My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 99.



Hari telah pagi, namun Sera masih tetap terjaga. Dia duduk melamun di depan ruang ICU, tatapannya kosong dan menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Dafi datang membawakan roti dan susu hangat yang dia beli di kantin rumah sakit, lalu duduk di samping mantannya itu.


"Ini, sarapan dulu!" Dafi menyodorkan roti dan susu tersebut kepada Sera.


"Aku tidak lapar," tolak Sera.


"Ra, dari semalam kamu belum makan apa-apa, nanti kamu bisa sakit. Makanlah sedikit saja!"


Sera pun akhirnya menerima roti dan susu hangat pemberian Dafi, dan perlahan memakannya. Dafi hanya memandangi gadis itu makan sembari tersenyum getir.


Lusi dan Yuni datang dengan tergopoh-gopoh.


"Sera, Dafi!" tegur Lusi.


"Oma."


Sera hanya termangu melihat kehadiran kedua wanita itu.


"Bagaimana keadaan papa kamu?" tanya Lusi, dia tak mampu menutupi raut kecemasannya.


"Masih belum ada perkembangan, Oma," sahut Dafi dengan wajah sendu.


Lusi pun mendekati kaca penyekat ruangan dan menatap Damar yang tergolek di dalam ruang ICU, hatinya bergetar dan dengan cepat cairan bening meleleh dari mata tuanya. Ibu mana yang tidak terluka dan sedih jika melihat putra kesayangannya kritis dan sedang berjuang di antara hidup dan mati, dia pasti tak akan sanggup membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk pada darah dagingnya itu.


"Damar, anakku." Lusi menyentuh kaca itu dengan tangan gemetar, "Mama di sini, sayang. Ayo, bangun!"


Sera dan Yuni pun tak bisa menahan air mata mereka, begitu pun dengan Dafi, dia dengan cepat mengusap sudut matanya yang basah sebelum ada yang menyadari.


"Kenapa ini harus terjadi pada putraku? Kenapa, Tuhan?" Lusi tertunduk dan menangis sesenggukan, Yuni dan Sera memegangi wanita itu, dan berusaha menenangkannya.


"Mama sabar, ya!" Sera mengusap punggung belakang Lusi.


Namun tiba-tiba Lusi merasa pusing, matanya mendadak gelap dan tubuhnya seketika lemas.


"Mama kenapa? Mama!" Sera sontak panik.


"Oma!" Pekik Dafi yang langsung menangkap tubuh sang nenek.


Lusi tak sadarkan diri dan nyaris jatuh menghantam lantai, untung saja ketiga orang itu sigap menahannya.


Tanpa pikir panjang, Dafi langsung mengangkat tubuh lemah sang nenek dan membawanya ke UGD.


***


Sera, Dafi dan Yuni berdiri dikedua sisi tempat tidur Lusi, menatap iba pada wanita itu. Lusi masih belum sadarkan diri, wajah tuanya tampak pucat seperti tak dialiri darah. Dokter mengatakan gula darahnya naik sebab dia terlalu stres dan kurang istirahat.


"Kasihan Nyonya, dia pasti sangat sedih," ucap Yuni.


"Iya, Eonni. Aku khawatir kondisinya memburuk kalau terus seperti ini," sahut Sera cemas.


"Benar, jadi kalian bisa bergantian menjaga Nyonya dan Oppa di sini," sambung Yuni.


"Baiklah, kita tidak ada pilihan lain," balas Sera.


"Kalau begitu aku kembali ke ruang ICU, kalian jaga Oma di sini," pinta Dafi.


Sera dan Yuni mengangguk bersamaan.


Dafi bergegas pergi sebab mengkhawatirkan Damar, dia tak ingin membiarkan sang ayah sendirian terlalu lama.


Sera berjalan menjauh dari tempat tidur Lusi dan duduk di sebuah kursi, Yuni pun mengikutinya.


"Aku benar-benar tidak tega melihat Nyonya Lusi dan Oppa seperti ini."


"Aku juga, Eonni. Aku sungguh mencemaskan mereka, terutama Om Damar. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku takut kehilangan dia," ujar Sera, air matanya kembali jatuh berderai.


Yuni merangkul pundak Sera dan mendekap erat gadis itu, "Kamu yang sabar, kami semua juga tak ingin kehilangan Oppa."


"Seandainya ada yang bisa aku lakukan untuk membuatnya bangun dan pulih lagi, aku akan lakukan itu. Aku pasti lakukan, Eonni!" Sera semakin terisak-isak.


Yuni pun ikut menangis dan semakin erat mendekap tubuh Sera, "Sekarang kita hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberikan kesembuhan kepada Oppa agar Nyonya Lusi juga bisa sehat lagi."


Sera tak menjawab, dia hanya menangis sesenggukan di dalam dekapan Yuni. Hatinya benar-benar takut jika lelaki yang sudah menjadi suaminya itu pergi untuk selama-lamanya.


Setelah beberapa saat berbagi perasaan, Yuni pun melepaskan dekapannya dan mengusap air mata Sera, "Sekarang sebaiknya kamu temani Oppa, biar aku yang menjaga Nyonya. Siapa tahu dengan kehadiran orang yang dia cintai, Oppa bisa segera sadar."


"Ah, Eonni ini bicara apa?" Wajah Sera merona merah.


"Hei, kamu masih tidak percaya dengan kata-kataku? Oppa itu sebenarnya mencintai kamu, dan aku rasa kamu juga."


Sera tertunduk menyembunyikan wajahnya yang kian merah padam.


"Sudah saatnya kamu menyadari perasaanmu, Sera. Kalian itu sebenarnya sudah saling jatuh cinta, kelihatan banget dari sikap dan gestur tubuh kalian," tutur Yuni penuh keyakinan.


"Eonni sok tahu!" sanggah Sera pelan, dia mulai salah tingkah sendiri.


"Bibir kamu masih bisa menyangkal, tapi mata kamu tidak bisa bohong."


Sera tertegun mendengar kata-kata Yuni, benarkah dia dan Damar sudah terjebak dalam perasaan suci itu?


Yuni pun tersenyum lebar, dia sengaja meledek gadis itu agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.


"Sudah sana, temani suami kamu!" Yuni menepuk pundak Sera.


Sera pun beranjak dan meninggalkan Yuni serta Lusi sambil senyum-senyum sendiri.


Yuni menghela napas, dia lega karena bisa sedikit menghibur gadis itu.


***