
Seketika sebuah rencana pun terlintas di pikiran Lucia untuk melarikan diri dengan menggunakan mobil tersebut. Namun, sebelum itu Lucia harus terlihat menuruti perkataan Luke agar dia bisa merebut kunci yang masih berada di tangan Luke.
Pertama, Lucia bersikeras tetap duduk di dalam mobil tersebut hingga Luke pun membuka pintu mobilnya dan memegang kuat tangan Lucia. Kemudian, Luke sedikit menarik kasar tangan Lucia agar mau keluar dari mobilnya.
“Tenanglah, aku tidak akan pernah menyakitimu sedikitpun! Aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak akan mungkin melukaimu, Lucia!” ujar Luke dengan nada bicara dan perlakuan yang sedikit memaksakan pada Lucia.
Lucia pun akhirnya keluar dari mobil tersebut dengan tangan yang masih digenggam erat oleh Luke. Disaat Luke dan anak buahnya lengah keran Lucia tidak akan memberontak, di saat itu pula Lucia langsung mencuri kunci mobilnya. Dan dengan gerakan lincahnya dia langsung menyerang salah satu anak buah Luke yang berada di dekatnya, lalu mengambil senjata apinya.
“Lucia!” seru Luke yang terkejut dengan aksi Lucia yang terbilang sangat cepat mencuri kunci mobil dan senjata api milik salah satu anak buahnya.
“Jangan ada satu pun dari kalian yang mendekat atau aku tidak akan segan menembak kepala kalian, terutama kau!” ancam Lucia yang mengarahkan senjata api itu pada siapa saja yang berani mencoba mendekatinya.
“Luci, sebaiknya kau letakkan senjata yang berbahaya itu atau nanti kau akan terluka,” bujuk Luke yang masih bersikap lembut kepada Lucia.
“Benar, selangkah lagi kau mendekatiku maka bukan hanya aku saja yang terluka. Tapi akan aku pastikan kau mati terlebih dahulu di tanganku,” ujar Lucia yang mengarahkan senjata itu pada Luke yang terus mendekatinya.
“Kenapa kau begitu kejam padaku, Luci! Sedangkan aku sangat mencintaimu dan tidak ingin membuatmu terluka sedikitpun,” jelas Luke yang masih saja tergila-gila dengan Lucia, dia pun terus melangkah mendekati Lucia.
Dor, ….
Tanpa berkata apapun Lucia langsung melancarkan serangan yang sedikit mengenai lengan Luke. Jika saja Luke tidak berhasil menghindari tembakan itu, maka sudah pasti peluru itu sudah bersarang di jantungnya.
“Sudah aku peringatkan jangan mendekat atau kau akan mati!” ujar Lucia yang tak terlihat takut sedikitpun melawan Luke seorang diri, apalagi sekarang dia kini sudah memiliki sebuah senjata di tangannya.
“Jika kau membunuhku, maka wanita yang bernama Axlyn itu juga akan mati dengan lebih mengenaskan,” ancam Luke yang menggunakan Axlyn sebagai sanderanya.
“Dimana dia? Dimana kau membawanya?” teriak Lucia yang kemarahannya semakin memuncak.
“Letakkan senjata itu dan kemarilah, maka aku akan mempertemukan kalian,” bujuk Luke yang kembali bersikap lembut pada Lucia.
“Jangan pernah bermimpi, karena aku tidak akan pernah pergi kemanapun,” ujar Lucia yang langsung masuk ke dalam mobil lagi.
Lucia langsung menyalakan mesin mobilnya dan tancap gas untuk pergi dari tempat itu. Anak buah Luke pun langsung bersiap mengejarnya, sedangkan Luke masih terpaku di tempatnya dan sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.
“Lucia, kau memang singa betina yang sangat liar! Karena inilah aku semakin menginginkan dirimu untuk diriku sendiri,” gumam Luke yang semakin tergila-gila dengan Lucia.
“Tuan, mobilnya sudah siap!” ujar salah satu anak buah Luke yang menyadarkannya dari lamunan.
“Baiklah, saatnya kita berburu singa betina yang kabur! Kali ini kau sudah tidak bisa kabur kemana pun lagi, Lucia!” gumam Luke lagi yang berjalan masuk ke dalam mobilnya untuk mengejar Lucia.
...****************...
Sementara di dalam pesawat, Luca langsung teringat kalung pemberiannya kepada Lucia ketika dia tak sengaja melihat kalung yang di kenakan salah satu pramugari. Saat itu juga, Luca pun meminta ijin kepada para kru pesawat untuk menghubungi Levi atau setidaknya dia bisa mengirim pesan untuknya.
“Luci, Kakak harap kau akan baik-baik saja! Kakak mohon jadilah Lucia yang pintar dan kuat seperti biasanya,” batin Luca yang terus merasa khawatir dengan keadaan adik kembarnya.
“Tuan, silahkan menikmati kopinya!” ucap seorang pramugari yang sedang menyajikan secangkir kopi kepada Regis yang duduk tepat di sebelahnya.
Saat memberikan kopi tersebut, Luca tak sengaja melihat kalungnya yang langsung saja mengingatkan tentang kalung yang pernah dia berikan untuk Lucia. Tanpa buang waktu Luca langsung memanggil pramugari itu dan langsung meminta ijin untuk menelpon atau mengirim pesan juga boleh.
“Permisi, bisakah aku menelpon seseorang atau setidaknya mengirim sebuah pesan! Ini sangat penting mengenai keadaan adikku, Lucia!” pinta Luca.
Mendengar perkataan Luca, sang pramugari terlihat bingung bagaimana menjawab permintaan tersebut. Hingga Will dan yang lainnya pun langsung menghampirinya untuk menanyakan apa yang telah terjadi.
“Luca apa yang terjadi? Kita sedang dalam penerbangan, tidak seharusnya kau melanggar aturan penerbangan sesuka hatimu,” ujar Will mengingatkan Luca.
“Aku harus mengirim sebuah surel yang bisa membantu Levi menemukan keberadaan Lucia dengan cepat, Paman Will! Lucia selalu mengenakan kalung pemberianku, dimana di dalam kalung itu terdapat sebuah chip yang bisa mengakses lokasinya dimana pun dia berada,” jelas Luca.
“Bagaimana? Seharusnya bisa kan kalau hanya mengirimkan sebuah pesan dan surel?” tanya Will yang akhirnya bersikap sama seperti Luca.
“Saya akan tanyakan kepada Kapten pilotnya terlebih dahulu, Tuan!” jawab pramugari tersebut langsung menemui Kapten pilot yang mengendalikan pesawat saat itu.
Tak menunggu terlalu lama, pramugari tersebut lalu kembali menghampiri mereka. Kemudian berkata, “Kapten bilang anda bisa melakukannya, Tuan! Namun, Kapten mengatakan hanya memiliki waktu sepuluh menit untuk melakukannya, karena ibi sangat beresiko pada penerbangan ini!”
“Baik, terima kasih! Aku pastikan tidak akan sampai lima menit,” ujar Luca yang segera mengirimkan beberapa pesan dan surel yang bisa melacak keberadaan Lucia.
Levi yang sedang sangat frustasi dan putus asa, karena tak kunjung menemukan Axlyn ataupun Lucia dimana pun. Ditengah perasaan putus asanya, pesan dari Luca pun masuk dan membuat semangatnya seketika bangkit kembali berkali-kali lipat.
“Gunakan surel ini untuk menemukan keberadaan Lucia! Kami akan tiba sekitar satu jam lagi, pastikan tidak akan terjadi apapun baik pada Lucia maupun Axlyn. Saat ini hanya kamu yang bisa kami percaya dan tempat kami semua berharap.”
Itulah pesan yang Luca kirimkan kepada Levi dengan di lampiri surel yang bisa langsung melacak keberadaan Lucia. Karena itu adalah satu penemuan Luca yang sangat bisa di andalkan di saat seperti ini. Oleh sebab itu, Luca selalu memberikan hadiah kepada orang yang di sayangi dengan adanya chip di dalamnya.
“Terima kasih, Luca! Dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri, aku harus menyelamatkan Lucia!” ujar Levi yang segera bergegas mengikuti lokasi yang di tujukan melalui surel tersebut.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...