
“Mau menari bersama?” tanya Levi dan Lucia pun hanya menganggukan kepalanya.
“Vin, mainkan musiknya!” perintah Levi pada Marvin.
“Siap, Tuan!” sahut Marvin.
Alunan music dan lagu "As Long As You Love Me" yang dipopulerkan oleh Backstreet Boys pun mulai terdengar. Levi dan Lucia pun mulai menari. Begitu juga dengan para pelayan yang mau bergabung dengan mereka. Meskipun tidak ada kembang api, tapi cahaya api unggun sudah cukup menghidupkan pesta kecil itu.
Suasana jauh berbeda dengan yang terjadi pada Luca dan Axlyn yang kini sudah berada tepat di depan Menara Eiffel. Keduanya sama-sama diam di tengah banyaknya pengunjung yang datang di Menara yang sangat terkenal itu.
Hingga Luca membuka pembicaraan dengan berkata, “Apa kau apa keistimewaan menara ini?”
“Apa?” sahut Axlyn yang penasaran.
“Satu dari sekian banyak keunikan Eiffel miliki adalah tingginya yang bisa berubah. Ya, tinggi menara bisa bertambah dan menyusut. Tinggi Eiffel yang mencapai 300 meter bisa menjadi lebih tinggi 15 sampai 17 sentimeter saat musim panas,” jelas Luca.
“Ternyata kau tahu tentang banyak hal,” puji Axlyn yang harus mengakui bahwa Luca memang jauh lebih baik darinya.
“Tentu, karena aku adalah Luca Cano Xavier! Selain itu ada satu keistimewaan lagi yang menurutku sangat berkesan tentang Menara itu,” ujar Luca dengan bangganya.
“Apa itu?” tanya Axlyn lagi.
“Sebagai monumen yang menjadi magnet turis mancanegara, Eiffel sudah menjadi bagian dari kehidupan warga dunia. Ini juga yang mendorong menara di kota Paris itu ikut serta dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat global, salah satunya dengan memadamkan kerlap-kerlip lampunya yang indah,” jelas Luca.
“Keputusan untuk ‘bergelap-gelapan’ itu sebagai bentuk solidaritas dan rasa berkabung atas jatuhnya korban dari insiden yang sedang terjadi di belahan bumi lainnya. Padamnya lampu di Eiffel merupakan keterwakilan negaranya untuk memberikan rasa hormat kepada para korban. Dengan cara seperti ini, Negara Perancis menunjukkan bahwa mereka sangat peduli terhadap korban insiden besar yang terjadi di dunia,” sambung Luca.
“Bukankah menurutmu itu keputusan dan cara yang bagus warga Paris untuk menyampaikan solidaritasnya kepada orag lan,” imbuh Luca.
“Jika suatu hari nanti aku mati, bisakah mereka juga memadamkan semua lampu itu untukku,” gumam Axlyn tanpa sadar yang terbawa dengan cerita Luca.
Mendengar itu, Luca pun terdiam. Entah kenapa lidahnya terasa kelu, padahal biasanya dia akan menggoda dan mengejek Axlyn setiap wanita itu mengatakan omong kosong. Tapi saat itu, entah kenapa Luca tidak bisa melakukan kejahilannya seperti biasa.
“Kapan pesawat kita akan berangkat?” tanya Axlyn yang mengalihkan topik pembicaraan.
“Masih ada waktu dua jam lagi! Kita bisa berjalan memutari Menara itu satu kali sebelum menuju ke bandara,” jelas Luca sembari mendorong kursi roda yang di naiki Axlyn agar mereka bisa menikmati setiap pemandangan yang ada di tempat itu.
Setelah puas menikmati pemandangan menara Eiffel, Luca dan Axlyn pun langsung menuju ke bandara untuk kembali ke negara K. Siapa sangka bulan madu mereka terasa begitu singkat dan hanya bisa menginap di rumah sakit. Namun, sikap keduanya menjadi berubah dan jauh berbeda jika di bandingkan saat mereka datang ke Paris dan pulang dari Paris.
...****************...
Di Wilayah Utara, lebih tepatnya kediaman utama keluarga Raegan. Terlihat Luke masih terbaring tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Setelah kekalahan mereka di pertarungan terakhir, Leona pun menjadi banyak berdiam diri sembari memikirkan cara untuk membalas dendam.
Sehingga Kaendra yang mengambil sementara pekerjaan Luke dan Leona. Hal itulah yang menyebabkan bisnis obat-obatan Kaendra menjadi tak tersentuh, karena mengutamakan pekerjaan Luke dan Leona.
Seperti biasa dokter akan datang kee kamar Luke sebanyak lima sampai tujuh kali dalam sehari untuk memeriksa keadaan Luke.
Malam itu, saat dokter akan memeriksanya Leona dan Kaendra sedang saling berdebat. Sebab Kaendra sudah tidak bisa lagi mengerjakan pekerjaan Leona, karena Leona sendiri juga tidak melakukan apapun yang bisa membantu Luke terbangun.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kemudian di susul suara sang dokter yang meminta ijin untuk masuk ke dalam. Apalagi dokter itu mengetahui bahwa setiap hari Leona berada di dalam kamar Luke untuk menemaninya.
“Permisi, Nona Leona! Kami datang untuk mengganti infus Tuan Luke.”
“Masuklah! Dan lakukan tugasmu dengan benar,” ujar Leona yang mengijinkan dokter itu untuk masuk ke dalam kamar Luke.
Namun, Leona tak begitu menghiraukannya dia hanya melihat sekilas untuk memastikan. Begitu tahu bahwa yang datang adalah Kaendra, Leona pun kembali mengabaikannya.
“Sampai kapan kau akan terus seperti ini, Hah?” bentak Kaendra kepada adik bungsunya itu.
“Diamlah! Suaramu mengganggu istirahat Kak Luke,” ujar Leona yang masih tenang menghadapi kemarahan Kaendra.
“Kau tahu ‘kan aku sudah kerepotan mengurus pekerjaan Luke? Kenapa kau juga harus bersikap seperti ini, Hah?” ujar Kaendra dengan nada tingginya.
“Kalau kau kesulitan abaikan saja,” sahut Leona masih dengan sikap santainya.
“Aku juga tidak memintamu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kau sendiri yang mau melakukannya, lalu kenapa kau mengeluh sekarang,” lanjut Leona yang tak mau di salahkan, karena memang dia tidak menyuruh Kaendra mengambil alih pekerjaannya maupun pekerjaan Luke.
“Apakah dengan sikapmu ini bisa memperbaiki keadaan? Kita tidak di permalukan? Kita tidak di kalahkan dengan begitu hinanya,” teriak Kaendra yang ingin membuat adiknya bangkit lagi dan tidak terjebak dengan kekalahan mereka di masa lalu.
“Berhenti berteriak padaku! Tahu apa kau tentang yang aku pikirkan sekarang, Hah!” bentak Leona yang tidak dapat menahan emosinya lagi.
Dengan bentakan dari Leona membuat suasana di kamar itu semakin terasa tegang. Sang dokter yang telah selesai dengan pekerjaannya pun tak berani bergerak sedikitpun dari kamar itu. Leona yang sombong dan Kaendra yang sangat keras kepala tidak mudah di atasi oleh orang lain kecuali Luke.
“Karena itulah beritahu apa yang sedang kau pikirkan itu. Jangan hanya diam seperti patung mati,” ujar Kaendra penuh penekanan.
“Memang di dunia ini ada patung yang hidup, Kak Kaendra?”
“Tuan Luke!” seru sang Dokter dengan suara tercekat.
“Luke!” Begitu juga Kaendra.
“Kakak!” Tidak mau ketinggalan Leona juga.
Suara lirih itu berhasil mengalihkan perhatian semua orang. Benar, itu adalah suara Luke yang akhirnya sadar dari koma sementaranya. Sontak. Leona dan Kaendra pun langsung menghampiri tempat tidur Luke untuk memastikan bahwa yang mereka lihat bukanlah mimpi.
“Kak Luke, akhirnya kau bangun juga,” ujar Leona yang terlihat sangat bahagia melihat Kakak kesayangannya telah membuka matanya kembali.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...