
“Lihatkan! Bagaimana dia tidak bisa mengingat apapun?” ujar Luke yang segera mendekati sang dokter.
“Bisakah kita bicara di tempat lain?” pinta sang dokter.
“Tentu, kita bisa membicarakan di luar,” sahut Luke yang menyetujuinya.
“Tunggu! Kenapa anda tidak membicarakan di sini saja? saya pasiennya dan saya juga tidak mengingat siapa pria ini,” ujar Lucia yang menghentikan sang dokter.
Sang dokter tampak kebingungan dengan sekaligus takjub dengan sikap kewaspadaan Lucia. Meskipun dia tidak mengingat apapun tapi dia selalu mengutamakan insting di hatinya. Luke pun berusaha mendekati Lucia dan mencoba membohonginya seperti yang dia lakukan pada Nenek Edna.
“Lucia, meskipun kau tidak mengingatku tapi percayalah bahwa aku adalah suamimu,” bujuk Luke seraya menggenggam tangan Lucia dengan lembut.
“Maaf, tapi hatiku mengatakan bahwa aku tidak boleh percaya begitu saja dengan ucapanmu! Jika kau memang suamiku, maka tidak seharusnya kau menyembunyikan apapun dari istrimu,” tukas Lucia sembari menarik tangannya agar tidak di sentuh oleh Luke.
“Aku hanya tidak ingin kau khawatir dan menjadi stress, lalu membahayakan anak kita yang saat ini masih di dalam perutmu, Lucia!”
Karena kehabisan alasan agar membuat Lucia berhenti bersikap keras kepala, Luke pun dengan sengaja menggunakan kehamilan Lucia untuk mengalihkan perhatiannya. Sesuai dugaannya, Lucia langsung mengelus lembut perutnya yang masih terlihat rata.
“Apakah aku benar-benar sedang hamil, Dok?” tanya Lucia dengan penuh antusias.
“Benar, anda sedang mengandung dengan usia kehamilan 6 minggu. Karena itulah hindari yang namanya stress dan pekerjaan berat agat bayinya tetap aman dan sehat,” jelas sang dokter membenarkan.
“Ouhya, … Tadi kami juga mengambil foto USG kandungan anda. Beruntung kandungan anda masih tetap baik-baik saja setelah kecelakaan itu, silahkan dilihat foto janin anda,” sambungnya sembari memberikan hasil laporan pemeriksaan kandungan Lucia.
Lucia langsung menerimanya dengan senang hati, lalu Luke berkata, “Percayalah pada suamimu ini! Karena semua yang aku lakukan demi kebaikan kita berdua.”
Saat itu Luke berniat mengecup kening Lucia, tapi dengan cepat wanita itu menghindarinya dan langsung mengusir Luke pergi dengan berkata, “Pergilah!”
“Hmm, … Tidak apa kalau kau masih ragu denganku,” ucap Luke yang berusaha bersikap sebaik mungkin di hadapan Lucia.
Tidak ada tanggapan sama sekali dari Lucia, melihat hal itu Luke pun mengajak sang dokter keluar untuk membicarakan tentang kondisi Lucia. Namun, karena banyaknya orang yang berlalu lalang sang dokter pun menyarankan mereka untuk bicara di dalam ruangannya saja.
“Silahkan duduk, Tuan Luke!” ujar sang dokter.
“Terima kasih! Lalu sebenarnya apa yang terjadi dengan Lucia, Dok? Kenapa dia tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya?” tanya Luke yang tidak sabar ingin mendengar penjelasan mengenai kondisi Lucia.
“Sepertinya Nona Lucia mengalami Amnesia pasca trauma, kondisi dimana seseorang kehilangan ingatan akibat cedera kepala yang tergolong parah. Salah satunya adalah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera di daerah kepala. Amnesia jenis ini bersifat sementara, namun pemulihan ingatan yang hilang tergantung pada seberapa parah cederanya,” jelas sang dokter.
“Jadi, kondisinya saat ini hanya sementara saja? Adakah cara yang bisa membuatnya agar tidak bisa mengingat masa lalunya lagi?” tanya Luke yang menginginkan Lucia melupakan masa lalunya terutama tentang Levi dan keluarga Xavier.
“Jika anda bisa menghindarkannya dari orang-orang dari masa lalunya, maka kemungkinan besar ingatan Nona Lucia tidak akan pernah kembali lagi. Namun, hal itu kembali lagi pada Nona Lucia karena hanya dia sendiri yang bisa memutuskan untuk kembali mengingat masa lalunya atau melupakannya,” jawab sang dokter memberi saran terbaik yang bisa dan pikirkan untuk saat ini.
“Kalau begitu bisakah aku merawatnya di rumah? Karena rumah sakit adalah salah satu tempat yang ada di dalam ingatan masa lalunya,” ujar Luke.
Lagipula, Sang Dokter sudah mengetahui bahwa di kediaman Luke juga memiliki ruangan khusus yang seperti rumah sakit. Bahkan dia juga salah satu dokter yang bertanggung jawab atas ruangan itu. Sehingga dia juga tidak perlu mengkhawatirkan kondisi pasiennya, sebab dia juga akan melakukan pengecekan rutin.
Takdir begitu jauh berbeda dengan Axlyn yang di tempatkan di ruang bawah tanah dan harus menahan siksaan kejam dari Leona yang menjadikannya sebagai boneka untuk pelampiasan kemarahannya. Tangan dan kaki Axlyn di ikat dengan tali, tubuhnya sudah di penuhi bekas cambuk dan sayatan benda tajam.
“Setelah cukup lama kau melarikan diri dan sembunyi dariku, ternyata tidak ada yang berubah sedikitpun darimu ‘yah?” ujar Leona sembari mengarahkan sebilah pisau ke wajah Axlyn.
“Kenapa kau melakukan semua ini padaku! Aku tidak pernah mengusik dirimu sekalipun tapi kenapa kau selalu mengusik hidupku?” tanya Axlyn yang memang tidak mengetahui kesalahannya, tapi mungkin kesalahannya adalah pernah menerima tawaran dari Kaendra untuk menyelesaikan sebuah misi pembunuhan.
“Tidak pernah mengusikku? Kau pikir siapa pria yang kau bunuh waktu itu? Dia adalah pria yang sangat aku cintai dan kau membunuhnya begitu saja,” bentak Leona mengingatkan tentang masa lalu mereka.
“Aku tidak akan membunuhnya, kalau kedua kakakmu yang psikopat itu yang memberikan perintah padaku! Jika aku tahu pria itu tidak melakukan kesalahan apapun, maka aku tidak akan pernah menyentuhnya sedikitpun,” tukas Axlyn yang memang mengetahui kebenarannya setelah dia berhasil membunuh pria itu.
“Apa maksud perkataanmu?” desak Leona meminta penjelasan lebih lanjut.
“Apa kau tahu mengapa Kakakmu, si Kaendra itu ingin sekali aku mati waktu itu? Karena dia ingin membungkam mulutku selamanya agar kau selama tidak tahu atas perintah siapa pria itu mati,” jelas Axlyn yang membongkar semuanya tentang kejadian masa lalu yang hampir membuatnya terbunuh.
“Tidak mungkin! Kak Kaendra tidak mungkin melakukan itu, apalagi dia tahu bahwa aku sangat mencintainya,” gumam Leona yang tidak ingin mempercayai perkataan Axlyn.
“Kenapa itu tidak mungkin? Bahkan kedua Kakakmu, Kaendra dan Luke mendatangiku sendiri dengan menawarkan bayaran yang sangat besar hanya untuk membunuh pria sederhana itu. Dan jika aku tidak di selamatkan oleh Tuan Levi saat itu, bukankah selamanya kau tidak akan pernah mengetahui alasan aku membunuh kekasihmu itu,” ujar Axlyn yang semakin memprovokasi Leona.
“Tutup mulutmu! Aku tidak akan pernah mempercayai apa yang baru saja kau katakan tentang kedua Kakakku!” bentak Leona sembari menancapkan pisaunya di paha kiri Axlyn.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...