Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Selepas Pertarungan



Setelah itu, Luca pun masuk ke dalam ruang rawat Axlyn untuk melihat kondisinya secara langsung. Begitu masuk Luca langsung menatap wajah polos Axlyn yang tengah terlelap akibat obat bius yang di berikan oleh dokter. Kemudian, Luca tak sengaja melihat tangan kanan Axlyn yang terbungkus perban. Sontak, Luca pun teringat bagaimana tangan itu telah melindunginya dari bahaya.


“Dasar wanita yang sangat bodoh dan ceroboh!” ujar Luca sembari meraih tangan Axlyn yang terluka.


“Kau bahkan tidak perlu mengorbankan tanganmu seperti ini hanya untuk melindungiku,” lanjut Luca yang merasa berhutang budi pada Axlyn.


“Lihatlah, tangan seorang wanita seharusnya tidak ada bekas luka satu pun. Namun, sepertinya itu hal mustahil untuk seorang Axlyn,” sambung Luca yang menunjukan sebuah senyuman manisnya.


“Terima kasih, karena sudah melindungiku! Tapi lain kali, tolong jangan pernah lakukan itu lagi,” ucap Luca yang tak lupa mengucapkan terima kasih walaupun Axlyn tidak mendengar ucapannya.


Meskipun sedikit merasa terganggu, karena di anggap sebagai suami Axlyn oleh beberapa dokter dan perawat di rumah sakit itu tapi Luca tak terlalu memperdulikannya. Luca pun menjaga dan menemani Axlyn di rumah sakit sembari menunggu informasi lebih lanjut dari Will dan yang lainnya. Dan benar saja, setelah selang dua jam kemudian Will pun datang menemui Luca di rumah sakit.


“Bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Will begitu memasuki ruangan rawat Axlyn.


“Kau sudah datang, Paman Will?” tanya Luca balik.


“Hmm, …” sahut Will hanya dengan dehaman saja.


“Kata Dokter luka tusukan di perutnya tidak terlalu dalam, jadi bisa sembuh dalam satu atau dua minggu. Namun, luka di tangannya yang cukup dalam sehingga tidak boleh di gunakan selama hampir sebulan atau sampai lukanya sembuh sepenuhnya,” jelas Luca atas pertanyaan Will yang sebelumnya.


“Pasti dia akan kesusahan menjalani hari-harinya dengan satu tangan,” ujar Will.


“Tentunya! Namun, aku pastikan akan mengirim seseorang untuk merawatnya sampai dia sembuh sepenuhnya,” jelas Luca yang sudah memikirkan solusinya.


“Seharusnya kau yang merawatnya sendiri, sebab dia terluka juga karena melindungimu, bukan?” ujar Will.


Perkataannya langsung menusuk ke lubuk hati Luca. Sehingga Luca pun langsung terdiam dengan wajah yang tertunduk, karena merasa bersalah. Menyadari perubahan raut wajah Luca, Will pun segera mengalihkan topik pembicaraan.


“Ouhya, … Kita kehilangan bajingan itu lagi,” sambung Will lagi.


“Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya dia tidak bisa melarikan diri lebih jauh, karena terluka cukup parah olehku?” cecar Luca yang terkejut bahwa mereka lagi-lagi kehilangan kesempatan untuk memusnahkan musuhnya.


“Ada sekelompok orang yang datang membantunya, sepertinya mereka juga orang-orang dari pihak musuh,” jelas Will.


“Sial! Kita sudah bersusah payah menyusun rencana dengan begitu rapi dan hati-hati, tapi tetap saja mereka bisa melarikan diri,” umpat Luca yang menyayangkan bahwa rencana mereka kembali gagal, meskipun tidak sepenuhnya.


“Aku dengar bahwa Regis berhasil mengirim pasangan pengantin baru itu bulan madu dengan aman,” ujar Will yang mendengar kabar itu dari Jaydon.


“Hmmm, … Meskipun terkadang suka membuat masalah, tapi ada kalanya Regis juga cukup bisa di andalkan,” sahut Luca yang secara tidak langsung merasa bangga dengan keberhasilan adik bungsunya.


“Namun, Paman Felix dan yang lainnya juga kehilangan dua musuh utama kita,” sambung Luca yang saat itu perasannya sedang tidak baik.


“Sepertinya musuh yang kita hadapi kali ini sangat pintar melarikan diri dengan segala kelicikannya,” ujar Will membenarkan apa yang di katakana Luca.


“Membuatku semakin pusing kepala saja. belum lagi dengan setumpuk pekerjaan kantor begitu nanti kembali ke negara A,” gerutu Luca yang membayangkannya saja sudah merasa sangat lelah, apalagi kalau sudah menjalaninya.


“Setelah semua urusan di sini sudah beres, maka aku akan secepatnya kembali ke negara K,” ujar Will memberitahukan Luca tentang rencananya.


“Baiklah! Aku akan kembali setelah Dokter mengijinkan Axlyn bisa melakukan penerbangan, karena tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja di tempat asing seperti ini,” jelas Luca yang memiliki rasa tanggung jawab yang sangat tinggi dalam hal apapun.


“Sudahlah, … Kalau begitu Paman akan kembali sekarang! Jaga dan rawat penyelamatmu itu dengan baik, mengerti?” lanjut Will yang langsung berpamitan.


“Paman akan kembali sekarang?” tanya Luca tak percaya.


“Hmmm, … Barusan mereka menghubungiku bahwa semuanya sudah di bereskan. Jadi, untuk apa aku tetap di sini? Lagipula Papahmu juga memberikan perintah agar salah satu dari kita ada yang kembali secepatnya,” jawab Will dengan santainya.


“Ouhya, … Paman juga sudah memberitahu mereka mengenai situasimu sekarang. Jadi, nikmatilah masa bulan madumu sebaik mungkin di sini,” sambungnya yang dengan sengaja ingin menggoda Luca.


“Paman!” seru Luca, tapi Will sama sekali tidak menggubrisnya.


Will tetap berjalan keluar sambil tersenyum puas melihat ekspresi Luca yang begitu menggemaskan. Padahal dia hanya sedikit menggodanya saja, tapi terlihat kedua pipinya sangat memerah. Luca pun hanya menatap kepergian Will dengan tatapan kesal, karena merasa di permainkan perasaannya.


...****************...


Di sisi lain, helicopter yang membawa Luke kini telah mendarat di salah satu pulau terpencil. Begitu keluar dari helicopter sudah ada beberapa Dokter dan tim medis yang siap menangani dan mengobati Luke. Ternyata pulau itu adalah salah satu property yang di miliki oleh Luke, sebuah pulau pribadi yang biasa Luke kunjungi bersama dengan para wanitanya.


“Dok, dia mengalami luka tusukan yang cukup dalam pada perut bagian atasnya. Dia juga sudah kehilangan banyak darah selama perjalanan menuju kemari,” jelas Josh memberitahu sang Dokter agar bisa langsung mendapatkan penanganan.


“Baik, kami akan melakukan sebaik mungkin yang kami bisa untuk menyelamatkannya,” sahut sang Dokter.


Dia langsung memeriksa denyut nadi, detak jantung dan memasang alat bantu pernapasan pada Luke. Ada yang berusaha menghentikan pendarahan pada lengan dan bagian perutnya, serta ada yang membantu memasangkan selang infusnya. Luke kemudian di bawa ke sebuah ruangan yang terlihat sangat mewah dengan fasilitas rumah sakit yang sangat lengkap.


Hampir empat jam berselang, akhirnya dokter yang menangani Luke keluar juga dari ruangan itu. Josh pun segera menghampiri sang dokter untuk mengetahui bagaimana keadaan tuannya sekarang. Benar saja dugaan Josh, Luke ternyata mendapatkan luka yang cukup fatal pada bagian perutnya.


“Bagaimana kondisi Tuan Luke sekarang, Dok?” tanya Josh dengan raut wajah khawatirnya.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...