
“Memangnya siapa kau? Beraninya menyuruhku untuk mengubur perasaanku sendiri,” ujar Axlyn yang tak ingin menyerah begitu saja.
“Lucia Cano Xavier, calon istri Zaender Levi sekaligus wanita yang Kak Levi cintai sejak dulu maupun selamanya,” jelas Lucia pebuh percaya diri.
“Tapi kalian belum menikah, jadi masih banyak kesempatan untukku merebut Tuan muda darimu,” ujar Axlyn yang tak kalah percaya dirinya.
“Hentikan, Axlyn! Bercandaanmu sudah tidak lucu lagi sekarang,” bentak Levi yang mulai kesal dengan situasi yang ambigu itu.
“Tapi aku serius mengatakan ini, Tuan muda!” sahut Axlyn.
“Kak Levi hanya milikku,” ujar Lucia yang langsung memeluk Levi tanpa memperdulikan ada Kakaknya di sana.
“Kalian berdua bisa berhenti tidak!” bentak Luca yang mulai emosi dengan kelakuan dua wanita itu.
“Luci akan berhenti kalau Kak Levi mau berjanji tidak akan menemui wanita ini lagi selamanya,” ujar Lucia yang tak memperdulikan kemarahan sang Kakak.
“Tapi Luci, Kakak perlu bekerja sama dengan Levi dan wanita ini untuk menangkap siapa dalang orang yang telah berusaha mengejar dan menjebak mu malam itu,” jelas Luca yang berusaha membujuk adiknya.
“Kakak urus saja berdua dengan wanita ini! Jika memang di perlukan Luci sendiri yang akan ikut terlibat untuk membunuh para bajingan itu,” ujar Lucia yang tetap tidak ingin membiarkan Levi terlibat dnegan Axlyn lagi setelah mengetahui perasaannya.
“Baiklah, terserah kau saja! percuma juga aku berdebat denganmu kalau keputusanmu sudah bulat begini.”
Luca hanya bisa pasrah dengan keinginan adiknya, begitu juga Levi yang lebih memeilih diam dan menerima apapun keputusan Lucia dari pada dia harus menghadapi konsekuensinya nanti. Berbeda dengan Axlyn yang tida terima dengan keputusan itu, tapi Levi langsung mencegahnya untuk berbicara lebih jauh.
“Kenapa harus seperti itu? Bahkan kalian berdua juga masih belum menikah?” protes Axlyn.
“Axlyn, sudah cukup! Mulai sekarang untuk sementara waktu aku tidak akan terlibat dalam masalah klan dan posisiku akan di gantikan oleh Lucia,” ujar Levi penuh penekanan.
“Okay, kita mulai membahas soal pria ini!”
Luca pun segera mengganti topik pembicaraan sebelum terjadi perdebatan lebih lanjut dan memanas antara Lucia dan Axlyn yang memperebutkan Levi. Luca langsung menunjukkan gambar dan informasi tentang Kaendra yang berhasil dia dapatkan.
“Kaendra Van Raegan! Kau pernah bertemu dengannya di masalalu?” tanya Luca pada Axlyn yang terdengar seperti sebuah interogasi.
“Iya, aku pernah bertemu dengannya satu kali saat mendapatkan misi untuk pertama kali,” jawab Axlyn membenarkan.
“Dan aku melihatnya berada di ZL hotel pada malam itu,” lanjutnya yang membuat Lucia terkejut.
“Kau mengenal pria ini?” tanya Lucia mencoba memastikan.
“Aku tidak mengenalnya dengan baik, tapi aku pernah terlibat dengannya di masa lalu,” jawab Axlyn lagi memperjelas siatuasinya saat itu.
“Terlibat dengannya di masalalu? Tapi kau tadi mengatakan bahwa kau bertemu dengannya saat mendapat misi untuk pertama kali?” cecar Luca yang merasa curiga dengan jawaban yang di berikan Axlyn.
“Tuan muda pasti sudah mengetahui identitas saya yang sebenarnya sebelum saya di ajak bergabung dnegan klannya. Dulu aku adalah seorang pembunuh bayaran yang cukup terkenal, saat itu Kaendra datang ke tempatku dan memberikan sebuah misi untuk membunuh seseorang dengan bayaran yang sangat besar. Itulah kenapa aku mengatakan pernah bertemu dengannya,” jelas Axlyn lagi.
“Benar, aku memang tahu tentang identitasmu sebelumnya. Tapi aku tidak tahu bahwa saat itu kau terlibat dengan mereka,” ujar Levi membenarkan.
“Lalu?” tanya Luca yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
“Aku menerima misi itu, tapi aku malah terlibat dengan klan mafianya! Aku berhasil membunuh target, tapi bukan uang yang mereka berikan melainkan kematian lain yang sudah mereka siapkan untukku. Jika Tuan muda tidak menyelamatkan aku, maka saat itu aku pasti sudah mati mengenaskan tanpa jejak sama sekali,” jelas Axlyn lagi yang ternyata menyimpan sejuta luka di balik wajah manis dan keberaniannya.
“Memang apa yang terjadi?” tanya Luca yang semakin penasaran.
Drrrt, …. Drrrttt, ….
Namun, belum sempat Axlyn menceritakan kisahnya yang selanjutnya. Dering ponsel Luca terus berbunyi dan mengacaukan pembicaraan mereka. Luca pun segera memeriksa ponselnya dan betapa kagetnya dia saat melihat nama papahnya terdapat di layar ponselnya.
“Hallo, Pah!” sapa Luca begitu menerima panggilan telepon dari papahnya, seketika Levi dan Lucia pun langsung terdiam.
“Bagaimana Papah bisa tahu?” tanya Luca balik yang penasaran bagaimana Papahnya mengetahui soal itu.
“Kau tidak perlu tahu! Sekarang kalian bertiga cepatlah datang ke villa. Papah beri waktu 20 menit untuk kalian sampai tiba di sini,” ujar Rayden memberikan perintah.
“Apa? Tapi Pah, _....”
Sayangnya, sebelum Luca mau melakukan protes papahnya langsung memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Padahal dia masih ingin mendapatkan informasi lebih banyak dari Axlyn, tapi sepertinya titah ayahandanya harus lebih di utamakan kalau dirinya ingin masih hidup dengan aman dan nyaman.
“Apa Papah yang menelpon?” tanya Lucia dengan raut wajah cemasnya yang terlihat menggemaskan.
“Iya, dia meminta kita bertiga untuk segera kembali ke villa,” jawab Luca memberitahu perintahkan papahnya.
“Kita bertiga? Apa kau juga termasuk di dalamnya?” tanya Levi memastikan.
“Tentu saja! Siapa lagi yang bisa membuat putri kesayangannya kabur kalau bukan kau orangnya,” tukas Luca yang beranjak dari tempat duduknya.
“Apa Papah tadi terdengar seperti sedang marah?” tanya Lucia yang penasaran apakah Papahnya marah karena dia pergi menemui Levi tanpa ijin.
“Sepertinya begitu! Kak Levi bersiap-siaplah!” goda Luca, padahal Papahnya tidak menunjukan tanda-tanda sedang marah sama sekali.
“Hay, kau serius!” seru Levi yang percaya tidak percaya dengan perkataan Luca.
“Kita lihat saja nanti,” sahut Luca yang dalam hatinya sangat bahagia melihat wajah ketakutan Levi.
“Sayang, bagaimana ini? Gimana kalau Papahku membunuhmu?” ujar Lucia yang tak ingin Levi di apa-apakan oleh Papahnya.
“Tidak apa! Tuan muda tidak segila itu sampai mau membunuhku,” bujuk Levi yang percaya bahwa Tuannya tidak akan tega membunuhnya, meskipun dia telah mencuri putri kesayangannya.
“Cihh, … Sejak kapan Tuan muda sebucin itu,” gerutu Axlyn yang menatap tidak suka pada Lucia.
...****************...
Sesuai waktu yang di tentukan oleh Rayden dalam 20 menit Luca, Lucia dan Levi tiba di villa. Begitu memasuki ruang tamu, Levi di kejutkan dengan keberadaan Kakek Roman yang tengah asyik berbincang dengan Noland dan semua anggota Xavier di sana.
“Kalian sudah datang? Duduklah!” ujar Rayden yang terdengar tidak marah sama sekali dari nada bicaranya, begitu pun dengan raut wajahnya.
^^^Bersambung,....^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...