
“Présentez-moi Jason Bayazzid qui sera votre guide touristique à Paris. Et ce sont les gardes du corps qui vous protégeront tous les deux pendant que vous serez ici selon un ordre direct de Maître Luca,(Perkenalkan saya Jason Bayazzid yang akan menjadi Guide tour anda berdua selama di Paris. Dan mereka adalah para pengawal yang akan melindungi anda berdua selama di sini sesuai perintah langsung dari Tuan Luca,)” jelas Jason yang mengaku mendapatkan perintah dari Luca.
“Aku? Kapan aku memberikan perintah seperti itu? Kenal mereka juga enggak!” batin Luca yang langsung menyadari bahwa mereka adalah anak buah atau orang suruhan dari Luke.
Axlyn yang tidak mengerti apa yang sedang mereka, akhirnya memilih untuk diam dan mengikuti rencana Luca saja. Cukup lama Luca tenggelam dalam pemikirannya sendiri, hingga membuat Axlyn menjadi khawatir. Luca pun langsung tersadar begitu Axlyn meraih tangannya.
“Ada apa?” bisik Axlyn sembari menggenggam tangan Luca.
“Jadi begitu! Aku akan mengikuti permainanmu,” sahut Axlyn yang langsung memahami maksud perkataan Luca.
“Ouh, … Tidak apa-apa! Semuanya berjalan lancar seperti yang Luca katakan,” ujar Luca yang sedang berakting sebagai Levi.
“Monsieur! Madame, pouvons-nous aller à l'hôtel qui a été préparé maintenant ?” (Tuan! Nyonya, Bisakah kita pergi menuju ke hotel yang sudah di siapkan sekarang?)” ujar Jason lagi.
“D'accord, s'il vous plaît, guidez-nous bien! Je te confie notre lune de miel, (Baiklah, mohon pandu kami dengan baik! Saya percayakan bulan madu kami pada anda)” ujar Luca yang langsung menyetujuinya.
“Bien sur monsieur! S'il vous plaît, montez tous les deux dans la voiture que nous vous avons fournie ! (Tentu, Tuan! Silahkan anda berdua masuk ke mobil yang sudah kami sediakan)” balas orang tersebut yang belum menyadari bahwa pasangan itu bukan Levi dan Lucia.
“Merci! (Terima kasih)” ucap Luca.
Dia lalu melempar koper miliknya dan milik Axlyn begitu saja pada Jason. Kemudian, layaknya sepasang pengantin baru yang saling mencintai. Luca memperlakukan Axlyn bak seorang permaisuri ketika mereka akan masuk ke dalam mobil tersebut.
Luca yang mengenakan topi dan masker hitam dengan memakai pakaian yang biasa Levi kenakan sehari-hari. Begitu juga dengan Axlyn yang harus meminjam gaun yang biasa menjadi style Lucia yang terkesan manis dan anggun, sangat jauh berbeda dengan style yang biasa Axlyn gunakan.
Tanpa rasa curiga sedikitpun, Jason dan komplotannya langsung mengemudikan mobil tersebut menuju tempat yang sudah mereka sepakati dengan Luke. Disisi lain, Luca juga diam-diam mengirim sinyal dan pesan kepada Will dan pasukan mereka untuk mengikuti lokasi yang mereka telah kirimkan.
Sedangkan Axlyn lebih memilih menikmati pemandangan baru yang ada di sekitarnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya kedepannya. Karena menurut prinsip hidup seorang Axlyn, untuk masa depan adalah urusan nanti dan nikmati saja apa yang ada untuk sekarang.
“Pemandangan yang sangat indah,” gumam Axlyn tanpa sadar.
“Apa kau baru pertama kali ke luar negeri?” tanya Luca yang tak sengaja mendengarnya.
“Tidak, tapi ini pertama kalinya aku merasa tenang dan menikmatinya,” jawab Axlyn, tapi jawabannya malah membuat Luca bingung sendiri.
“Terserahlah, aku tidak mengerti maksud ucapanmu,” ujar Luca.
“Axlyn, kau yang mengurus supir dan orang bernama Jason itu. Aku yang akan mengurus sisanya,” lanjut Luca memberikan isyarat untuk membajak mobil tersebut.
“Tidak mau! Aku saja yang mengurus mereka, sedangkan kau menangani kedua orang itu. Aku malas harus berhadapan dengan orang berbicara dengan bahasa asing,” tolak Axlyn dengan tegas.
“Akui saja kalau kau itu bodoh! Lebih simple dan mudah di mengerti,” ejek Luca.
“Banyak bacot! Kita mulai sekarang,” ujar Axlyn yang langsung mengeluarkan senjata api yang dia sembunyikan di balik gaun indah yang dia kenakan.
Dor, … Dorr, … Dorrr, ….
Tanpa buang waktu, Axlyn langsung menyingkirkan orang-orang yang berada di dalam mobil yang satunya. Orang yang mengaku akan menjadi pengawal Levi dan Lucia selama mereka berada di Paris. Setiap tembakan Axlyn memang tidak pernah melesat. Setiap peluru yang dia tembakan langsung mendarat tepat di kepala orang yang tengah menyetir dan yang duduk di sebelahnya.
Seketika mobil tersebut langsung oleng dan menabrak pembatas jalan, hingga masuk ke dalam jurang. Sementara, Luca langsung menjadikan Jason dan sang supir sebagai sandera mereka dengan mudahnya.
“Sudah beres semua,” ujar Axlyn dengan penuh rasa bangga.
“Arrête la voiture! (Hentikan mobilnya!)” perintah Luca, seketika mobil pun langsung berhenti.
Sementara, Will dan pasukannya pun segera meluncur begitu mendapat informasi dari Luca. Secara diam-diam Will dan pasukannya mengikuti mobil yang membawa Luca dan Axlyn pergi. Dan sudah tidak menjadi hal aneh lagi, ketika mobil itu terus saja menuju area hutan yang sepi.
“Apakah mobil mereka masih belum berhenti juga?” tanya Will pada Rayga yang tengah menunjukan arah sesuai dengan lokasi yang di kirimkan Luca.
“Belum, mobilnya masih terus berjalan,” jawab Rayga.
“Sebenarnya apa yang bajingan itu rencanakan,” umpat Will yang mengkhawatirkan Luca dan Axlyn kalau sampai penyamaran keduanya terbongkar.
Meskipun baik Luca maupun Axlyn sama-sama memiliki kemampuan bela diri yang sangat tinggi. Akan tetapi, mereka tidak tahu seberapa banyak musuh yang harus mereka tangani apabila pasukan Will datang terlambat.
Baru saja di bicarakan, tiba-tiba alat pelacak itu menunjukan bahwa mobil yang tengah di naiki Luca dan Axlyn telah berhenti dan jaraknya suah tidak jauh dari mereka. Beberapa menit kemudian, Will dan pasukannya akhirnya bisa melihat Luca dan Axlyn.
“Kalian tidak apa-apa? Tadi kami sempat mendengar ada suara tembakan dan ledakan,” ujar Will yang langsung memastikan keadaan keduanya terlebih dahulu.
“Kami baik-baik saja, Paman Will! Suara tadi karena perbuatannya saja,” jelas Luca yang tidak ingin Will terlalu mengkhawatirkan keadaannya dan tentu saja sambil menunjuk Axlyn seakan memberitahu bahwa semua adalah ulah Axlyn.
“Bukankah dua orang saja sudah cukup?” tanya Axlyn sembari menunjukkan kedua sandera mereka.
“Dimana boss kalian menunggu? Jika tidak ada jawaban, maka nasib kalian akan lebih tragis dari temanmu tadi,” ancam Will dengan tatapan penuh mengintimidasi.
“Di-dibalik hutan ini. A-ada sebuah rumah, mereka menyuruh kami untuk membawa mereka berdua ke tempat itu. H-hanya itu saja perintah yang kami dapatkan,” jawab Jason yang ternyata bisa menggunakan bahasa yang sama dengan Will.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...