Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Perubahan Sikap Luca



Luca pun langsung membalikan tubuhnya dan mulai berjalan menjauh dari pandangan Axlyn dan Jack. Tanpa terasa air mata Axlyn terjatuh saat sosok Luca sudah tidak terlihat lagi di pandangan matanya. Jack pun menyadari hal itu, tapi dia tidak ingin tahu ataupun mencampuri urusan Axlyn dengan Luca selama kedua orang itu berada di Paris.


“Aku akan mengantarmu,” ujar Jack yang menyadarkan Axlyn dari lamunannya.


“Hmmm, … Tolong carikan seseorang bisa merawatku selama beberapa hari,” pinta Axlyn.


“Tentu, aku akan meminta adikku untuk tinggal denganmu sementara waktu. Dan masalah klan Tuan muda sudah menugaskan aku uantu sementara waktu untuk menggantikanmu,” jelas Jack agar Axlyn tidak merasa khawatir tentang pekerjaan.


“Baiklah, aku percayakan padamu! Jangan membuat banyak masalah untukku,” sahut Axlyn.


Jack pun langsung mengantar Axlyn pulang ke rumahnya, dia kemudian langsung menghubungi adik perempuannya agar menginap di tempat Axlyn untuk sementara waktu. Sedangkan di dalam pesawat pribadinya, Luca masih saja memikirkan tentang kondisi Axlyn.


Dan entah kenapa sejak saat itu, sosok Axlyn selalu mengganggu pikiran dan hatinya setiap saat. Hal itu pun membuat sikap Luca perlahan mulai berubah dan menjadi lebih tertutup dari sebelumnya. Dan semua orang pun menyadari perubahan itu, terutama Zhia sebagai seorang ibu yang sangat peka terhadap sifat dan sikap anak-anaknya.


Sejak Luca kembali dari negara K, dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja dan berdiam diri di dalam kamarnya. Bahkan pada hari libur pun Luca masih menggunakannya untuk bekerja, seakan dia ingin membuat waktunya begitu sibuk agar bisa melupakan sesuatu yang terus mengganggu hati dan pikirannya.


Meskipun dia sedang kumpul bersama keluarga, matanya hanya tertuju pada ponsel seolah dia sedang menunggu seseorang untuk menghubunginya.


Karena tidak tahan dengan perubahan sikap putra sulungnya, Zhia pun sengaja menunggu Luca keluar dari kamarnya. Meskipun hari itu adalah hari minggu, Luca tetap memutuskan untuk pergi ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya.


“Luca, apa kau juga akan berangkat bekerja di hari libur ini?” tanya Zhia begitu melihat putra sulungnya sedang menuruni anak tangga dengan setelan jas rapi dan tas kerja di tangannya.


“Ada pekerjaan yang belum Luca selesaikan di kantor, Mah!” jawab Luca yang tak berani menatap mata Mamahnya, karena dia sedang berbohong.


“Bisakah kau menundanya? Mamah ingin memintamu menemani Mamah pergi ke suatu tempat,” tanya Zhia dengan lembut.


“Bukankah ada Papah? Biasanya Mamah ‘kan pergi bersama dengan Papah,” ujar Luca yang berusaha mencari alasan untuk menolaknya.


“Tidak untuk kali ini, karena Mamah sangat ingin mengajakmu ke tempat itu hari ini. Lagi pula Papahmu sedang melakukan pertadingan catur dengan Grandpa dan Kakekmu,” jelas Zhia yang sedikit memaksakan pada Luca.


“Baiklah, Mah! Luca akan menyiapkan mobilnya terlebih dahulu,” ujar Luca yang akhirnya menerima permintaan sang Mamah tercinta.


“Tidak perlu! Mamah hanya ingin mengajakmu melihat taman yang beberapa waktu ini Mamah rawat sepenuh hati,” sanggah Zhia yang memang tidak mau mengajak Luca kemanapun.


“Bukankah tadi Mamah bilang, _....”


“Bukankah taman yang Mamah rawat juga sebuah tempat yang sangat istimewa? Mamah ingin menunjukan sesuatu kepadamu,” potong Zhia.


“Kemarilah,” pinta Zhia seraya meraih tangan putranya.


Luca pun melemparkan tas kerjanya begitu saja dan dengan pasrah mengikuti kemanapun Mamahnya akan membawa dia pergi.sesuai yang di katakan Zhia, dia membawa putra sulungnya ke taman yang selama ini dia rawat dengan baik. Taman yang sengaja Rayden buat agar Zhia memiliki kesibukan di rumah setiap dia pergi bekerja.


Tamannya begitu luas dan berbagai jenis bunga serta tanaman yang tumbuh subur di dalam taman itu. Ada sebuah air mancur yang cukup besar berada di tengah taman dan di dekatnya ada sebuah rumah kaca yang biasa di gunakan Zhia dan Julia untuk tea time bersama.


Zhia pun langsung membawa Luca ke rumah kaca itu. Begitu tiba di rumah kaca, ternyata sudah tersedia teh dan berbagai camilan serta berbagai jenis bunga yang sepertinya baru saja di petik oleh pelayan Zhia.


“Luca, duduklah!” ujar Zhia mempersilahkan Luca duduk di tempat yang sudah dia sediakan.


Luca langsung menuruti perintah Mamahnya, meskipun banyak pertanyaan yang bermunculan di dalam kepalanya. Sedang Zhia menyajikan teh untuk putra sulungnya, teh yang bisa menenangkan hati dan pikiran hanya dengan mencium baunya saja.


“Kenapa Mamah membawa Luca ke sini?” tanya Luca yang tidak dapat menahan rasa ingin tahunya lagi.


“Apa maksud Mamah sebenarnya? Luca tidak mengerti,” ujar Luca yang masih berpura-pura baik-baik saja.


“Luca, kamu adalah putra Mamah! Apakah kau masih bisa membohongi Mamahmu ini, padahal sudah terlihat begitu jelas di raut wajahmu?” desak Zhia yang berharap Luca akan berbicara jujur tanpa dia harus harus mendesaknya lebih jauh.


Luca hanya terdiam sembari mengalihkan pandangan matanya untuk menghindari tatapan mata dari Mamahnya. Jujur saja Luca belum siap untuk untuk menceritakan masalah hatinya kepada sang Mamah. Zhia pun menyadari bahwa Luca masih ragu untuk menjadikan dirinya sebagai tempat curhatnya, sehingga dia pun mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Zhia pun mengambil bunga-bunga yang berada di atas meja, kemudian dia berniat ingin merangkainya untuk mengganti bunga yang berada di vas. Namun, sebuah ide cemerlang terlintas di kepalanya untuk memancing Luca untuk menceritakan masalahnya.


“Luca, lihatlah bunga-bunga ini! Bukankah mereka terlihat sangat indah,” ujar Zhia sembari menunjukan hasil kebunnya.


“Emmm, … Baunya juga sangat harum,” sahut Luca.


“Apa kau tahu bahwa setiap bunga akan memiliki arti yang berbeda baik untuk sang pemberi dan penerimanya?” tanya Zhia menanyakan pendapat Luca.


“Luca pernah mendengarnya memang seperti itu, Mah!” jawab Luca antara membenarkan dan tidak percaya.


“Apa kau tahu bunga apa yang paling Mamah sukai?” tanya Zhia lagi.


“Bunga Baby’s Breath,” jawab Luca yang sangat tahu tentang itu.


“Bagaimana dengan Grandma?” tanya Zhia lagi.


“ Bunga Mawar pink atau merah muda,” jawab Luca yang juga sudah mengetahuinya sejak dia kecil.


“Dan bagaimana dengan adikmu, Lucia?” tanya Zhia lagi dan Lagi, mungkin ini yang terakhir.


“Saat kecil Lucia sangat menyukai bunga Aster putih, tapi sekarang dia lebih menyukai bunga anggrek dan Lily karena aromanya yang sangat harum,” jawab Luca yang sangat mengetahui tentang adik perempuannya.


“Kenapa Mamah terus menanyakan itu pada Luca?” tanya Luca balik yang tidak mengerti maksud mamahnya terus menanyakan hal sudah jelas dia ketahui, bahkan sejak dia masih kecil.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...