
Suara Levi begitu lirih memanggil istri tercintanya, berharap semua itu hanya sebuah mimpi buruk. Sampai tepukan tangan Jack di bahunya membuatnya sadar bahwa yang dia hadapi sekarang adalah kenyataan yang sangat sangat menyakitkan selama hidupnya.
“Tuan, apa yang terjadi?” tanya Jack dengan tatapan bingung sekaligus khawatir melihat untuk pertama kalinya Tuannya menangis.
Tatapan kesedihan, putus asa dan tidak terima dari Levi sudah cukup untuk Jack mengetahui jawaban atas kebingungannya. Terlebih lagi saat dia melihat kalung Lucia yang berada di genggaman tangan Levi.
“Salah satu dari kalian cepat hubungi pihak yang berwajib dan cari tahu apa yang telah terjadi di area ini!” perintah Jack pada anak buahnya.
“Baik, Boss!” sahut anak buahnya yang langsung bergerak cepat.
Dengan air mata yang masih terus berlinang, Levi terus menatap ke arah air laut dengan tatapan kosongnya sembari menggenggam erat kalung milik Lucia. Jack pun terus mengawasinya, hingga beberapa polisi kemudian datang dan melakukan pemeriksaan.
“Jack, istriku dan Axlyn akan baik-baik saja ‘kan?” tanya Levi sambil meneteskan air mata.
“Kecelakaan ini tidak ada hubungannya dengan mereka ‘kan?” sambungnya dengan tatapan putus asa.
“Kita lihat hasil pemeriksaan dari polisi, Tuan! Baik Nyonya Lucia maupun Axlyn adalah wanita yang kuat dan pemberani, tidak mungkin mereka kalah begitu saja,” ujar Jack yang mencoba menghibur Tuannya.
Bahkan mereka langsung membawa tim penyelam untuk memastikan apakah benar benar terjadi kecelakaan di area itu. Benar saja, setelah di lakukan penyelaman mereka pun menemukan sebuah mobil dengan nomor plat yang sama.
“Permisi, Tuan Zaen! Setelah melalukan penyelaman kami memang menemukan sebuah mobil dengan nomor plat yang sama dengan mobil yang berada di dalam cctv yang anda berikan. Namun, kami tidak menemukan jasad satu pun di dalamnya, _....” Polisi itu terlihat menggantung penjelasannya.
“Dan melalui Dash Cam mobil tersebut memang Nyonya Lucia yang sedang mengemudikannya saat kecelakaan berlangsung. Lalu kemungkinan jasadnya terbawa derasnya ombak saat hendak berusaha menyelamatkan diri,” lanjut Polisi tersebut yang terpaksa harus mengatakan hal menyakitkan itu pada keluarga korban.
“Tidak! Aku sangat yakin kalau istriku pasti baik-baik saja! Dia adalah wanita yang sangat kuat dan pandai dalam segala hal tidak mungkin dia, _... Hiks, … Tidak mungkin Lucia-ku, …Hiks, … Hiks, …” Levi kembali menangis terisak mendengar penyataan polisi itu.
“Sebelum kalian menemukan tubuh istriku, jangan pernah katakan kalau dia sudah meninggal dunia! Camkan itu dengan baik,” ujar Levi yang tidak akan pernah mempercayainya bahwa Lucia meninggalkannya begitu saja.
“Baik, Tuan! Kami akan usahakan untuk menemukan jasad Nyonya Lucia secepat mungkin,” sahut polisi itu yang mau tidak mau harus mengiyakan.
...****************...
Disaat yang bersamaan, pesawat yang di naiki Luca dan yang lainnya juga telah berhasil mendarat dengan selamat di bandara. Begitu turun dari pesawat Luca langsung menghubungi Levi untuk menanyakan kabar tentang Lucia dan Axlyn apakah sudah di temukan atau belum.
Levi yang berada dalam keadaan sangat kacau, tentu saja tidak bisa menerima panggilan apapun. Dia hanya duduk termenung menunggu istrinya di temukan dan dengan tatapan kosongnya dia terus memandangi air laut.
Karena tidak ada tanggapan dari Levi, Luca pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Jack saja. Pada panggilan pertama Jack sudah langsung menjawabnya, tapi suara terdengar sangat sedih seakan secara tidak langsung memberitahu Luca telah terjadi sesuatu yang buruk pada Lucia.
“Hallo, Tuan Luca?” sapa Jack begitu menerima panggilan teleponnya.
“Apa yang terjadi? Kenapa Levi tidak menerima panggilan teleponku? Apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Lucia dan Axlyn? Cepat beritahu aku dimana kalian sekarang?” cecar Luca yang firasatnya semakin merasa buruk.
“Nyonya Lucia, … Nyonya Lucia sepertinya mengalami kecelakaan dan mobilnya jatuh ke dalam laut, lalu sampai sekarang tubuhnya belum bisa di temukan,” jelas Jack, meskipun berat dia tetap harus menyampaikan kabar duka itu kepada keluarganya mewakili Tuannya yang tengah sangat terpukul.
“APA!” seru Luca yang langsung terhenti begitu mendengarnya, hingga Will dan yang lainnya pun ikut berhenti menatapnya dengan bingung.
“Luca, apa yang terjadi pada Lucia?” tanya Will yang panik ketika Luca perlahan meneteskan air matanya.
Dengan suara gemetar dan sembari menangis Luca dengan sangat berat hati meberitahu kabar duka tersebut kepada Will dan yang lainnya. Bagaikan terkena sambaran petir di siang hari, semua orang pun langsung terdiam dan hanya air mata mereka saja yang meluncur keluar.
“Kak, jangan bercanda! Kak Luci tidak mungkin, ….” Hingga Regis langsung menghampiri Luca dan menuntut bahwa apa yang barusan di katakan kakaknya itu hanya sebuah kebohongan.
“Regis mohon katakan bahwa semua itu hanya kebohongan, Hiks, ….” Regis menangis terisak di hadapan Luca.
“Regis, dengarkan Kakak! Bukan saatnya kita bersedih seperti ini! Lucia pasti akan baik-baik saja, jadi kita harus segera menemukannya dan mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi,” ujar Luca yang segera menepis kesedihannya, karena dia sangat yakin bahwa adik kembarnya pasti masih hidup.
“Benar, apa yang di katakana oleh Luca! Kita harus melakukan penyelidikan tentang semua ini,” imbuh Will yang juga tidak boleh larut dalam kesedihan.
“Felix dan Jaydon segera cari tahu apakah klan musuh berada di negara ini, terutama keberadaan Luke, Kaendra dan Leona! Sedangkan yang lainnya ikut denganku menemui Levi dan anak buahnya serta membantu mencari Lucia,” lanjut Will yang segera membagi menjadi beberapa kelompok.
“Baiklah, kami mengerti!” sahut Felix dan Jaydon.
Mereka pun langsung pergi untuk menjalankan tugas masing-masing. Begitu sampai di tempat kecelakaan Lucia, Will dan yang lainnya langsung menghampiri Levi yang sedang duduk termenung dengan berlinang air mata menatap laut dengan tatapan kosongnya.
“Apa ini yang bisa kau lakukan, Hah?” bentak Luca yang langsung melontarkan bogem mentahnya tepat di wajah Levi dengan penuh amarah.
“Dengar! Kau tidak bisa melindunginya dan sekarang kau hanya ingin duduk diam di sini menunggu kabar kematian adikku, begitu!” teriak Luca yang semakin merasa kesal hanya dengan melihat wajah Levi saja.
Will dan Triple R pun berusaha memisahkan keduanya, terutama Luca yang tidak dapat mengendalikan kemarahannya. Di tengah kegaduhan itu, dering ponsel Levi pun berbunyi dengan keras. Levi dengan perasaan sangat enggan pun mengambil ponselnya dan menatap lama layar ponselnya.
Dimana terlihat jelas nama panggilan masuk dari Bella yang memberitahu mengenai hasil pemeriksaan istrinya yang menyatakan bahwa Lucia sedang mengandung dengan usia kandungan yang masih 6 minggu.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...