Soulmate: Mafia Love Story

Soulmate: Mafia Love Story
Alasan Rayden



“Zhi, _....”


“Sama! Semua terulang pada putri kita, Ray!” potong Zhia yang tak ingin mendengar alasan apapun dari Rayden.


“Apa kau ingin membiarkan putri kita satu-satunya merasakan penderitaan yang pernah aku rasakan dulu, Ray!” lanjut Zhia dengan nada bicaranya yang semakin meninggi.


“Dulu kau seorang diri, Zhi! Dan sekarang Lucia mempunyai kita semua. Aku pastikan dia tidak akan pernah menderita seperti kau alami dulu,” ujar Rayden dengan penuh percaya diri.


“Ray, kebahagian seseorang tidak bisa di dapatkan hanya karena uang. Sejak kapan kau menjadi orang yang berpikiran sempit seperti ini, Ray!” tukas Zhia dengan tatapan tak percaya, saat itu juga Rayden kembali terdiam.


“Dulu aku juga tidak sendirian, Ray! Ada Evan yang selalu ada untukku sebelum aku bertemu denganmu lagi. Dulu, jika aku tidak memikirkan tentang perasaan Luca dan Lucia yang terus bertanya tentang ayah kandungnya. Mungkin sekarang aku sudah hidup sebagai istri Evan!”


Mendengar itu seketika membuat mata Rayden langsung terbelalak mendengar cerita dari Zhia yang selama ini tak pernah Zhia ceritakan padanya. Zhia memang menceritakan tentang kehidupannya selama di negara B bersama si kembar, tapi dia tidak pernah bercerita bahwa dia hampir menjalin hubungan dengan Evan. Tepatnya sebelum Zhia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil Luca dan Lucia.


“Aku menderita karena tidak ingin membiarkan Luca dan Lucia memiliki ayah lain selain ayah kandungnya yaitu kamu, Ray! Dan sekarang, bagaimana kalau Lucia juga hamil anaknya Levi?” cecar Zhia yang mulai berderai air mata.


“Kita memang bisa membesarkan anak itu tanpa keberadaan Levi sebagai ayahnya. Tapi bagaimana kalau anak itu sudah tumbuh besar dan menanyakan siapa ayah kandungnya? Kenapa dia tidak memiliki ayah, sementara anak-anak lain memilikinya? Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat itu, ketika Luca dan Lucia bertanya tentang keberadaan mu” sambungnya.


Zhia semakin terisak, sehingga Rayden pun ikut berderai air mata hanya karena membayangkan apa yang Zhia katakan. Yang bisa Rayden lakukan saat berbicara dengan Zhia hanya terdiam dan menangis, membayangkan bahwa Lucia tersenyum di balik tangisannya.


“Ray, aku tahu kau adalah ayah yang sangat baik untuk Luca dan Lucia maupun Triple R. aku tahu betapa sayangnya dirimu pada Lucia, karena dia putrimu satu-satunya. Dan aku tahu kau tidak ingin memberikan putrimu satu-satunya putrimu pada pria lain,” urai Zhia sembari menahan tangisannya.


“Tapi, Ray! Itulah peran kita sebagai orang tua. Merawatnya saat mereka kecil, melindunginya saat mereka baru belajar berjalan, mengajarkan mereka untuk meraih kebahagian dan mencintainya sampai kita tiada di dunia ini. Entah sekarang atau nanti, kita tetap harus siap melepaskan mereka ketika mereka sudah menemukan belahan jiwanya,” sambung Zhia yang kali ini berusaha membuat Rayden mengerti.


“Tapi aku ingin putriku mendapatkan yang terbaik, Zhi!” ujar Rayden dalam isakannya.


“Semua orang tua pasti menginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, Ray! Begitu juga aku,” sahut Zhia.


“Kau tahu kenapa aku tidak mau putri kita menikah dengan Levi, meskipun mereka sudah melakukan itu?” tanya Rayden pada Zhia yang tentunya tidak tahu jawabannya.


“Itulah yang ingin aku ketahui sekarang, Ray! Maka dari itu aku mengajakmu untuk bicara,” jelas Zhia.


“Kau tahu, bukan? Bahwa aku membesarkan Levi sejak dia masih kecil, karena itulah aku tahu segalanya tentangnya. Aku tahu dia suka berganti-ganti pasangan di bar, peminum berat dan bahkan kau tahu sendiri bahwa dia seperti bocah psikopat,” urai Rayden.


Akhirnya dia mau mengungkapkan isi hati dan pikirannya yang selama ini dia coba pendam seorang diri. Mendengar masalalu Levi, Zhia pun sedikit tertegun. Dia tidak pernah mengira bahwa Levi memiliki masalalu seburuk itu.


“Aku takut! Dia masih melakukan itu sampai sekarang. Aku takut, putri kita akan menderita saat menikah dengannya,” ujar Rayden masih dalam tangisnya.


Mendengar semua pertimbangan Rayden sebagai seorang ayah, kini Zhia pun mulai mengerti perasan Rayden selama ini. Dia pun beralih duduk di sampin Rayden dan meraih tubuhnya ke dalam pelukkannya. Berusaha menenangkan hati maupun pikiran Rayden yang selama ini berkecamuk seorang diri.


“Ray, semua orang pasti akan berubah terutama saat mereka sudah bertemu belahan jiwanya! Aku, Kamu, Will dan yang lainnya. Kita semua pasti memiliki masalalu yang sangat buruk seperti Levi, tapi sekarang lihatlah! Kau berubah, karena sekarang kau memiliki aku dan anak-anak,” ujar Zhia yang mencoba memberikan Rayden pengertian.


“Dan aku percaya, Levi juga pasti akan berubah setelah bersama putri kita! Jangan, menduga terlalu jauh tentang apa yang belum tentu terjadi di masa depan. Jika pun Levi kelak masih tetap tidak berubah, masih ada kau, Luca dan yang lainnya yang akan membuat Levi sadar betapa berharganya putri kita. Jika dia berani menyakitinya.” Lanjutnya.


“Aku akan memikirkannya dulu, Zhi!” sahut Rayden yang terdengar lirih, karena dia sedang menyembunyikan wajah habis menangisnya di tubuh Zhia.


...****************...


Beralih pada Levi dan Lucia yang kini sudah berada di taman. Awalnya mereka hanya diam sembari saling menatap, hingga Lucia tiba-tiba saja menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Levi dan menangis sampai sesegukan. Melihat Lucia menangis, Levi yang tadinya terkejut mendapat pelukan tiba-tiba seketika langsung panik.


“Apa yang terjadi, Nona? Kenapa anda menangis seperti ini?” tanya Levi dengan raut wajah paniknya.


Sedangkan tangannya membalas pelukan tersebut berharap bisa sedikit menenangkan Lucia. Namun, Lucia tidak menjawab pertanyaannya sama sekali dan terus saja menangis. Sehingga Levi pun memilih untuk diam sementara waktu sampai Lucia merasa sedikit lebih baik. Mereka saling berpelukan cukup lama di taman itu.


“Bisakah Kak Levi tidak pergi lagi?” pinta Lucia masih dalam keadaan memeluk Levi dengan begitu erat.


“Apa terjadi sesuatu dengan Nona dengan Tuan muda?” tanya Levi yang mulai mengkhawatirkan Lucia.


“Tidak! Aku hanya takut kalau Kak Levi menghilang lagi karena perintah dari Papah,” ujar Lucia seakan sedang membahas mengenai masa lalu.


“Saya juga tidak tahu, Nona! Saya akan melakukan apapun perintah dari Tuan muda sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatan saya, _....”


“Jika Kak Levi memang ingin bertanggung jawab! Maka jangan pernah mendengarkan perintah dari Papah, bertanggung jawablah kepadaku saja!” potong Lucia yang menatap Levi dengan lekat.


^^^Bersambung,....^^^


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...