
Suasana pun seketika menjadi sangat kacau, tak kala Julia dan Zhia langsung tak sadarkan diri mendengar kabar tentang kecelakaan Lucia. Di tambah lagi Kakek Roman yang tiba-tiba merasa sesak napas dan kejang yang cukup hebat.
Beruntung Bella dan teamnya datang tepat waktu, sehingga Kakek Roman langsung mendapatkan penanganan dan di larikan ke rumah sakit. Begitu juga dengan Zhia dan Julia yang tak sadarkan diri karena shock mendengar kabar tersebut. Akhirnya pembicaraan itu pun harus berlanjut di rumah sakit.
Terlihat sangat jelas kesedihan di raut wajah Rayden, Noland, Luca dan semua orang begitu mengetahui tentang kecelakaannya yang di alami oleh Lucia. Sembari menunggu hasil pemeriksaan pada Kakek Roman, Zhia dan Julia dengan meneguhkan dan menguatkan hatinya Rayden kembali menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Luca, jelaskan pada Papah semuanya dari awal sampai terjadi kecelakaan itu,” ujar Rayden yang menuntut penjelasan dari Luca.
“Luca juga tidak tahu pastinya! Saat itu Axlyn tiba-tiba menghubungiku dan memberitahu bahwa Luke dan anak buahnya telah kembali, bahkan dia mengatakan bahwa Lucia sedang dalam bahaya. Kemungkinan besar, Axlyn juga telah mencoba menghubungi Levi beberapa kali tapi tidak ada tanggapan satu pun darinya,” jelas Luca yang tanpa sadar membuat salah paham.
“Dasar bajingan itu,” geram Rayden pada Levi..
“Teruskan Luca,” ujar Noland yang menyuruh Luca untuk melanjutkan ceritanya.
“Dan setelah itu, terdengar suara pertarungan yang di perkirakan pertarungan itu antara Axlyn dan Luke atau salah satu anak buahnya. Tak lama setelah mendengar itu sambungan telepon kami pun terputus. Luca tentu saja langsung berusaha menghubungi Levi dan anak buahnya, tapi saat itu mereka semua benar-benar sangat sulit di hubungi.” Luca pun kembali melanjutkan ceritanya.
“Karena tidak ada tanggapan dari Levi dan anak buahnya, makanya Luca memberitahu pada Paman Will dan kami memutuskan untuk segera terbang ke sini! Namun, begitu tiba di bandara kami malah mendengar bahwa Lucia sudah mengalami kecelakaan,” sambung Luca.
“Bagaimana dengan Levi? Dimana bajingan itu sekarang?” tanya Rayden yang terlihat sangat jelas sedang menahan kemarahannya.
“Dia sedang berusaha mencari Lucia di laut bersama dengan yang lainnya,” jawab Luca.
“Putriku, Lucia!”
Deraian air mata pun kembali membasahi wajah Rayden, begitu juga dengan Noland yang menangis dalam diam. Mereka semua memang marah dan ingin membumi hanguskan Luke dan antek-anteknya tanpa tersisa saat itu juga. Namun, mencari keberadaan Lucia yang hilang di lautan adalah yang paling utama bagi mereka saat ini.
Suasana di antara mereka pun kembali hening. Sepertinya halnya Luca, Rayden dan Noland pun juga ingin menyalahkan Levi atas kejadian buruk yang menimpa Lucia kesayangan mereka. Namun, di sisi lain baik Rayden maupun Noland juga mengerti bahwa Levi ‘lah yang sedang dalam keadaan paling terpuruk di antara semua orang.
“Pah, ada hal lain yang belum Luca beritahukan kepada kalian semua,” ujar Luca yang tampak ragu-ragu saat mengatakannya.
“Apalagi yang masih kau sembunyikan sekarang?” tanya Rayden dnegan tatapan dinginnya pada Luca.
“Sebenarnya Luca juga baru saja mengetahuinya beberapa jam yang lalu, bahwa saat ini Lucia sedang mengandung 6 minggu,” jawab Luca seraya menundukkan wajahnya, karena diia benar-benar takut untuk menatap wajah Papahnya.
“APA! LUCIA SEDANG HAMIL!” seru Rayden dan Noland, hingga terdengar oleh Bastian yang sedang menunggu Kakek Roman selesai melakukan pengobatan.
“Iya, Pah! Bahkan Levi juga baru mengetahuinya setelah Lucia mengalami kecelakaan dan menghilang,” ujar Luca kembali menjelaskan.
“Sialan! Pah, tunggulah di sini! aku harus melampiaskan kemarahanku ini pada seseorang.”
Rayden segera bangkit dari duduknya dan berjalan pergi menuju ke mobilnya sambil terus mengumpat. Bahkan Noland dan Luca sampat tersentak kaget dengan umpatan Rayden yang setengah berteriak.
Awalnya Luca hanya duduk saja melihat kepergian Papahnya, tapi Noland yang mengetahui bahwa Levi adalah orang yang di maksud Rayden barusan segera menyuruh Luca untuk mengikuti Papahnya.
“Luca, cepat susul Papahmu itu! Segera hentikan dia, jika berniat membunuh Levi,” ujar Noland.
“Apa? Membunuh?”
Mendengar itu, tanpa banyak berpikir Luca segera beranjak dari tempat duduknya dan segera berlari menyusul Papahnya. Setibanya di pesisir pantai, Rayden langsung saja mencari keberadaan Levi sedangkan Luca terus saja mengikuti papahnya.
Bugh, …
“Bukankah kau sudah berjanji akan selalu melindungi putriku, bahkan kalau perlu kau bersedia mengorbankan nyawamu. Lalu kemana janji itu, Hah?” ujar Rayden setelah melayangkan pukulan pertamanya pada Levi.
Bugh, …
Tak lama kemudian, pukulan kedua kembali di layangkan sampai membuat Levi langsung tersungkur. Lalu Rayden kembali berkata, “Bukan hanya tidak bisa melindungi putriku! Kau bahkan juga bisa melindungi anakmu sendiri. Kau sebut dirimu masih seorang pria, Hah?”
Bughh, ….
Pukulan ketiga, perkataan Rayden semakin menyakitkan di dengar oleh semua orang, apalagi untuk Levi sendiri. Dengan nada tingginya Rayden menghardik, “Bodoh! Idiot! Pengecut! Tidak berguna, itulah kata yang menggambarkan dirimu Levi. Kau bukan hanya membiarkan wanita yang sangat kau cintai dalam bahaya, tapi juga menempatkan anakmu di dalam kematian!”
Levi tak mampu mengatakan apapun, dia hanya bisa menangis dalam diam dan menerima pukulan dari ayah mertuanya itu. Melihat Levio yang hanya bisa diam dan menangis malah membuat kemarahan Rayden semakin memuncak. Rayden pun kembali memukuli Levi, inilah yang di namakan ‘Diam salah, bicara pun salah’.
Will, Luca, Triple R dan yang lainnya berusaha untuk memisahkan Rayden dan Levi. Akan tetapi, Levi menyuruh semua orang untuk tidak ikut campur dan membiarkan Rayden melakukan apapun kepadanya.
Meskipun Levi harus menerima pukulan ribuan kali, dia akan membiarkannya. Sebab Levi sadar atas kesalahannya dan Rayden berhak marah akan kesalahannya itu.
“Pah, hentikan! Jika Papah terus memukuli Levi seperti itu, maka dia bisa mati!” seru Luca.
“Benar, Tuan! Bukan waktunya anda bersikap seperti ini,” imbuh Will.
Namun, permintaan Will dan anak-anaknya sama sekali tidak di dengarkan oleh Rayden. Dia terus saja memukuli Levi sampai kemarahan dan kekecewaan hatinya bisa sedikit mereda. Hingga Levi sudah terkapar pasrah sampai hampir tak sadarkan di atas pasir, Rayden pun menghentikan akhirnya.
“Lev, kau tidak apa-apa?” tanya Will yang segera menghampiri Levi dan memastikan keadaannya.
“Tidak apa, bahkan rasanya tidak sesakit hatiku saat ini,” jawab Levi dengan lirih sembari berusaha bangkit di bantu oleh Will.sedangkan Luca dan ketiga adiknya langsung mengamankan Papahnya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...