuhnya. Sebab tidak perlu di tanyakan lagi olehnya, sudah pasti Marvin dan para pelayan menyiapkan pesta kecil itu untuknya dan Levi.
“Tentu saja, Nona! Masih banyak hidangan lagi yang sudah kami siapkan untuk anda berdua,” ujar Marvin yang langsung melayani Lucia dan mengabaikan pertanyaan Levi.
“Jelas sekali mereka semua sepertinya tidak menyukaiku. Tidak Tuannya tidak pelayannya, semua sama saja,” gumam Levi dengan tatapan kesal pada Marvin.
Hingga suara lembut Lucia berhasil meredakan kekesalannya. Lucia berkata, “Bee, kemarilah!”
Levi pun tersenyum dan langsung mendekati Lucia. Begitu berada tepat di sampingnya, Lucia langsung menyuapi Levi daging kepiting yang terlihat sangat enak. Tanpa peduli apa yang di berikan oleh Lucia, Levi langsung saja membuka mulutnya dan menguyah makanan itu dengan lahap.
“Bagaimana enak ‘kan?” tanya Lucia.
“Humm, … Tapi tidak seenak saat aku memakanmu,” jawab Levi yang sengaja menggoda istrinya.
“Bee, bagaimana kalau ada orang lain yang mendengarnya,” bisik Lucia dengan wajah yang sudah memerah seperti bunga persik.
“Astaga, imutnya istriku!”
Namun, Levi malah gemas sendiri melihat istrinya yang selalu malu-malu kucing setiap dia menggodanya. Levi langsung memeluk dan menciumi wajah Lucia tanpa peduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...