
Seperti yang di katakan Luca, begitu Levi membuka surelnya lokasi Lucia berada saat ini terlihat dengan jelas. Sehingga tanpa buang waktu Levi langsung melajukan mobilnya secepat mungkin menuju tempat tersebut.
Jack dan anak buah mereka pun tampak tertinggal, karena Levi memang tidak pernah memperdulikan apapun jika sudah menyangkut tentang Lucia. Sepanjang jalan Levi hanya bisa berdoa bahwa tidak akan terjadi apapun pada Lucia.
Meskipun begitu hatinya masih saja merasa tidak tenang dan rasanya saat itu Levi ingin menangis sekencang-kencangnya. Dia pun terus menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak seharusnya dia membiarkan Lucia sendirian.
Didalam pesawat Luca dan yang lainnya juga tiada hentinya berdoa agar tidak ada hal buruk lagi yang menimpa keluarga mereka. Pikiran semua orang benar-benar sangat kacau, seperti halnya Levi mereka juga menyalahkan diri sendiri.
Firasat buruk itu bukannya hanya di rasakan oleh Levi atau orang yang mengetahui ssituasi saat itu. Namun, Rayden dan Zhia pun merasakan dengan jelas perasaan gelisah yang tiba-tiba muncul di hati dan pikiran mereka.
“Astaga, ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat cemas dan gelisah,” gumam Zhia sembari memegangi dadanya yang tiba-tiba merasa sesak.
“Apa kau juga merasakannya, Zhi?” tanya Rayden saat melihat istrinya mengelus-elus dadanya sendiri.
“Apakah kau juga merasa cemas dan gelisah secara tiba-tiba, Ray?” tanya Zhia balik.
“Iya, sejak tadi aku terus merasa gelisah tanpa sebab! Aku harap tidak akan terjadi hal buruk lagi pada keluarga kita,” ujar Rayden sembari meraih tubuh Zhia ke dalam pelukannya.
“Aku harap juga begitu,” sahut Zhia yang memeluk Rayden dengan erat.
Firasat setiap orang tua memang tidak pernah salah, memang putri satu-satunya meraka saat ini sedang berada dalam bahaya. Lucia yang berusaha melarikan diri terus di kejar oleh Luke dan anak buahnya. Sehingga aksi kejar-kejaran menggunakan mobil pun tidak bisa di hindarkan lagi.
Namun, karena terlalu panik Lucia tanpa sadar mengemudi dengan ugal-ugalan. Hingga saat berada di tikungan tajam Lucia kehilangan keseimbangan mobilnya dan mobilnya langsung menabrak pembatas jalan.
Braaakk, …
Suara mobil Lucia yang menabrak pembatas jalan terdengar begitu keras. Beruntung, Lucia tidak mengalami luka serius akibat kecelakaan itu. Dahinya memang sedikit berdarah karena terbentur setir mobil, tapi perutnya yang tertekan cukup keras membuatnya merasa sakit yang cukup menusuk. Pada saat kecelakaan itu, kalung Lucia pun terlepas dan jatuh saat dia berhasil keluar dari mobil.
“Aaakh, … Nak, bertahanlah seperti Mamah yang bertahan agar bisa selalu bersama dengan Papahmu dari kejaran orang gila itu,” bisik Lucia pada janin yang berada di dalam perutnya.
Dengan menahan sakit di perutnya dan pusing pada kepalanya, Lucia pun perlahan keluar dari mobil tersebut dan berniat untuk lari dan bersembunyi. Namun, usahanya ternyata hanya sia-sia karena Luke dan anak buahnya sudah berhasil menyusulnya.
“Lucia, kau tidak apa-apa ‘kan?” tanya Luke begitu keluar dari mobilnya dan berniat untuk menghampiri Lucia.
“Jangan mendekat padaku!” teriak Lucia yang langsung meundur menjauhi Luke.
“Kemarilah, Lucia! Kau terluka biarkan aku mengobatinya untukmu,” pinta Luke yang terlihat benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Lucia.
“Jangan mendekat! Jika kau mendekat selangkah lagi, maka aku akan loncat dari sini,” ancam Lucia.
Dia memang sudah berdiri tepat dibibir pembatas jalan yang membatasinya langsung dengan jurang, dimana di bawahnya adalah laut yang cukup dalam melihat besarnya debur ombak di bawah sana. Entah apa yang di pikirkan Lucia pada saat itu, tapi dia benar-benar tidak mau di dekati oleh Luke sedikit. Bahkan Lucia sampai berpikir kematian lebih baik untuknya dari pada harus meninggalkan Levi dan pergi bersama Luke.
“Lucia, jangan gegabah! Aku tahu kau tidak ingin anak di dalam perutmu terluka, bukan?” ujar Luke yang menggunakan anak di dalam kandungan Lucia untuk membujuknya agar menuruti perkataannya.
“Bagaimana kau mengetahuinya? Jangan katakan bahwa Dokter Chloe juga salah satu orangmu!” seru Lucia yang merasa sangat marah hanya dengan melihat wajah Luke saja.
“Tidak, aku mengetahuinya dari perawat yang bekerja di sana,” jelas Luke.
Lagi-lagi Lucia baru menyadari bahwa sejak awal semua ini hanyalah permainan Luke saja. Perawat itu telah berbohong padanya agar bisa mengarahkan Lucia mencari mobil dan di saat yang sudah di tentukan Luke datang berperan sebagai penyelamatnya. Namun, sebenranya semua itu hanya sebuah jebakan agar Luke bisa menangkap dan menculiknya dengan mudah.
Sebenarnya Lucia tidak mau terlihat lemah di depan bajingan psiko seperti Luke. Akan tetapi, perubahan emosi yang ekstrem juga bisa Bumil rasakan saat kehamilan memasuki usia 6–10 minggu dan muncul kembali saat kehamilan memasuki trimester ketiga.
Perubahan suasana hati ini umumnya bisa disebabkan oleh stres, kelelahan, metabolisme tubuh, atau pengaruh kadar progesteron dan estrogen dalam tubuh. Dan itulah yang Lucia rasakan sekarang, dia tidak bisa mengontrol emosinya sama sekali.
“WHY? Mengapa? Kenapa kau harus memilih dia di bandingkan denganku, Hah?”
“Kenapa kau bisa mencintainya, tapi kau tidak bisa mencintaiku, Lucia!"
“Asal kau tahu bahwa perasaan cintaku ini jauh lebih besar di bandingkan dirinya!"
“Kenapa kau harus memilihnya, Hah?”
Luke yang sudah di penuhi emosi dan kemarahan mencecar Lucia dengan nada tingginya. Dan layaknya orang gila, Luke menganggap dirinya jauh lebih baik dari Levi. Sampai kapanpun dia tidak akan menerima bahwa Lucia lebih memilih Levi di bandingkan dengan dirinya.
“Kau ingin tahu kenapa?” tanya Lucia yang menantang Luke uuntuk mendengarkan alasan di sangat mencinta Levi.
“Iya!” sahut Luke menerima tantangan tersebut.
“Karena dia adalah Zaen Der Levi, pria satu-satunya yang aku cintai dan selamanya akan seperti itu!"
“Karena dia Zaen Der Levi, pria yang yang sangat mencintaiku dnegan setulus hati dan hidupnya,”
“Karena dia Zaen Der Levi, pria yang akan menjadi ayah dari anak di dalam perutku saat ini!”
“Dan yang terpenting karena dia hanya Zaen Der Levi, bukan Luke maupun Tuan Alvano! Karena di dalam hati dan hidupku hanya akan satu pria yaitu Zaen Der Levi!”
Lucia pun menjawab semua pertanyaan Luke dari dalam lubuk hatinya. Dia juga menekankan bahwa selamanya Luke tidak akan bisa memiliki hati maupun tubuhnya. Perkataan Lucia malah semakin membuat Luke marah, tanpa menghiraukan ancaman Lucia dia perlahan mulai mendekati Lucia.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...