
“Bell, tidak mungkin ‘kan kalau sakitku ini ternyata, _....”
Lucia tidak dapat melanjutkan perkataannya begitu dia menyadari bahwa ada Axlyn yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Walaupun jika dugaan mereka benar dan nantinya semua orang akan mengetahuinya, tetapi Lucia ingin saat ini menjadi kejutan untuk Levi.
“Bagaimana kalau kau memeriksa saja! Aku akan segera menghubungi salah satu Dokter Obgyn terbaik di rumah sakit ini,” ujar Bella yang langsung menghubungi orang yang dia bicarakan dan langsung mengatur jadwal pemeriksaan untuk Lucia.
“Chloe, apakah jadwalmu padat saat ini?” tanya Bella melalui sambungan telepon.
“Iya, sudah ada empat sampai lima pasien yang sedang mengantri diluar. Memangnya ada apa?” jawab Chloe yang kemudian bertanya balik.
“Bisakah kau meluangkan waktu untuk memeriksa istri dari bosmu, sepertinya akan segera terdengar kabar baik dari mereka,” ujar Bella seraya menggoda Lucia dengan kedipan matanya.
“Maksudmu Dr. Lucia? Kalau untuk dia aku bisa meluangkan waktu setiap saat untuk memeriksanya. Datang saja ke ruanganku atau perlu aku yang datang mengujungi kediamannya?” cecar Chloe yang terdengar sangat bersemangat untuk melayani keluarga Zaender.
“Tidak perlu, orangnya sudah ada di ruanganku sekarang! Kalau begitu aku akan menyuruhnya untuk datang ke ruanganmu,” ujar Bella.
“Okay, … Aku akan menunggu dan memberikan pelayananku sebaik mungkin,” sahut Chloe dengan penuh antusias.
Setelah itu, Bella pun memutuskan sambungan teleponnya. Di sana terlihat Axlyn sudah sangat mengkhawatirkan keadaan Lucia. Axlyn bahkan hampir saja menghubungi Levi untuk memberitahu apa yang terjadi, tapi Lucia langsung menghentikannya.
“Luci, kau bisa langsung datang ke ruangan Dr. Chloe untuk melakukan pemeriksaan agar hasilnya bisa lebih akurat,” ujar Bella pada Lucia.
“Apakah penyakit Nona Lucia cukup parah, Dok! Hingga harus melakukan pemeriksaan yang lebih akurat lagi?” tanya Axlyn yang tak tahan untuk mengetahuinya.
“Tidak, Lucia baik-baik saja! Ini hanya pemeriksaan biasa dan mungkin setelah ini akan ada kabar baik,” jelas Bella yang menenangkan Axlyn.
“Tidak perlu khawatir semuanya akan baik-baik saja,” ujar Lucia yang ikut menenangkan Axlyn.
“Kalau begitu aku akan pergi ke ruangan Dr. Chloe dulu ‘yah, Bell!” pamit Lucia yang mulai beranjak dari tempat duduknya, disusul oleh Axlyn.
“Semoga benar-benar kabar baik ‘yah, Luci!” ucap Bella sembari memberikan pelukan hangatnya pada Lucia.
“Thank’s atas doanya, Bell!” ucap Lucia yang membalas pelukan Bella.
Kemudian, Lucia langsung menuju ke ruangan Dr. Chloe. Benar saja, Lucia langsung di persilahkan masuk tanpa harus mengantri dan mendapat pelayanan terbaik dari para perawat di sana. Namun, saat Axlyn berniat untuk menemani Lucia masuk ke dalam, Lucia melarangnya dengan alasan bahwa dia bisa sendiri melakukan pemeriksaan tersebut.
“Dr. Lucia, silahkan anda bisa langsung masuk ke dalam,” sambut perawat yang bertugas di sana.
“Terima kasih,” balas Lucia yang tidak lupa mengucapakan terima kasih dengan keramahan orang lain kepadanya.
“Axlyn, kau tunggu di sini! Aku bisa melakukan pemeriksaan itu sendiri dan nanti aku yang akan memberitahu sendiri pada Levi mengenai hasilnya,” ujar Lucia.
“Ta-tapi, _....”
“Tidak akan terjadi apapun,” potong Lucia yang langsung masuk kedalam dan meninggalkan Axlyn di ruang tunggu.
Baru saja di tinggalkan oleh Lucia, tanpa di duga Levi langsung menghubungi Axlyn untuk mencari tahu tentang keadaan istrinya. Merasa ruang tunggu terlalu berisik karena banyak orang, Axlyn pun memilih untuk mencari tempat yang lebih sepi untuk menerima panggilan telepon dari Tuannya itu.
“Hallo, Tuan!” Axlyn langsung menyapa Tuannya begitu menerima panggilan telepon tersebut.
“Bagaimana keadaan istriku? Apakah terjadi sesuatu yang buruk padanya? Kenapa kau tidak memberiku kabar apapun?” cecar Levi yang terdengar sangat cemas.
“Kata Dokter Bella keadaan Nyonya Lucia baik-baik saja, hanya perlu melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk lebih memastikannya,” jawab Axlyn sesuai apa yang di katakan oleh Bella sebelumnya.
“Benarkah? Kau tidak menipuku atas perintah dari istriku, bukan?” tanya Levi yang masih saja merasa cemas dengan keadaan Lucia, meskipun Axlyn sudah memberitahunya bahwa hasil pemeriksaan mengatakan bahwa Lucia baik-baik saja.
“Baiklah, segera hubungi aku jika hasil pemeriksaan lanjutannya sudah keluar,” ujar Levi yang akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
“Baik, Tuan!” sahut Axlyn.
Setelah itu sambungan telepon itu langsung di putuskan oleh Levi, karena kedatangan Theo yang mendesaknya untuk segera menghampiri rapat yang sempat tertunda. Ternyata Levi tidak bisa focus dengan pekerjaannya, karena perasaannya terus saja merasa buruk setiap dia memikirkan Lucia.
“Tuan, anda sudah mendapatkan apa yang anda inginkan sejak tadi! Jadi, sekarang anda harus focus menghadiri pertemuan ini,” ujar Theo yang mendesak Levi untuk bersikap professional.
“Baiklah, ayo kita pergi ke rapat itu sekarang!” sahut Levi yang segera beranjak dari tempat duduknya.
Kemudian, Levi pun langsung melangkah menuju ruang rapat di ikuti oleh Theo. Namun, tanpa Levi sadari nada dering notifikasi ponselnya bergeser menjadi off. Sehingga sudah bisa di pastikan bahwa Levi tidak akan menyadari jika ada yang menghubungi atau mengiriminya sebuah pesan sampai dia memeriksa ponselnya langsung.
...****************...
Disisi lain, Axlyn sebenarnya berniat langsung kembali ke ruang tunggu dimana Lucia sedang melakukan pemeriksaan. Akan tetapi, ketika dia melewati sebuah ruangan dia mendengar suara seorang pria yang sangat tidak asing di telinganya.
“Lebih baik aku kembali ke ruang tunggu,” gumam Axlyn.
“Apakah semua persiapannya sudah berjalan dengan lancar?” Suara seorang Pria terdengar dari balik sebuah ruangan.
“Suara ini sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat,” batin Axlyn yang merasa tidak asing.
“Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja.” Awalnya Axlyn berniat untuk mengabaikannya saja dan kembali melangkahkan kakinya ke ruang tunggu yang sebelumnya.
“Leona, katakan pada Kaendra untuk tidak membuat masalah apapun sampai aku memberikan perintah selanjutnya!”
Namun, seketika langkah kakinya terhenti ketika pria itu menyebut nama Leona dan Kaendra. Saat itu juga Axlyn menyadari bahwa pria itu kemungkinan adalah Luke yang kembali untuk mendekati Lucia atau membalas dendam.
“Tunggu! Jangan katakan bahwa orang di dalam ruangan itu adalah, _....”
Axlyn tidak melanjutkan perkataannya. Namun, Axlyn langsung berjalan mendekati ruangan itu secara perlahan untuk memastikannya secara langsung. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, Axlyn perlahan membuka pintu ruangan tersebut agar dia bisa melihat bagaimana orang yang berada di dalam ruangan itu.
^^^^^^Bersambung, ....^^^^^^
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah serunya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...