
Serangan Luca beberapa kali berhasil mendarat di tubuh Luke, begitu juga sebaliknya. Namun, keadaan sekitarnya semakin mendesak Luke. Anak buahnya tinggal tersisa beberapa saja, hingga orang yang bernama Matt menyelamatkan Luke ketika Luca hampir saja bisa membunuhnya dan membuka topeng yang dia kenakan.
“Kita harus mundur sekarang, Tuan Luke! Bukan soal kekuatan, tapi kita kalah jumlah,” ujar Matt.
“Kau ingin aku di cap sebagai pengecut, Hah!” bentak Luke yang tidak terima dengan kekalahannya.
“Tuan Kaendra dan Nona Leona juga sudah di pukul mundur oleh mereka. Sebaiknya kita juga kembali ke wilayah kekuasaan kita, jika anda masih ingin membalas dendam,” ujar Matt memberitahu bahwa sudah tidak ada yang tersisa untuk mereka tetap bertahan di sana.
“Apa katamu!” seru Luke yang tidak percaya sama sekali kalau Leona dan Kaendra juga sudah di kalahkan oleh klan Luca dan Levi.
“Tuan, tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang! Sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya,” tegas Matt yang melihat situasinya semakin memburuk untuk pihak mereka.
“Tuan, Ayo kita pergi dari sini!” sambung Matt dengan putus asa, dia pun memberanikan diri untuk menarik paksa Luke untuk pergi dari tempat itu.
...****************...
Sementara di sisi lain, Luca dan dan Will tidak akan membiarkan Luke melarikan diri dengan mudahnya. Mereka bekerja sama untuk menemukan dan menangkap Luke yang berhasil melarikan diri dari medan pertarungan.
Usaha keduanya pun akhirnya membuahkan hasil, mereka berhasil menemukan keberadaan Luke yang hendak melarikan diri dengan salah satu anak buahnya. Tanpa membuang waktu, Luca dan Will pun langsung menghadang Luke.
“Apakah melarikan diri seperti pengecut yang hanya bisa kau lakukan sekarang?” ujar Luca dengan senyuman penuh menghina pada Luke.
“Jangan berkata seperti itu, nanti dia bisa tersinggung dengan ucapanmu barusan.” Will memang jagonya dalam memprovokasi musuh, meskipun tidak semahir Felix dan Levi kalau sudah menggila.
“Apakah kau benar-benar merasa tersinggung?” tanya Luca yang semakin mengejek Luke.
“Seharusnya kau tidak perlu merasa tersinggung ataupun merasa malu, karena itulah yang memang sedang kau lakukan. Hahaha, …” sambung Luca yang tertawa mengejek.
“Sialan! Aku tidak bisa terus di permalukan seperti ini,” gumam Luke yang emosinya sudah semakin memuncak, karena provokasi dari Luca dan Will.
“Tuan, jangan hiraukan perkataan mereka! Kita harus pergi sekarang,” ujar Matt yang berusaha menenangkan Luke.
“Kau tenang saja, kita akan tetap pergi dari sini dalam keadaan hidup! Tapi sebelum itu aku harus menghajarnya walaupun hanya sekali,” ujar Luke yang bersiap untuk menyerang Luca.
Benar saja apa yang di katakana Luke, dia langsung menyerang Luca begitu selesai mengatakannya. Tidak ingin berdiam saja, Matt pun membantu Luke dengan menghadapi Will. Sehingga terjadilah perkelahian satu lawan satu yang begitu sengit antara Luke dan Luca, serta Matt dan Will.
Terlihat keduanya bertarung mati-matian, hingga Luke pun mengeluarkan kelicikannya. Luke ternyata diam-diam menyembunyikan sebuah belati di tubuhnya, begitu mendapatkan celah untuk menusuk Luca.
“Matilah kau,” bisik Luke ketika akan menusuk Luca.
Seketika Luca pun tercengang, situasinya membuat Luca tak bisa berkelit pada saat itu. Namun, siapa sangka rencana liciknya itu harus gagal dengan kemunculan Axlyn yang langsung melindungi Luca. Axlyn langsung meraih belati itu dengan tangan kosongnya, tampak jelas Axlyn meringis kesakitan saat menahan belati tersebut.
“Aakh, …” Terdengar Axlyn merintih kesakitan.
“Axlyn, …” Suara Luca tertahan saking terkejutnya.
Tidak ingin rencananya gagal begitu saja, Luke pun mendorong belati itu dengan sekuat tenaganya. Alhasil, Axlyn yang tak bisa menahan rasa sakit di tangannya membuat belati itu menusuk perutnya. Luca sontak langsung mendorong Luke menjauh dari Axlyn.
“Kau yang harusnya mati hari ini,” ujar Luca dengan tatapan membunuhnya yang di tujukan untuk Luke.
“Tuan, kita harus segera pergi!” ujar Matt yang hanya di jawab dengan sebuah anggukan kepala saja oleh Luke. Sebab Luke tengah menahan rasa sakit pada perut dan lengannya, akibat serangan dari Luca.
Blarrr, … Duarr, ….
Kemudian, Matt melemparkan sebuah granat ke arah Luca dan Will yang berniat ingin kembali menghajar mereka. Karena ledakan granat itu, Luke dan Matt pun berhasil melarikan diri. Luca tidak begitu memperdulikannya, dia malah menghampiri Axlyn untuk memastikan keadaannya.
“Sial , mereka melarikan diri lagi,” umpat Will begitu menyadari Luke dan anak buahnya sudah menghilang begitu granat yang mereka lemparkan meledak.
“Axlyn!” ujar Luca yang teringat dengan Axlyn, dia pun segera menghampirinya.
Luca pun memeriksa luka yang di dapatkan Axlyn dari Luke dengan sangat hati-hati. Saat itu juga, Axlyn melihat sisi lain dari seorang Luca. Dia bahkan sampai tidak bisa merasakan rasa sakit pada lukanya, karena dia terpesona dengan sosok Luca yang kini tengah sangat mengkhawatirkannya.
“Pertama kalinya, aku melihat ada seseorang yang terlihat jelas di matanya sangat khawatir saat melihatku terluka. Sebelumnya hanya ada tawa dan tatapan menjijikan yang selalu mereka tunjukan, bahkan saat aku berada di ambang kematianku. Jika pun ada yang peduli denganku, maka itu hanya tatapan sebagai rasa kasihan mereka seperti yang aku lihat di mata Tuan Zaen saat itu,” batin Axlyn sembari menatap sendu pada Luca.
“Tapi kenapa tatapan pria ini terasa begitu berbeda? Begitu tulus dan seakan tengah memeluk lubuk hatiku,” sambungnya masih di dalam hatinya.
Hingga perkataan pedas dari Luca menyadarkannya. Luca berkata, “Apa kau sangat bodoh, Hah? Kenapa kau menahan belati itu dengan tangan kosong? Dan kenapa kau tidak melepaskan belati itu saat bajingan sialan itu mendorongnya hingga melukai perutmu seperti ini!”
“Aish, … Kenapa kau bersikap seperti seorang pahlawan ketika kau tak sanggup melawannya,” lanjut Luca dengan nada tinggi.
“Yaaah, … Teriakanmu malah membuat lukaku semakin terasa sakit. Sebaiknya kau diam, jika tidak mau membantuku,” lirih Axlyn yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.
“Bukannya berterima kasih, kau malah mengomel tidak jelas,” sambung Axlyn yang pandangan matanya semakin terlihat buram.
Dan benar saja, beberapa saat setelah mengatakan itu Axlyn pun langsung tak sadarkan diri. Luca pun refleks menangkap tubuhnya, kala itu dia sungguh mengkhawatirkan keadaan Axlyn. Terlebih lagi, Axlyn terluka karena melindungi dirinya.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...