
Di lain sisi, ternyata kedatangan keluarga besar Xavier ke ZL Hotel juga di ketahui oleh Luke dan Kaendra. Mereka tidak sengaja melihat kedatangan Rayden dan yang lainnya ketika sedang sibuk bertengkar terkait kegagalan Kaendra dalam menangani Lucia.
“Kau sungguh benar-benar tidak berguna sama sekali!” ujar Luke sembari menunjuk ke wajah Kaendra.
“Seharusnya kau menyalin semua rekaman yang berada di hotel ini sebelum kau merusaknya. Jika saja kau menggunakan sedikit otakmu ini, maka wanita itu sudah menjadi milikku sekarang!” lanjutnya dengan nada bicara yang penuh dengan kemarahan dan penekanan.
Kaendra pun hanya diam membisu membiarkan dirinya di hina dan di caci maki seperti itu. Meskipun dia membalasnya, hanya ada kematian saja yang dia dapatkan jika melawan Luke. Hingga kedatangan keluarga Xavier membuat beberapa staff hotel menjadi heboh dan menarik perhatian mereka.
“Tuan, silahkan beritahu kepada kami jika memang ada yang perlu kami bantu!” ujar staff hotel itu yang terus mengikuti kemanapun Rayden dan yang lainnya pergi.
Namun, sepertinya Rayden dan yang lainnya tidak memperdulikan perkataan dari staf hotel itu. Dan terus saja berjalan masuk ke dalam lift. Melihat keberadaan keluarga Xavier di sana, Luke pun menyadari sesuatu mengenai keberadaan Lucia selama ini bersembunyi.
“Bukankah dia Rayden Cano Xavier,” gumam Kaendra yang mengenali sosok Rayden.
“Kau tahu siapa dia?” tanya Luke yang mereda amarahnya.
“Tentu saja! Dia adalah salah satu orang yang tidak boleh aku singgung saat di negara A, jika ingin bisnisku berjalan aman di negara itu,” jelas Kaendra.
“Apa kau juga tahu bahwa wanita yang kau kejar semalam adalah putri satu-satunya dalam keluarga Xavier?” tanya Luke lagi yang hanya ingin menguji kepintaran kakaknya itu.
“APA?!!” Sontak saja, Kaendra sangat shock ketika mengetahui identitas wanita yang di kejarnya semalam.
“Sudah aku duga, kau memang sangat bodoh,” ejek Luke sembari berjalan pergi menuju ke lift.
Kaendra pun mengikutnya, tetapi Luke hanya diam memperhatikan angka yang berada di depan lift tersebut yang terus naik. Kaendra pun ikut berdiam diri di depan Lift sambil sesekali memperhatikan sekelilingnya.
“Kenapa kau tidak menekan tombol liftnya?” tanya Kaendra yang penasaran dengan apa yang sedang di pikirkan Luke dengan berdiam diri di depan lift seperti itu.
“Menunggu dan mencari tahu kemana singa betinaku yang galak bersembunyi selama ini,” jawab Luke dengan santainya.
“Singa betina? Apakah yang dia maksud adalah wanita semalam?Artinya putrinya Rayden Cano Xavier dong!” Dalam hatinya Kaendra terus bertanya-tanya.
Hingga nomor yang tertera di lift pun berhenti berganti, menunjukanbahwa Rayden dan keluarganya berhenti di lantai teratas yang terdapat kamar di sana. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Luke pun langsung masuk ke dalam lift yang berada tepat di sebelah lift yang satunya. Seperti biasa Kaendra hanya mengikutinya masuk tanpa tahu alasan dia melakukan itu, mungkin karena penasaran.
“Hay, siapa kedua orang tua itu?” tanya Kaendra lagi.
“Roman Zaender dan orang kepercayaanya,Bastian!” sahut Luke yang dapat langsung mengenalinya.
...****************...
Begitu mereka sampai di lantai paling atas juga, Luke dapat melihat bahwa ada kamar yang terdapat banyak orang. Dan tak lama setelah dirinya tiba, ada dua orang pria tua lagi yang langsung masuk ke dalam kamar itu.
“Pah, hentikan! Jangan menghakiminya seperti ini. Kita dengarkan dulu penjelasan dari mereka berdua,” ujar Luca ketika berhasil memisahkan papahnya dari Levi.
“Apalagi yang harus aku dengarkan! Dialah orang yang telah menyentuh putriku, pasti dia juga yang mengirim orang-orang itu!” teriak Rayden yang berusaha untuk memukul Levi lagi.
“Apa maksud, Tuan muda? Aku juga tidak tahu kenapa Nona kecil bisa berada di dalam kamar saya!” sahut Levi yang kebingungan sendiri dengan situasinya sekarang.
“Apa katamu? Tidak tahu? Sudah pasti kau menarik putriku ke kamar ini. Iya, kan?” bentak Rayden yang hampir memukul Levi lagi, kalau saja Kakek Roman dan Bastian tidak datang tepat waktu.
“Hentikan! Kenapa kau ingin memukul cucuku?” seru Kakek Roman yang belum menyadari situasinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” sambungnya ketika mulai menyadari keadaan Levi dan Lucia tak berbusana.
“Lihatlah, kelakuan cucu bajinganmu ini kepada putriku!” teriak Rayden dengan penuh kemarahan sembari menunjuk ke arah Levi yang sudah cukup babak belur.
“Dasar sialan kau, Levi! Inikah balasanmu kepadaku?” teriak Rayden lagi yang tak dapat meredakan emosinya.
“Cano, hentikan! Kita bicarakan saja masalah ini secara baik-baik. Seperti yang Luca katakan, kita dengarkan dulu penjelasan dari mereka berdua,” ujar Noland yang berusaha menenangkan putranya itu.
“Penjelasan apa lagi? Semuanya sudah sangat jelas, Levi telah menodai putriku!” seru Rayden, hingga menyadarkan Levi dan Lucia bersamaan.
Mereka pun langsung saling menatap dalam diam, kedua pun mulai teringat tentang kejadian malam panas semalam.
“Ray, hentikan!” Hingga Zhia ikut angkat bicara dan saat itu juga Rayden jadi terdiam.
“Tapi Zhi, _....”
“Aku bilang hentikan!” potong Zhia dengan tatapan mata yang tidak ingin di bantah oleh siapapun.
“Kenakan ‘lah pakaian kalian berdua dulu, setelah itu temui kami di ruang depan,” ujar Zhia yang beralih pada Levi dan Lucia setelah berhasil membungkam mulut suaminya.
“Baik, Mah!” sahut Lucia, sedangkan Levi hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Ayo, kita semua keluar sekarang!” ajak Zhia yang memberikan keduanya ruang untuk mengenakan pakaian masing-masing.
...****************...
Setelah kepergian semua orang, Lucia pun langsung berlari menuju ke kamar mandi hanya dengan mengenakan jas yang di berikan kakaknya sembari memungut pakaiannya yang tercecer di lantai. Levi pun hanya menatap sosok Lucia yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan perasaan yang sangat sulit di artikan bahkan untuk dirinya sendiri.
“Sial, aku pikir semalam itu hanya mimpi seperti biasanya!” umpat Levi dengan frustasi.
"Bagaimana bisa aku menyentuh Nona kecil-ku! Aaakhh, ... Dasar bajingan sialan kau Zaender Levi!" ujar Levi yang mengumpat pada dirinya sendiri. Dia sangat menyesal setelah sadar dari pengaruh obat semalam.
Sepuluh menit kemudian, Levi sudah memakai pakaiannya kembali. Begitu juga dengan Lucia. Ketika Lucia keluar dari dalam kamar mandi, keduanya sama-sama merasa canggung dan bingung dengan apa yang harus mereka lakukan dalam pertemuan yang tak pernah terduga itu.
Hingga Lucia memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu dengan memanggil namanya, “Kak Levi!”
“MAAF? Saya sungguh sangat minta maaf atas kejadian semalam,” ucap Levi dengan raut wajah penuh penyesalan.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...