Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Hari Penuh Kesedihan



“Hay, kalian dimana? Kenapa Lucia tidak bisa di hubungi? Ouhya, … Selamat ‘yah sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua! Semoga anak kalian tetap sehat sampai lahiran nanti.”


Perkataan Bella serasa menghujamkan ribuan pedang tajam di dada Levi, rasa bersalahnya pun semakin berkali-kali lipat begitu mengetahui bahwa Lucia sedang mengandung anak mereka. Seakan tidak ada tenaga lagi, tubuh Levi pun ambruk dan menangis sejadi-jadinya di depan semua orang.


“Aaakh, … Hiks, … Lucia! Kenapa, … Hiks, … Mengapa, …Hikss, …” tangis Levi yang terlihat sangat kacau dan semakin putus asa.


Membayangkan kehilangan Lucia saja Levi tidak sanggup, apalagi di tambah jika dia harus kehilangan anak mereka sekaligus. Melihat Levi yang sudah tidak bisa di ajak bicara, Luca pun langsung merebut ponsel tersebut dan berbicara dengan Bella.


“Hallo! Hallo!” Bella terus memastikan apakah sambungan teleponnya masih terhubung atau tidak.


“Ini aku Luca! Apa yang kau bicarakan dengan Levi barusan?” tanya Luca yang langsung pada intinya.


“Aaah, … Soal itu, aku tidak tahu harus memberitahumu juga atau tidak.” Bella berusaha berkilah, karena mengira Lucia mungkin ingin memberikan kejutan pada keluarganya.


“Tidak apa! Katakan saja padaku,” desak Luca.


“Sebelumnya selamat ‘yah karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang paman,” ujar Bella yang akhirnya memberitahu Luca tentang kehamilan Lucia.


“APA!” seru Luca yang sangat terkejut mendengar kabar kehamilan adiknya, tatapan seketika langsung tertuju pada Levi yang masih menangis terisak di depannya.


“Seperti yang kau dengar, Lucia saat ini sedang mengandung 6 minggu! Hasil pemeriksaannya ada padaku, karena kata dokter yang memeriksanya Lucia langsung pergi begitu pemeriksaannya selesai. Ouhya, … Ngomong-ngomong apa yang terjadi sepertinya aku mendengar suara tangisan seseorang,” ujar Bella yang penasaran dengan suara tangisan dari Levi.


“Tidak apa! Terima kasih sudah membawakan hasil pemeriksaannya, tapi bisakah kau merahasiakan tentang ini,” pinta Luca yang segera mengalihkan topik pembicaraan.


“Ouh, … Baiklah!” sahut Bella mengiyakan.


Sambungan telepon itu pun segera di putuskan oleh Luca untuk menghindari pertanyaan yang lebih banyak lagi. Will dan Triple R pun langsung bertanya dengan alasan Levi yang tiba-tiba menangis histeris seperti itu.


“Luca, apa yang terjadi? Apakah Lucia sudah di temukan?” tanya Will yang juga terlihat semakin khawatir.


“Bukan itu,” sahut Luca lirih tatapan matanya masih tertuju pada Levi.


“Lalu apa, Kak?” tanya ketiga adiknya secara bersamaan.


“Seharusnya ini akan menjadi kabar baik untuk kita semua, namun karena seseorang yang tidak becus menjaga adikku. Maka ini akan menjadi kabar buruk yang lainnya yang aku dengar hari ini,” ujar Luca yang kembali berderai air mata, sebisa mungkin dia menahan amarahnya agar tidak memukuli Levi lagi.


“Apa maksud Kakak?” tanya Regis yang ingin mendengar jawaban pastinya.


“Lucia, … Saat ini sedang mengandung 6 minggu.”


Sontak saja jawaban Luca membuat semua orang kembali terdiam dan menatap ke arah Levi. Saat itu juga kemarahan Triple R pada Levi langsung memuncak, mereka berniat untuk memukul Levi seperti yang di lakukan kakaknya sebelumnya. Beruntung Will dengan tegas bisa menyadarkan ketiga remaja itu dan menyuruhnya untuk berhenti.


“APA YANG KALIAN SEDANG LAKUKAN, HAH?” bentak Will dengan sangat keras, hingga orang-orang yang berada jauh dari mereka pun langsung memperhatikan mereka.


"Jika kalian hanya ingin semakin memperkeruh suasana, maka kembalilah ke negara A! Dan tunggu kabar selanjutnya dengan tenang, tapi jika ingin secepatnya menemukan Kakak kalian maka seharusnya kalian tahu apa yang harus kalian lakukan sekarang!” seru Will sangat menekankan masih dengan nada tingginya.


“Jangan bersikap gegabah dan pergilah bantu mereka mencari keberadaan Lucia,” ujar Will yang kali ini sedikit merendahkan nada suaranya.


Tanpa menjawab atau berkata apapun Ryuga, Rayga dan Regis langsung pergi dalam keadaan yang masih sangat marah. Hingga hanya tersisa Will, Luca dan Levi saja di tempat itu.


Namun, tiba-tiba Will mendapat pesan dari salah satu anak buahnya di markas besar yang memberitahukan bahwa Rayden, Noland dan keluarga Xavier lainnya sedang dalam perjalanan ke negara K.


“Lalu apa yang harus aku katakan pada mereka?” tanya Luca balik, air matanya seolah tidak dapat di bendung lagi. Tatapan matanya pada Levi masih di penuhi dnegan kemarahan.


“Haruskah aku mengatakan bahwa Levi tidak becus melindungi Lucia, hingga adikku mengalami kecelakaan dan sekarang hilang entah dimana keberadaannya?” lanjut Luca.


“Ataukah aku harus mengatakan bahwa kemungkinan Lucia dan bayinya sudah tiada?” sambung Luca.


“LUCIA DAN ANAK KAMI MASIH HIDUP!” bentak Levi yang tidak terima Luca mengatakan hal seburuk itu tentang Lucia dan bayinya.


“Kau boleh mengatakan apapun tentangku! Kau boleh menyalahkanku! Dan kau boleh marah serta memukuliku sampai mati. Namun, aku tidak akan diam saja ketika kau mengatakan Lucia dan anak kami sudah tiada,” geram Levi menekankan pada Luca.


“DIA MASIH HIDUP! LUCIA, ISTRIKU DAN ANAKKU MASIH HIDUP! AKU HANYA PERLU MENEMUKAN MEREKA SECEPATNYA!” bentak Levi yang kembali meninggikan suaranya.


Kemudian, Levi langsung berjalan pergi untuk mencari Lucia di pesisir pantai bahkan kalau perlu dia juga akan ikut menyelam untu menemukan istri dan anaknya. Will pun segera mengikuti Levi, karena dia tahu persis betapa gilanya Levi kalau sudah putus asa seperti ini.


Sebelum pergi Will mengatakan sesuatu pada Luca, “Benar! Lakukan dan katakan sesukamu mengenai situasi ini. Karena aku selalu percaya apapun yang kau lakukan adalah yang terbaik untuk semuanya!”


Hanya dengan perkataan Levi dan Will, pikiran Luca pun kembali terbuka. Hatinya pun merasa sedikit tenang, dia menatap kepergian Levi dan Will cukup lama sampai keduanya tidak terlihat lagi melalui pandangan matanya.


Kemudian, Levi pun segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjemput keluarganya di bandara. Sedangkan dia akan menemuinya di kediaman Zaender dan tibalah Rayden serta yang lainnya, dimana Kakek Roman juga sudah berada di sana.


Mengingat kemampuan koneksi Grandpa dan Papahnya sudah pasti Luca tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa berbicara jujur mengenai apa yang telah menimpa adik kembarnya.


“Luca, katakan apa yang telah terjadi di sini?” tanya Rayden langsung pada intinya.


“Pah! Mah, Lucia mengalami kecelakaan karena di kejar oleh mereka.


Mobilnya menabrak pembatas jalan, lalu tenggelam di laut dan sampai sekarang kami belum bisa menemukan keberadaan tubuhnya,” jelas Luca dengan deraian air mata.


“APA!”


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...