
“Benarkah? Tapi aku tidak percaya ‘tuh!” ujar orang tersebut yang suaranya terdengar seperti seorang wanita sembari semakin mendekatkan senjatanya pada Luca.
Luca pun mulai kesal, dengan gerakan secepat kilat dia langsung berbalik. Sontak saja membuat wanita itu langsung terkejut dan di saat itu juga Luca memanfaatkan situasi itu untuk merebut senjata milik wanita itu. Posisi pun berubah, kini Luca yang mengarahkan senjata pada wanita tersebut.
“Apa kau masih tidak percaya sekarang?” tanya Luca dengan raut wajah dinginnya.
Mata mereka pun akhirnya saling bertemu, siapa sangka orang yang berani menodongkan senjatanya pada Luca merupakan seorang wanita dengan wajah manis. Benar, dia adalah Axlyn, tangan kanan Levi yang menyembunyikan kemampuan bela dirinya di balik wajah manis dan tubuh mungilnya itu.
“Wooww, … Harus aku akui kau memang hebat, tapi itu belum cukup untuk membuatku percaya!” puji Axlyn yang malah tertawa puas saat Luca berhasil mengambil alih senjatanya.
“Dasar wanita gila,” ujar Luca masih dengan tatapan dinginnya.
“Apa katamu? Beraninya kau menyebutku wanita gila ,” geram Axlyn yang tidak terima dengan perkataan Luca.
Serangan dadakan pun langsung di lancarkan Axlyn secara bertubi-tubi, tapi Luca berhasil menghindari setiap serangan itu dengan mudahnya. Pertarungan antara Luca dan Axlyn pun tak dapat di hindari. Hal itu membuat Axlyn semakin marah dan semakin gencar melakukan penyerangan.
“Sungguh menarik,” lirih Luca, tapi bisa di dengar jelas oleh Axlyn.
“Sialan kau!” umpat Axlyn yang semakin menyerang membabi buta.
Namun sayangnya, Luca masih saja bisa menghindar bahkan kini dia tersenyum tipis melihat kemarahan dari Axlyn. Hingga di rasa Luca sudah cukup bersenang-senang, dia pun melakukan serangan balasan secara tiba-tiba.
Bahkan Axlyn sama sekali tidak menduga serangan tersebut, hingga tubuhnya terpukul mundur. Disaat yang bersamaan pijakan kaki Axlyn tidak seimbang, hingga membuatnya hampir saja terjatuh kalau saja Luca tidak sigap menangkap tubuhnya.
Mata keduanya kembali bertemu, sentuhan hangat tangan Luca yang melingkar di pinggangnya begitu terasa oleh Axlyn. Terlebih lagi wajah keduanya yang begitu dekat, hingga deru napas keduanya terasa begitu jelas. Seketika detak jantung Axlyn pun berpacu dengan cepat dan dadanya pun terasa sesak.
Tanpa di sangka adegan itu malah di saksikan oleh Lucia dan Levi yang baru saja tiba di sana. Dan bukan hanya mereka berdua saja yang datang ke sana, tapi beberapa anggota klan Z-LUC juga menyaksikan adegan romantis itu.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Levi menyadarkan Luca dan Axlyn, seketika mereka berdua saling mendorong agar menjauh satu sama lain.
“Ternyata selama ini Kak Luca sudah punya kekasih?” tanya Lucia yang salah mengartikan kejadian tersebut.
“Tidak! Siapa juga yang mau dengan wanita gila seperti dia!” tukas Luca dengan ekspresi wajah dinginnya.
“Ouhya? Tapi sepertinya jawaban Kak Luca tidak seperti yang Luci lihat barusan,” ujar Lucia yang mencoba menggoda Kakaknya.
“Luci, berhentilah bermain-main!” tegur Luca yang melontarkan tatapan dinginnya langsung pada Lucia.
“Jika bukan seperti yang Lucia pikirkan, lalu apa yang sedag kalian berdua lakukan tadi?” tanya Lucia lagi yang tidak mudah menyerah.
“Sudah Kakak bilang, itu tidak seperti yang kau lihat!” seru Luca menekankan pada adiknya.
“Axlyn, apa kau mengarahkan senjatamu padanya?” tanya Levi yang tahu persis bagaimana Axlyn bersikap dalam menyambut setiap tamunya.
“Maafkan saya, Tuan muda!” ucap Axlyn yang langsung mengakui kesalahannya.
“Luca, tolong maafkkan kelakuannya. Dia memang suka berbuat sesuka hatinya seperti itu,” ujar Levi pada Luca.
“Sepertinya anak buahmu tidak jauh berbeda dengan sikap pemimpinnya,” sindir Luca yang sedikit kesal, apalagi Lucia masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya akan penjelasan yang dia berikan.
“Kak Luca kenapa bicara seperti itu pada Kak Levi?” protes Lucia yang tidak terima.
“Kenapa kau juga datang kemari? Jangan bilang kalau kau sengaja mendatangi Levi tanpa ijin dari Papah?” cecar Luca yang tak menggubris perkataan Lucia sama sekali.
“Sebaiknya kita masuk dan bicarakan ini di dalam saja bagaimana?” ujar Levi yang tidak ingin menjadi bahan tontonan bagi para anak buahnya.
“Cepatlah, tunjukan ruangan mu!” perintah Luca.
Sambil bergandengan tangan Lucia, Levi pun mulai berjalan menuju ke ruangan pribadinya. Dimana suasananya tidak jaug berbeda dari kantor Ceo di perusahaanya. Levi kemudian menyuruh semua anak buahnya untuk menunggu di luar, kecuali Axlyn yang dia perintahkan untuk masuk ke dalam.
“Memangnya kenapa? Itu masalah Kak Luca sendiri, kalau mau lakukan saja dengan kekasih Kakak itu,” sahut Lucia yang malah semakin menempel pada Levi dengan sengaja.
“Dia bukan kekasihku!” sanggah Luca dan Axlyn bersamaan.
“Woah, … Kalian berdua sungguh serasi!” ujar Lucia yang semakin menggoda Kakaknya.
“Lucia!” seru Luca yang menyuruh adiknya untuk berhenti menggodanya hanya dengan melalui tatapan matanya.
“Baiklah, Luci akan berhenti,” sahut Lucia.
“Dimana orang yang kau bicarakan semalam?” tanya Luca yang memulai pembicaraan serius mereka.
“Dia berada tepat di sebelahmu sekarang,” jawab Levi yang menatap ke arah Axlyn.
“Dia?"
"Kau yakin wanita gila ini orangnya?” ujar Luca yang tampak kecewa setelah mengetahui siapa orangnya.
“Berhentilah menyebutku wanita gila! Sementara anda sendiri lebih gila dari saya,” balas Axlyn yang membenci sebutan Luca padanya.
“Lihatlah, dia sangat mirip sepertimu dulu yang suka melawan Papah! Apakah kalian berdua bersaudara?” ujar Luca lagi.
“Tentu saja bukan, karena aku menyukai Tuan muda sejak pertama kali bertemu dengannya. Maka dari itu aku bersedia mengikutinya.”
Pengakuan tiba-tiba dari Axlyn mengejutkan semua orang, terutama Levi yang sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Luca pun ikut terkejut, tapi yang membuatnya semakin terkejut adalah ekspresi Lucia yang seperti ingin membunuh wanita itu saat itu juga.
“Axlyn!” seru Levi.
“Apa Tuan muda tidak menyadarinya, bahwa selama ini perhatian yang selalu berikan kepada anda merupakan cara saya menyampaikan perasaan yang terpendam sejak lama?” terang Axlyn sejak awal menyadari ada hubungan special antara Levi dan Lucia begitu dia melihatnya.
“Kau tahu ‘kan selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adikku saja,” ujar Levi yang mulai panik, terlebih lagi Lucia sudah terlihat sangat geram terhadap Axlyn.
“Maka dari itu aku mengakui perasaanku sekarang sebelum terlambat,” balas Axlyn yang terlihat sangat serius saat mengatakannya.
“Seharusnya kau tidak mengatakannya dan seharusnya kau simpan saja perasaanmu itu selamanya! Karena sampai kapanpun Kak Levi adalah milikku!” sela Lucia yang tak dapat menahan diri lagi.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...