
“Sial, hampir saja!” umpat Luca dengan penuh kekesalan.
“Beraninya kalian menggunakan cara licik setelah mengeroyok kami begini! Matilah, dasar pengecut!” seru Luca yang langsung mengambil belati pemberian Lucia dari balik jas yang dia kenakan saat itu.
Dirasa tidak ada habisnya dan posisi mereka semakin tersudut, Luca pun mulai mengeluarkan belatinya dan mengubahnya menjadi sebuah pedang. Ternyata belati itu adalah pemberiannya kepada Lucia saat mereka kecil dulu. Bukan hanya Lucia yang memilikinya tapi Triple R juga memilikinya, sebuah belati revolusi dengan lambang keluarga Xavier di sarungnya.
Luca terus mengayunkan pedangnya pada orang-orang yang berani datang mendekat ke arahnya. Begitu orang itu berdiri di hadapannya, Luca akan langsung mengayunkan pedangnya ke arah leher mereka. Dan suah di pastikan orang itu akan langsung menuju ke alam baka.
“Gara-gara kalian, aku harus mengotori belati milik adikku,” ujar Luca dengan nada bicaranya yang dingin begitu pula tatapan matanya yang dingin bagaikan harimau putih yang sedang haus darah.
“Luca, kami sudah menangkap tiga orang! Semuanya sudah di pastikan masih bisa bicara,” ujar Will yang tiba-tiba muncul bersama dengan Jaydon dan Felix yang masing-masing memegangi satu orang.
“Ouh, … Astaga, banyak sekali darahnya di sini!” gumam Felix sembari memicingkan sebelah matanya.
“Maaf, tadi sedikit merepotkan. Jadi, terpaksa aku menggunakan ini,” jelas Luca sembari menunjukan pedang kecil di tangannya.
“Wow, … Makanya tidak di ragukan mereka semua langsung tewas di tempat,” gumam Felix lagi.
“Apa kalian mendapat orang yang di minta?” tanya Luca yang tidak terlalu peduli dengan gumaman Felix.
“Anak buah Levi sudah mengurusnya. Kita hanya perlu mengurus sisanya yang di sini,” ujar menjelaskan situasinya.
“Biarkan saja Paman Felix yang mengurusnya sendirian di sini! Paman Will dan Jaydon sebaiknya urus saja persiapan untuk konferensi pers pernikahan Lucia besok,” perintah Luca yang memang sengaja membiarkan Felix membereskannya sendirian.
“Baiklah, semakin cepat di umumkan maka akan semakin baik,” sahut Will.
“Kenapa hanya aku?” protes Felix dengan tatapan memelas.
Namun sayangnya, bentuk protes dari Felix sama sekali tidak di pedulikan oleh Luca dan yang lainnya. Mereka malah asyik ngobrol sendiri. Hingga Will tiba-tiba teringat bahwa tadi dia sempat melihat beberapa orang sepertinya mengikuti Levi dan Lucia.
“Ouhya, … Bagaimana dengan Lucia? Tadi aku sempat melihat beberapa dari mereka ada yang berhasil meloloskan diri dari tempat ini dan sepertinya mengejar mobil Lucia,” ujar Will yang mengkhawatirkan Levi dan Lucia.
“Kalau soal itu, kalian tenang saja! Ada Axlyn yang bersama mereka saat ini,” sahut Jaydon.
“Axlyn?” seru Luca sembari menatap Jaydon meminta penjelasan.
“Ehmmm, … Aku bertemu dengannya saat mengantar Levi ke mobil? Apakah ada masalah?” ujar Jaydon yang menjadi panik sendiri melihat reaksi yang di tunjukan Luca begitu mendengar nama Axlyn.
“Apa Lucia tidak masalah saat bertemu dengannya?” Luca mencoba memastikan sesuatu.
“Benarkah ada masalah di antara mereka!” seru Jaydon yang seketika menyadari kesalahannya.
“Sudahlah, Luci pasti bisa mengatasinya sendiri! Dia juga sudah dewasa,” ujar Luca yang berusaha percaya pada adiknya.
...****************...
Benar saja dugaan Luca, saat Lucia baru saja keluar dari dalam bar. Matanya langsung menangkap Levi yang tengah berada di pelukan Axlyn. Terlihat jelas kemarahan di raut wajah Lucia saat itu, dia pun segera menghampiri dan langsung menarik Levi ke dalam pelukannya.
“Kenapa kau di sini?” tanya Lucia dengan nada ketusnya.
“Aku datang ke sini untuk bermain, tapi seseorang langsung melemparkan Tuan muda kepadaku untuk mengurusnya,” jawab Axlyn dengan santainya.
“Paman Jaydon!” geram Lucia.
“Jay, berhati-hatilah! Sepertinya kau dalam masalah besar,” batin Levi yang tersenyum puas membayangkan Jaydon di hajar habis-habisan oleh Lucia.
Namun, Lucia menyingkirkan kemarahannya sesaat ketika melihat orang-orang tadi hanya mengawasinya kini secara terang-terangan ingin menangkapnya. Tanpa pikir panjang Lucia langsung menyerahkan kunci mobilnya pada Axlyn, sementara dia membantu Levi masuk ke dalam mobil.
“Apa yang sedang kau tunggu! Cepatlah pegang kemudi, kita harus segera pergi dari sini!” seru Lucia ketika menyadari Axlyn masih berdiri diam di samping mobilnya.
Meskipun begitu, Axlyn tetap mengikuti perintah dari Lucia. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin mobilnya. Melalui kaca spion Axlyn dapat melihat dengan jelas bahwa beberapa orang memang sedang mengejar mereka.
“Apa kau punya masalah dengan mereka?” tanya Axlyn pada Lucia, karena ini sudah kedua kalinya dia juga harus ikut terlibat dengan pengejaran Lucia.
“Tidak, sepertinya mereka yang punya masalah denganku,” jawab Lucia yang sesekali memeriksa di belakang mobil mereka.
“Masalah apa?” tanya Axlyn yang menjadi penasaran.
“Tentu saja karena aku terlalu cantik dan menarik, makanya mereka selalu mengejarku seperti ini,” jelas Lucia yang membuat Axlyn tak mampu berkata-kata lagi.
“Baiklah, terserah kau saja! Aku menyesal bertanya serius padamu,” gumam Axlyn yang akhirnya lebih memilih focus menyetir saja.
“Mereka hampir menyusul kita. Tidak bisakah kau menyingkirkan mereka saja sekalian?” ujar Lucia.
“Baiklah, kencangkan sabuk pengaman kalian!” sahut Axlyn yang langsung saja menambah kecepatan mobilnya.
Axlyn terus mengemudi mobil Luca dengan kecepetan tinggi, hingga saat mereka sampai di tikungan dia seketika banting stir ke arah kanan secara tiba-tiba. Alhasil beberapa mobil yang mengikuti mereka akhirnya mengalami kecelakaan beruntun.
Namun, tidak berhenti sampai di situ karena masih tersisa dua mobil yang ternyata masih bisa mengikuti mereka. Saat Axlyn banting stir tanpa sengaja senjata api yang sengaja di sembunyikan Luca di mobilnya tiba-tiba saja terjatuh. Lucia pun segera meraih senjata itu dan menyuruh Axlyn untuk menyesuaikan jarak mobil mereka agar dia bisa menembak tepat sasaran.
“Axlyn, berikan aku jarak! Aku akan mengakhiri kehidupan mereka malam ini juga,” ujar Lucia yang bersiap untuk menembak.
“Selesaikan dalam satu menit,” sahut Axlyn yang memberikan waktu untuk Lucia.
“Tidak pelu, aku hanya butuh 10 detik saja untuk membereskan mereka semua sekaligus,” ujar Lucia yang mulai membidik targetnya.
Dor, … Dorr, … Dorr, … Brakkk
Terdengar tiga kali Lucia melepas pelurunya. Tak lama kemudian terdengar suara yang sangat keras yang berasal dari mobil yang mengikuti mereka. Ternyata kedua mobil itu langsung kehilangan kendali setelah Lucia berhasil menembak sang pengemudinya tepat di kepalanya.
“Sudah beres! Kita kembai ke kediaman Zaender,” ujar Lucia.
“Ternyata kau hebat juga,” puji Axlyn yang harus mengakui kehebatan Lucia.
“Makanya jangan berani-beraninya kau mencoba membuat masalah denganku, terutama jika kau mengincar milikku,” ancam Lucia.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...