Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Ide Cemerlang Regis!



“Apakah yang kau maksud itu, _....”


“Benar, klan BlackSky dan ViLuc sedang dalam perjalan menuju ke tiga markas kita. Sebaiknya kita bersiap untuk menghadapinya.”


Kaendra segera memotong ucapan Leona, karena mereka tidak banyak waktu untuk mempersiapkan perlawanan. Tanpa buang waktu, Leona pun segera pergi untuk mempertahankan daerah kekuasaannya. Begitu juga dengan Kaendra yang mengikuti Leona pergi untuk mempertahankan area kekuasannya juga dan meninggalkan Luke yang masih terdiam.


Setelah cukup lama mematung, Luke lalu tersadar dan juga mulai melakukan persiapan untuk menghadapi pasukan gabungan Rayden. Namun, sebelum itu Luke pun memerintahkan beberapa pelayan dan anak buahnya untuk selalu mengawasi Lucia ketika pertarungan berlangsung.


“Apapun yang terjadi di luar sana! Kalian tidak boleh meninggalkan Lucia sendirian, kalian tidak boleh membiarkan pergi kemanapun dan sebisa mungkin dia harus tetap di dalam kamarnya,” perintah Luke.


“Baik, Tuan!” sahut para pelayan dan anak buahnya.


“Sial! Aku tidak menyangka mereka segila itu dengan menyerang markas utama musuhnya,” umpat Luke sembari berjalan pergi untuk memastikan anak buahnya yang akan bersiap mengikuti pertarungan.


...****************...


Sementara itu, pasukan Felix hampir tiba di markas Black Wolf. Lokasinya benar-benar jauh dari pemukiman warga, tapi markasnya terlihat sangat luas dan besar layaknya satu perkampungan yang dijadikan satu.


Namun, ada yang aneh saat memperhatikan keadaan sekitar markas itu. Seperti tidak ada satu orang pun yang ada di sana, hal itu membuat Felix dan yang lainnya memutuskan untuk menunggu beberapa saat di luar kawasan markas.


Awalnya Felix berniat untuk langsung menyerang markas itu, tapi Jaydon tidak menyetujui karena di nilai terlalu gegabah. Terlebih lagi mereka tidak tahu persiapan seperti apa yang di lakukan oleh musuh, sehingga Regis pun memberikan satu saran.


“Apa ini lokasinya?” tanya Jaydon memastikan.


“Sepertinya begitu,” sahut Felix.


“Benar, di depan itu adalah pintu untuk memasuki markas mereka,” jawab Regis membenarkan.


“Bagaimana kalau kita langsung menyerang mereka saja!” seru Felix dengan penuh percaya diri.


“Kau gila ‘yah? Kita bahkan tidak tahu ada berapa banyak pasukan mereka, terlebih lagi bagaimana kalau mereka sudah menyiapkan jebakan untuk kita. Kita bisa mati sebelum bertarung hanya karena sikap gegabahmu itu,” tukas Jaydon yang menolaknya dengan tegas.


“Kau lihat sendir ‘kan? Mereka tidak akan keluar dari sana, padahal sudah tahu bahwa kita berada di sini sampai kapan kita akan menunggu seperti ini?” ujar Felix yang terkesan tidak sabaran.


“Bagaimana kalau kita mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana dengan menggunakan ini.”


Regis segera menengahi perdebatan kedua pamannya itu dengan menyarankan sebuah ide cemerlang dengan menggunakan drone untuk memantau keadaaan. Saran itu pun di sambut dengan baik oleh Felix dan Jaydon, lalu Regis pun memulai aksinya. Regis perlahan mulai menerbangkan salah satu drone miliknya dan mengarahkannya memasuki markas musuh.


Dorr, …


Namun, belum sampai lima menit dia menerbangkan dronenya tiba-tiba drone miliknya terkena tembakan entah dari arah mana. Bukan hanya Regis saja yang terkejut karena dia harus merelakan salah satu drone miliknya, semua orang pun terkejut begitu mendengar suara tembakan itu.


“Astaga! Hampir saja jantungku meloncat keluar dnegan indahnya!” gumam Regis sembari memegangi dadanya.


“Apa itu tadi?” tanya Jaydon dan Felix bersamaan.


“Apalagi kalau dronenya rusak karena tembakan barusan,” jawab Regis sambil dia menyiapkan drone yang lainnya.


“Jadi ini alasan tidak ada pergerakan dari mereka!” ujar Felix yang akhirnya mulai memahami mengapa markas itu terkesan sangat sepi.


“Sepertinya mereka memang ingin menunggu sampai kita masuk sendiri ke jebakkan yang suda mereka siapkan. Beruntung, kita tidak mengikuti rencana yang tadi, kalau tidak istriku akan menjadi janda dan putri akan menjadi anak yatim,” imbuh Jaydon seraya menyindir Felix secara terang-terangan.


“Baiklah, aku akui bahwa tadi rencanaku terlalu gegabah. Lagi pula aku juga tidak ingin madu muda, lalu sekarang apa rencanamu?” ujar Felix yang mengakui kesalahannya.


Namun, kali ini Regis juga memerintahkan anggota tim pemantau untuk menerbangkan dronenya secara bersamaan. Baru beberapa menit drone itu di terbangkan, suara tembakan pun kembali terdengar bersamaan rusaknya beberapa drone sekaligus.


Tapi itu tidak masalah bagi Regis, karena memang itulah rencananya. Menjadikan drone lain untuk mengecoh sementara drone miliknya terus memantau dan mengambil video yang di lalui ole drone itu. Alhasil, Regis pun berhasil menemukan satu titik yang bisa mereka gunakan untuk melakukan penyerangan.


“Aku menemukannya!” seru Regis, hingga membuat Felix dan Jaydon langsung mendekatinya.


“Kita bisa melakukan penyerangan lebih dulu sebelum melalui sisi kiri dari tempat kita saat ini,” lanjut Regis.


“Aish, … Sialan, drone milikku terkena tembakan lagi,” umpat Regis yang harus mengakhir pemantauannya, karena drone miliknya kembali rusak oleh tembakan dari musuh.


“Apakah area itu aman untuk kita menyerang?” tanya Jaydon memastikan


“Sepertinya begitu, karena sisi itu terlihat berbatasan langsung dengan hutan. Kita bisa menggunakan batang pohon di sana untuk berlindung dari serangan mereka, tapi sebenarnya aku memiliki rencana lain yang lebih efisien,” jelas Regis yang ingin mengutarakan rencana tapi dia ragu.


“Memang apa rencanamu?” tanya Felix dan Jaydon serentak, mereka berdua sama-sama penasaran dengan rencana dari salah satu keturunan raja iblis Rayden.


“Begini, … Paman tahu ‘kan kalau akau bisa menciptakan senjata berbahaya bahkan alat yang bisa meledakan satu rumah dalam hitungan detik. Dan kebetulan sekali hari ini aku membawa beberapa hasil penemuan dan ciptaanku sendiri,” ujar Regis yang terkesan menggantung perkataannya.


“Lalu?” desak Felix menuntut penjelasan lebih.


“Hmmm, … Bagaimana kalau kita jadikan saja mereka sebagai bahan percobaan untuk penemuan terbaru ini. Kita tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menyerang mereka terlebih dahulu. Kita gunakan saja semua drone ini untuk meledakan tempat persembunyian mereka dengan begitu mereka akan keluar dengan sendirinya dari tempat persembunyian mereka. Saat itu juga kita bisa menyerangnya dengan mudah.”


Regis menjelaskan rencananya dengan sepenuh hati dan antusias, karena dnegan begitu mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau sekaligus. Regis mendapatkan bahan percobaannya, sedangkan Felix dan Jaydon tidak perlu berpikir keras lagi untuk membuat musuhnya keluar dari persembunyian.


“Wahh, … Kau memang anaknya Rayden dan cucunya Noland, tidak sia-sia aku memilihmu untuk bergabung dengan timku!”


Felix langsung memberikan pujian untuk Regis dan tentu saja menyetujui rencana hebat dari Regis, kalau perlu rencana itu bisa langsung memusnahkan para musuhnya sehingga dia tidak perlu bekerja lagi untuk menyelesaikan tugasnya.


Begitu juga dengan Jaydon dan yang lainnya, kemudian mereka Regis dan tim pemantau segera meluncurkan rencana. Sedangkan Felix dan Jaydon bersiap untuk menyerang saat musuh keluar dari persembunyian.


^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...