
“Sudah cukup lama, Grandma! Rayga bahkan memiliki videonya,” ujar Ryuga.
“Kalau begitu, jadikan video itu rahasia untuk kalian bertiga saja. Jangan di sebarkan kepada orang lain, mengerti?” ucap Zhia yang menyuruh Ryuga dan kedua adiknya untuk selalu menyimpan rahasia itu sebaik mungkin.
“Baik, Mah!” sahut Ryuga.
“Lalu apa perbedaan terakhirnya, Mah?” lanjut Ryuga yang tak lupa menanyakan pelajaran terakhirnya.
“Perbedaan cinta dan sayang yang terakhir terletak pada bentuk opini yang terbelenggu dalam hubungan tersebut. Biasanya orang akan sulit beropini pada seorang yang dicintainya dan merasa setuju pada semua bentuk laku yang dilakukannya,” jelas Zhia.
“Hahahaa, … Kalau yang satu ini Papah banyak temannya,” sahut Ryuga yang malah tertawa sembari membayangkan bukan hanya Rayden saja yang selalu mengalah pada wanita yang di cintainya.
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Ryu?” tanya Zhia yang berpura-pura tidak tahu maksud dari perkataan putranya itu.
“Mereka akan lebih memilih memakan opini jika berseberangan pendapat atau menilai sesuatu dari pasangannya. Hal ini terjadi karena seseorang yang sedang jatuh cinta akan lebih mudah memaklumi kesalahan atau kekecewaan,” ujar Ryuga yang sudah sering menyaksikan kekecewaan Papahnya setiap kali kalah berdebat dengan Mamahnya, tapi tidak berani bersuara di depannya langsung.
“Kalau yang satu ini kau langsung memahami dengan baik yah, Ryu!” puji Julia yang harus mengakui memang apa yang di katakana cucunya itu memang benar adanya.
“Jangan seperti itu, Mamah doa’in kamu mendapat wanita yang lebih galak dari Mamah ‘loh!” ujar Zhia yang sengaja mengancam putranya yang sedikit nakal itu.
“Ampun, Mah! Ryu hanya bercanda saja barusan. Maafkan Ryu ‘yah, Mah!” ucap Ryuga yang sangat takut ucapan Mamahnya menjadi kenyataan.
“Mamah juga hanya bercanda ‘kok, sayang! Kita sudahi dulu ‘yah ceritanya hari ini? Sebab hari sudah mulai malam, Mamah dan Grandma harus menyiapkan makan malam untuk kita semua,” ujar Zhia seraya mengecup kedua pipi Ryuga dengan gemasnya.
“Baiklah, Mah! Terima kasih atas pelajaran dan ceritanya hari ini,” ucap Ryuga yang membalas mencium pipi Mamahnya dan tidak lupa dia menyempatkan diri untuk bergelayut manja pada Mamahnya.
“Hanya Mamahmu saja yang di cium dan di peluk? Grandma di abaikan begitu?” ujar Julia yang pura-pura merajuk.
“Hehehee, … Sekarang baru giliran Grandma! Terima kasih untuk ceritanya hari ini, Grandma! Ryu, sayang Grandma juga,” ucap Ryuga yang beralih memeluk Julia dan mencium kedua pipinya.
“Sudah sana pergi mandi dulu sembari menunggu makan malamnya siap!” perintah Julia pada cucu kesayangannya.
“Siap, Boss!” seru Ryuga sembari berlari menuju ke kamarnya.
Sementara itu, Julia dan Zhia langsung menuju ke arah dapur. Karena kedatangan Kakek Roman, mereka pun memasak berbagai macam hidangan. Namun, tidak lupa yang mereka utamakan adalah makanan kesukaan masing-masing orang terutama Regis yang terkadang sangat pilih-pilih makan seperti anak kecil.
...****************...
Di sisi lain, kapal pesiar yang di naiki Levi dan Lucia akhirnya sampai juga di pesisir pantai pulau yang menjadi tujuan mereka. Begitu turun dari kapal sudah ada beberapa orang yang menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang, Nona Lucia dan Tuan Levi! Semoga anda berdua berkenan dan dapat memiliki waktu yang indah di pulau ini,” sambut seorang pria paruh baya.
“Sayang, siapa dia?” bisik Levi, karena tidak ingin membuat orang itu tersinggung.
“Maaf atas kelancangan saya! Perkenalkan saya Marvin, orang yang bertugas dan bertanggung jawab mengurus dan menjaga Villa keluarga Xavier di pulau ini.”
Meskipun sudah berbisik, tapi Marvin masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dia pun langsung meminta maaf dan memperkenalkan dirinya dengan sikap yang sangat professional. Levi pun menjadi malu sendiri, terpaksa dia harus segera mengalihkan topik.
“Senang bertemu denganmu, Marvin! Saya Zaen Der Levi, seperti yang kau tahu sekarang aku suaminya Lucia,” ujar Levi yang juga memperkenalkan dirinya.
“Mereka sudah tahu, karena Kak Luca yang menyiapkan semua ini untuk kita! Jadi, sudah pasti kalau Kak Luca juga menceritakan tentang pernikahan kita,” bisik Lucia sekadar memberitahu tapi sepertinya agak terlambat.
“Benar, kami sudah mengetahuinya dari Tuan Luca! Saya hanya bisa memberi ucapan selamat atas pernikahan kalian berdua,” ujar Marvin.
“Mereka adalah para pelayan yang akan membantu anda selama di sini,” jawab Marvin sembari menyuruh para pelayan itu memperkenalkan dirinya masing-masing.
Karena takut melakukan kesalahan lagi, Levi pun harus menunggu sampai para pelayan itu selesai memperkenalkan diri masing-masing. Sedangkan mata Lucia terus tertuju pada Levi, dia pun menyadari seorang Levi ternyata bisa bersabar menunggu hanya demi dirinya.
“Apakah kalian sekarang sudah selesai memperkenalkan diri?” tanya Levi memastikan.
“Maaf, telah membuat waktu anda terbuang karena kami,” ucap Marvin.
“Bukan seperti itu maksudku,” sahut Levi yang semakin frustasi, karena dia takut orang-orang akan salah paham akan sikapnya.
“Paman Marvin, kami akan berjalan-jalan terlebih dahulu sembari menikmati pemandangan pantai. Kami akan kembali sebelum makan malam,” ujar Lucia membantu Levi keluar dari kecanggungannya.
“Baik, Nona!” sahut Marvin mengiyakan.
“Perlukah kami menyiapkan makan malam special untuk anda berdua?” lanjut Marvin menawarkan.
“Kalau itu tidak merepotkan kalian, aku akan sangat berterima kasih,” jawab Lucia.
“Tentu saja tidak merepotkan sama sekali! Kami bahkan merasa sangat bahagia begitu mengetahui bahwa anda dan suami anda mau menghabiskan masa bulan madunya di pulau kami yang kecil ini,” ujar Marvin.
“Silahkan nikmati jalan-jalannya, kami yang akan mengurus barang bawaan anda!” lanjut Marvin yang menyuruh beberapa pelayan untuk mengambil alih koper mereka.
“Terima kasih, Paman Vin!” ucap Levi, sontak saja membuat Lucia langsung menatap ke arahnya.
“Tentu, Tuan!” sahut Marvin yang hanya bisa tersenyum manis dengan panggilan barunya itu.
Setelah itu, Lucia pun langsung menarik Levi ke arah yang menuju ke pantai. Sedangkan Marvin dan para pelayan pun kembali ke Villa untuk menyiapkan makan malam special yang dia janjikan kepada Nona kecilnya. Setelah memastikan mereka sudah jauh dari orang lain, Lucia pun langsung membahas soal panggilan Levi pada Marvin barusan.
“Kenapa kau memanggil Paman Marvin seperti itu” seru Lucia yang langsung menghentikan langkah kaki Levi.
“Pemandangan di sini jauh lebih indah di bandingan dengan pemandangan yang lain yang pernah aku lihat selama ini! Apakah karena aku kamu di sisiku ‘yah?” ujar Levi yang malah mengalihkan topik dengan menggoda Lucia.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...