Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Love Story ViLuc Part. 2



“Jangan mengalihkan topik!” tukas Lucia yang sedang tak ingin bercanda.


“Siapa yang mengalihkan topik, memang pemandangan di sini jauh lebih indah. Apalagi karena ada kamu di sini,” ujar Levi yang semakin memprovakasi Lucia.


“Kak Levi!” seru Lucia yang terdengar begitu manja di telinga Levi.


“Iya, baiklah! Itu sudah seperti kebiasaan untukku, seperti aku memanggil Will, Felix dan yang lainnya. Lagi pula dia tidak setua Paman Bastian dan tidak masalah aku memanggilnya seperti itu,” jelas Levi yang akhirnya menjawab apa yang ingin istrinya ketahui.


“Apa kau masih marah? Kalau kau tidak menyukainya, maka aku akan memanggilnya Paman Marvin mulai sekarang,” sambung Levi saat melihat raut wajah Lucia yang tidak berubah ekspresi.


“Lupakan, panggil saja senyaman mu,” sahut Lucia yang kembali berjalan.


Levi pun tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu, dia pun segera berlari menghampirinya. Kemudian, Levi meraih tangan Lucia dan menggenggamnya dengan erat.


Seraya berkata, “Suami istri harus berjalan beriringan sambil bergandengan tangan!”


Lucia pun hanya membalas perkataan Levi dengan senyuman manisnya. Kemudian, Lucia menyenderkan kepalanya di bahu Levi sembari menikmati pemandangan matahari terbenam yang menambah suasana romatis mereka. Hingga mereka pun menemukan spot yang bagus untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dan mereka pun duduk di sana.


“Bukankah tempat ini sangat indah?” tanya Lucia masih dalam dekapan suaminya.


“Emmm, … Seperti yang aku katakana sebelumnya, tempat ini sangat indah apalagi karena ada dirimu di sampingku seperti ini,” jawab Levi yang mulai menggombal.


“Aku juga tidak menyangka akan datang ke tempat ini lagi bersamamu sebagai suamiku,” ujar Lucia yang membuat Levi terkejut ketika mendengarnya.


“Kau sudah pernah datang ke tempat ini? Kapan? Bersama dengan siapa?” cecar Levi raut mukanya terlihat panik dan kesal.


“Bersama dengan Mamah, Papah dan Kak Luca saat usiaku tujuh tahun,” jawab Lucia.


Mendengar jawaban Lucia seketika Levi pun teringat dengan masa itu. Saat dia dan klan BlackSky memusnahkan Evan beserta anak buahnya. Pertempuran yang membuat Luca mengalami shock berat, karena dialah yang berhasil membunuh Evan dengan tangan mungilnya untuk melindungi keluarganya.


“Kak Levi pasti mengingatnya.” Suara Lucia menyadarkan Levi dari lamunannya.


“Iya, aku tidak akan pernah melupakan saat itu,” sahut Levi lirih.


“Saat itulah Kak Luca untuk pertama kalinya membunuh orang dan orang itu adalah orang selama ini dekat dengan kami. Bahkan bisa di katakan bahwa kami tumbuh di bawah perlindungannya, tapi siapa sangka akhirnya akan sangat tragis, baik untuk kami maupun mendiang Paman Evan,” ujar Lucia yang terlihat membendung air matanya.


“Apa sampai sekarang kalian masih merasa bersalah atas kejadian itu?” tanya Levi memastikan.


“Bohong kalau aku menjawab tidak, tapi semua ini pasti sudah menjadi bagian dari takdir hidup kami,” jawab Lucia yang tersenyum tipis sambil menatap dalam pada Levi.


Levi pun langsung mencium bibir Lucia. Awalnya Lucia sedikit terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu, tapi kemudian dia terbiasa dan mulai membalas ciuman itu. Cukup lama mereka berciuman, hingga Levi pun mengakhirnya.


Dengan berkata, “Tidak ada satu pun kata untuk aku katakan untuk menghiburmu, maka dari itu aku menciummu agar bisa sedikit menghiburmu.”


“Aku tahu! Dan aku juga menyukai caramu menghiburku,” ujar Lucia yang sekilas mengecup bibir Levi.


“Lupakan saja semua masa lalu yang menyakitkan untukmu, hanya itu yang bisa aku katakan untuk membantumu,” ucap Levi dengan pandangan yang tak pernah luput dari wajah Lucia.


“Maka bantu aku untuk melupakan semua masalalu yang buruk itu, gantikanlah dengan masa-masa indah yang berisi tentang dirimu,” balas Lucia.


“Baiklah, mulai sekarang kita akan menciptakan kenangan indah saja,” sahut Levi sembari memeluk erat tubuh istrinya.


Cukup lama mereka berpelukan sembari menikmati sunset yang begitu indah. Namun, tiba-tiba Levi ingin mengetahui semua yang Lucia lakukan setelah mereka berpisah dulu. Dan begitu pula sebaliknya, Levi akan menceritakan semua kisahnya setelah kembali ke negara K.


“Hmmm, … Tidak banyak yang terjadi, karena waktu itu aku masih berusia tujuh tahun. Jadi, aku lebih meluangkan banyak waktu untuk belajar dan belajar,” ujar Lucia.


“Kau tidak merindukanku sama sekali!” seru Levi yang sedikit merasa kecewa.


“Aku selalu merindukan Kak Levi, makanya setiap ada waktu aku pasti meminta ijin pada Papah untuk menghubungimu! Namun, siapa sangka setelah beberapa bukan kembali Kak Levi malah selalu menolak panggilan dariku,” gerutu Lucia yang menjadi kesal ketika mengingat saat itu.


“Kenapa Kak Levi selalu menolak telepon dariku? Jangan-jangan saat itu Kak Levi sedang asyik bermain dengan wanita lain ‘yah!” lanjut Lucia yang langsung menuduh Levi masih menjalani kehidupan playboy-nya begitu kembali ke negaranya.


“Tidak! Setelah aku mengenalmu dan jatuh cinta padamu, sejak saat itu aku tidak pernah pergi ke bar atau diskotik lagi. Bahkan aku tidak pergi dengan wanita manapun!” sanggah Levi dengan cepat.


“Lalu apa yang Kak Levi lakukan? Aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih, karena selalu memikirkan tentang Kak Levi meskipun tidak ada kabar lagi tentangnya kecuali dari Paman Will ataupun Paman Felix,” ujar Lucia yang terlihat semakin kesal.


“Benarkah? Satu pun tidak pernah, karena aku?” cecar Levi yang tampak lebih terkejut dari sebelumnya selain itu wajahnya pun perlihat sangat bahagia mendengar kebenaran yang satu ini.


“Tentu, tidak seperti Kak Levi yang mempunyai banyak wanita. Bahkan kata Paman Will pernah hampir setiap hari Kak Levi membawa wanita yang berbeda-beda,” ujar Lucia yang spontan membuka masa lalu Levi.


“Aku tidak pernah seperti itu! Paling singkat satu minggu baru ganti,” cetus Levi tanpa sengaja membenarkan aibnya sendiri.


“Ouh, … Jadi, begitu! Paling singkat satu minggu ‘yah? Sekarang masih mau seperti itu?” Lucia tampak semakin geram dengan Levi.


“I-itu ‘kan dulu, sebelum aku bertemu denganmu! Dan sejak bertemu denganmu aku sudah berhenti, jadi apalagi sekarang! Jika aku masih melakukannya, sebelum kau membunuhku mungkin aku sudah menjadi butiran debu oleh Papahmu.” Levi sampai tergagap saat menjelaskannya.


“Hahahaa, … Lihatlah wajahmu! Sangat lucu kalau sedang merasa terdesak atau ketakutan.”


Lucia malah tertawa puas melihat reaksi suaminya, sedangkan Levi menjadi bingung sendiri dan terus berpikir memang apanya yang lucu dari dirinya. Sehingga Lucia tertawa begitu lebar sampai Levi tak mau untuk menghentikan tawa indah itu.


“Hay, kenapa kau malah menatapku seperti itu?” tanya Lucia yang menyadari Levi terus melihatnya tertawa.


“Pemandangannya menjadi lebih indah hanya dengan tawamu,” puji Levi seraya menunjukkan senyuman termanisnya.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...