
“Bee dalam bahasa Inggris artinya lebah, tapi dalam hubungan percintaan bee memiliki makna lain. Bee artinya “sayang”, yaitu salah satu panggilan yang biasa diucapkan oleh sepasang kekasih,” jelas Lucia
“Beberapa pasangan juga menggunakan kata bee untuk memanggil sosok kesayangannya. Tidak hanya sekadar sebagai panggilan saat berpacaran, kata bee juga cocok digunakan dalam hubungan pasangan suami istri,” sambungnya.
“Kalau begitu aku juga memiliki nama panggilan kesayangan untuk istri tercintaku ini,” ujar Levi yang juga ingin membuat panggilan kesayangannya untuk Lucia.
“Apa itu?” tanya Lucia yang penasaran din buatnya.
“Antara Honey dan My Queen, mana yang lebih kau sukai?” Sebelum memutuskan, Levi ingin mendengar pendapat dari Lucia terlebih dahulu.
“Kenapa kau menanyakan pendapatku? Seharusnya sebuah nama panggilan di pilih sendiri oleh orang yang ingin memberikannya,” jelas Lucia yang terlihat sedikit kecewa.
“Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu My Queen mulai detik ini,” ujar Levi yang langsung memutuskan, hingga Lucia pun langsung tersenyum mendapat panggilan seperti itu.
“Bee!” panggil Lucia check sound.
“Iya, My Queen!” sahut Levi spontan.
“Love you, My Bee!” bisik Lucia.
“Love you too, My Queen!” balas Levi.
Setelah merasa cukup jalan-jalannya, Levi dan memutuskan kembali ke Villa untuk beristirahat. Melihat Lucia yang langsung tertidur karena kelelahan, Levi pun tak tega untuk mengganggunya. Akhirnya dia pun tertidur di samping Lucia dengan menjadikan tangannya sebagai bantal untuk istrinya tercintanya itu.
...****************...
Malam hari yang berbeda di Paris, lebih tepatnya di rumah sakit terbaik di kota tersebut. Axlyn kembali membuka matanya dan orang yang pertama dia lihat masih Luca. Axlyn pun memilih untuk mengabaikan keberadaannya, tapi tidak dengan Luca yang segera beranjak dari tempat duduknya begitu melihat Axlyn sudah terbangun.
Axlyn pun hanya diam memperhatikan kemana perginya Luca. Ternyata Luca sedang mengambilkan makanan dan obat yang sebelumnya sudah di sediakan oleh perawat yang bertugas. Luca pun langsung membawa nampan berisi makanan dan obat itu kepada Axlyn, dia menyiapkan semuanya untuk Axlyn tanpa berkata apapun.
“Kenapa kau masih di sini?” Akhirnya Axlyn bertanya terlebih dahulu.
“Kau ingin aku tinggalkan sendirian di negara asing dan bersama orang-orang asing di sini? Begitukah yang kau mau?” tanya Luca balik dengan raut wajah dinginnya.
Seketika Axlyn pun sadar bahwa saat ini mereka masih berada di Paris, karena dirinya terluka. Dan seperti yang di katakana Luca, dia tidak bisa berbahasa Prancis dan tidak mengenal baik lokasi negara itu. Jika Luca meninggalkannya begitu saja di sana, maka tidak banyak yang bisa Axlyn lakukan seorang diri.
“Makanlah! Setelah itu, minum obatmu dan kembalilah beristirahat,” ujar Luca dengan nada memerintah.
Axlyn lalu mencoba mengambil sendok makan itu dengan tangan kirinya. Kemudian, dia mencoba mengambil sesuap nasi yang ada di piring. Namun, karena belum terbiasa menggunakan tangan kirinya untuk makan, Axlyn pun berkali-kali gagal untuk memasukan nasi it uke dalam sendoknya.
Awalnya, Luca bersikap seolah tidak melihatnya. Akan tetapi, entah kenapa dia menjadi kesal sendiri melihat Axlyn yang sedang kesulitan dengan sendok makannya. Hingga akhirnya Luca tidak tahan lagi dan langsung saja merebut sendok itu dari tangan Axlyn.
“Biar aku membantu makan,” ujar Luca sembari mengambilkan nasi dan lauk dengan menggunakan sendok yang berhasil di rebutnya itu.
“Tapi aku masih bisa makan sendiri,” tolak Axlyn yang akan merasa sangat canggung kalau Luca sampai menyuapinya makan.
“Benarkah? Tapi kenapa setelah sepuluh menit telah berlalu, kau masih tidak bisa memasukan sebutir nasi pun ke dalam mulutmu yang cerewet itu?” cecar Luca masih dengan raut wajah dinginnya.
“Karena aku belum terbiasa menggunakan tangan kiriku untuk makan,” jelas Axlyn memang itu kenyataannya.
“Kalau begitu aku akan membantu sampai kau terbiasa menggunakan tangan kirimu itu,” ujar Luca yang tak mau kalah debat.
“Kau yakin tidak akan merasa canggung saat menyuapiku?” tantang Axlyn yang sangat yakin Luca pasti akan menyerah dengan keputusannya.
“Kenapa aku harus merasa canggung karena menyuapimu? Kau bukan wanita yang aku cinta? Kau juga bukan istriku? Dan yang lebih penting itu kau terluka karena melindungiku. Jadi sudah menjadi hal wajar kalau aku membantumu,” jelas Luca yang membuat Axlyn salah tingkah.
“Tunggu! Jangan katakan kalau kau mulai menyukaiku?” sambung Luca yang membuat Axlyn semakin kehilangan muka dan kata-kata.
“Kalau tidak ‘yah sudah biasa saja! Kenapa sampai membentak ku segala,” gumam Luca yang sedikit terkejut dengan reaksi Axlyn.
“Tentu saja karena perkataanmu barusan,” ketus Axlyn dengan raut wajah kesalnya.
“Jangan bicara seperti itu, nanti aku malah salah mengartikannya! Lebih baik cepat buka mulutmu agar suasana canggung yang kau bahas terus menerus,” ujar Luca yang memaksa Axlyn untuk membuka mulutnya.
Dengan sangat terpaksa Axlyn pun menerima suap demi suap makanan yang di berikan oleh Luca, hingga tak tersisa. Tidak lupa Luca juga memberikan obat yang harus di minum oleh Axlyn. Setelah itu, Luca juga memaksa Axlyn untuk kembali beristirahat. Tapi karena masih belum mengantuk lagi, Axlyn pun menolaknya dan malah meminta ponselnya yang sudah pasti di simpan oleh Luca.
“Sekarang kau tidurlah lagi,” ujar Luca yang menyuruh Axlyn untuk kembali berbaring.
“Aku baru saja bangun, jadi tidak bisa tidur lagi!” sahut Axlyn dengan nada ketusnya.
Luca terlihat menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk meredam emosinya. Kemudian Luca berkata, “Terserah kau saja!”
“Dimana Ponselku? Apakah kau yang menyimpannya?’ tanya Axlyn yang langsung mencari keberadaan ponselnya.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya,” ujar Luca yang kembali beranjak dari tempat duduknya.
Saat itu Luca meletakkan ponsel miliknya begitu saja, sehingga tanpa sengaja Axlyn dapat melihat dengan jelas isi di dalam ponsel milik Luca itu. Betapa terkejutnya Lucia ketika melihat foto Levi dan Lucia sedang makan malam romantis di tepi pantai.
Saat itu juga hatinya kembali merasakan sakit yang teramat sangat, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya ketika melihat Luca kembali menghampirinya dengan membawa ponsel yang dia mau.
“Ini ponselmu!” Luca langsung menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.
“Terima kasih,” ucap Axlyn lirih.
“Levi dan Lucia sudah sampai di tempat bulan madu mereka dengan aman dan selamat. Bahkan mereka sedang makan malam romantis,” ujar Luca yang menyadari bahwa Axlyn sudah melihat foto yang di kirimkan oleh Marvin kepadanya.
“Emmm, … Aku sudah melihatnya tadi, tanpa sengaja!” sahut Axlyn.
“Apa kau butuh pelukan?” tanya Luca tiba-tiba.
“Apa kau sudah gila?” tanya Axlyn balik dengan nada ketusnya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...