
Semua orang seketika terdiam, begitu juga Rayden yang tak mampu berkata apapun untuk menanggapi permintaan putri satu-satunya itu. Semua orang pun menunggu jawaban dari Rayden, tetapi dia malah terus berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan.
“Lihatlah Papahmu! Dia bahkan tak bereaksi sama sekali dengan pendapatmu,” ujar Noland pada Lucia.
“Mungkin Papah masih butuh waktu! Aku akan coba ikut membujuk Papah. Jangan sedih, Lucia! Kami semua di sini pasti akan membantumu untuk membujuk Papah,” sahut Luca sembari mengelus kepala adik perempuannya dengan lembut.
“Iya, Kak! Aku tahu ‘kok,” balas Lucia yang tersenyum manis pada Luca.
“Kak, ada yang harus aku laporkan tentang tugas yang Kakak berikan waktu itu,” ujar Ryuga pada Luca.
“Nanti saja! Aku akan menemui Papah dulu,” kata Luca yang tidak mau Papahnya menunggu lama.
“Baik, Kak!” sahut Ryuga yang siap menunggu kapan pun, terlebih lagi kalau itu berhubungan dengan Papahnya.
...****************...
Luca pun mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang kerja Papahnya. Benar saja, dia sudah di tunggu oleh Papahnya yang raut wajahnya terlihat sangat sedih. Dari araut wajahnya sudah tampak jelas terlihat bahwa Rayden sedang memiliki banyak pikiran akhir-akhir ini dan Luca pun menyadari bahwa Lucia adalah penyebabnya.
“Pah, boleh Luca masuk!” ujar Luca yang selalu meminta ijin sebelum masuk ke ruang kerja Papahnya.
“Masuklah,” sahut Rayden yang mengijinkan.
“Duduklah,” lanjutnya yang menyuruh Luca untuk duduk sembari menyerahkan map yang sebelumnya di berikan oleh Levi.
“Apa ini, Pah?” tanya Luca sembari membuka isi yang ada di dalam map itu.
“Levi datang memberiku informasi ini. Apakah sama dengan yang kau temukan?” tanya Rayden memastikan.
Luca pun membacanya dengan seksama dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa informasi itu sama persis dengan informasi yang dia dapatkan dengan susah payah. Melihat dari reaksi terkejut putranya, Rayden pun sadar bahwa putrinya saat ini benar-benar dalam bahaya.
“Sepertinya informasi itu memang benar,” ujar Rayden menyadarkan Luca dari rasa terkejutnya.
“Benar, Pah! Menurut informasi yang Luca dapatkan klan mafia ini memang sangat berbahaya.” Luca pun langsung membenarkan.
“Mereka di ketahui sebagai kelompok mafia yang sangat tertutup. Belum ada kasus salah satu dari anggota itu bisa tertangkap oleh pihak yang berwajib, meskipun rumornya mengatakan bahwa kelompok itu melakukan bisnis obat-obatan terlarang dan juga perdagangan organ dalam,” jelas Luca sesuai informasi yang berhasil dia dapatkan.
“Bagaimana dengan rekaman cctv yang berada di hotel malam itu?” tanya Rayden lagi.
“Sepertinya mereka memiliki seorang hacker yang handal, hampir semua rekaman pada malam itu tidak dapat di pulihkan,” jawab Luca.
“Sialan, tapi kenapa mereka menargetkan Lucia?” umpat Rayden yang masih bertanya-tanya dimana akar masalah dalam kejadian ini.
“Sepertinya Luca tahu dimana akar masalah ini bermula, tapi bisakah Papah berjanji tidak akan memberi hukuman berat pada mereka,” ujar Luca dengan ragu-ragu.
“Mereka? Jangan bilang kalau Ryuga, Rayga dan Regis membuat masalah lagi dan Lucia yang mengurusnya secara diam-diam?” cecar Rayden yang langsung bisa menebaknya dengan tepat.
“Sepertinya begitu, Pah!” sahut Luca.
“Dasar anak-anak pembuat onar itu!” geram Rayden yang ingin segera melampiaskan kekesalannya pada ketiga putranya itu.
“Tapi, Pah! Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menghukum mereka, yang terpenting sekarang adalah melindungi Lucia,” ujar Luca yang mencoba meredam kemarahan papahnya.
“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!” desak Rayden.
“Melihat dari cara mereka yang tidak melukai Luci, melainkan memberikan Aphrodisiac yang itu merupakan salah satu obat stimulan yang dapat merangsang seseorang untuk berhubungan badan. Membuktikan bahwa Lucia telah menarik perhatian dari salah satu anggota terkuat dalam klan itu,” jelas Luca sembari mencari jalan agar bisa membujuk papahnya untuk merestui hubungan Levi dan Lucia.
“Benar, Pah! Salah satu dari mereka menyukai Luci dan bahkan menginginkannya dengan maksud tertentu,” potong Luca memperjelas dugaannya.
“Hal terbaik yang bisa kita lakukan sekarang adalah dengan menempatkan seseorang yang bisa melindungi sepanjang waktu. Dan pilihan terbaik saat ini hanya ada satu yaitu menikahkan Lucia dengan Kak Levi,” sambung Luca yang akhirnya tiba waktunya dia ikutan membujuk papahnya untuk merestui Lucia dan Levi.
“Haish, …. Kenapa kau juga ikut-ikutan dengan mereka semua,” protes Rayden.
“Bukan seperti itu, Pah! Di bandingkan Lucia menikah dnegan salah satu anggota klan itu, lebih baik dia menikah dengan Kak Levi. Setidaknya kita tahu bahwa Kak Levi sangat menyukai Lucia dan tidak mungkin dia akan menyakitinya dalam bentuk apapun,” jelas Luca lagi.
“Apa kau juga tahu bagaimana buruknya masalalu Levi?” tanya Rayden menekankan.
“Itu hanya sebuah masalalu, Pah! Yang terpenting adalah masa depan yang akan datang. Mereka saling menyukai sejak lama dan sekarang takdir berusaha menyatukan mereka, tapi kenapa Papah malah berusaha memisahkan mereka?” cecar Luca yang juga ingin papahnya segera menyadari tentang hal itu.
“Luca tahu itu keputusan yang sulit! Pikirkanlah baik-baik, Pah! Demi kebaikan semua orang terutama Lucia, putri kesayangan Papah,” sambung Luca yang mulai beranjak dari tempat duduknya.
“Kalau begitu Luca pamit pergi sekarang! Luca harus mencari tahu lebih jauh tentang klan ini dengan bertanya pada Levi,” lanjutnya, lalu berjalan keluar dari ruang itu meninggalkan Papahnya yang mulai termenung memikirkan perkataan semua orang.
...****************...
Begitu keluar dari ruang kerja papahnya, Luca langsung menemui ketiga adiknya untuk mendengar hasil yang di dapatkan dari tugas yang dia berikan sebelumnya. Namun sayangnya, hasilnya tidak jauh berbeda dari informasi yang dia dan Levi dapatkan. Sehingga tanpa melihat waktu, Luca pun langsung meluncur menemui Levi di kediaman Zaender.
“Tuan kecil, ada apa anda datang larut malam begini?” tanya Levi yang mengira telah terjadi sesuatu yang buruk kepada Lucia.
“Berhentilah memanggilku seperti itu,” protes Luca yang benar-benar kesal dirinya masih di sebut sebagai Tuan kecil, padahal dia sudah beranjak dewasa.
“Aaah, … Maafkan aku, sejenak aku lupa tentang permintaanmu yang satu itu,” ucap Levi yang langsung merubah cara bicaranya menjadi lebih santai dari sebelumnya.
“Hmmm, … Itu terdengar lebih baik dari sebelumnya,” sahut Luca yang akhirnya bisa merasa nyaman.
“Kenapa kau datang begitu larut begini? Apakah terjadi sesuatu?” Levi pun terpaksa mengulang pertanyaannya.
“Mau bekerjasama denganku untuk membunuh bajingan yang berniat melukai Lucia?” ujar Luca yang langsung to the poin.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...