My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 26.



Sera dan Yuni sedang menyusuri jejeran toko di sebuah mall sambil bercengkerama, sesekali keduanya bercanda dan tertawa.


"Kita ke toko itu, yuk!" Yuni menunjuk toko pakaian wanita dengan merek ternama.


Sera tampak ragu, "Tapi pasti itu mahal, Eonni."


"Tenang saja, saldo di ATM itu tidak akan habis kalau kamu beli beberapa potong pakaian di sana."


"Iya, tapi aku tidak enak dengan Om Damar kalau beli barang-barang mahal. Kita beli yang murah saja, deh."


Yuni mengembuskan napas, "Sera, kalau kamu ingin balas dendam dan membuat mantan kamu menyesal, kamu harus tampil beda. Jangan jadi Sera yang biasanya lagi, kamu harus jadi Sera yang modis dan mempesona. Biar mantan kamu menyesal telah menyia-nyiakan kamu."


Sera terdiam, dia masih memikirkan ucapan Yuni itu.


"Cckk, kamu kelamaan mikir! Kita tidak banyak waktu, yuk!" Yuni menarik lengan Sera dan menyeretnya ke toko tersebut.


Dari kejauhan, Sarah yang sedang duduk di restoran bersama Lusi terkesiap melihat Sera.


"Dia?" gumam Sarah, matanya mengikuti langkah Sera.


Lusi yang melihat Sarah melongo memandang keluar restoran menjadi bingung, "Ada apa, Sarah?"


"Itu bukannya kekasih Damar?" Sarah menunjuk ke arah Sera dan Yuni yang melewati restoran mereka.


Lusi tak kalah terkejutnya melihat Yuni. "Loh, itu kan Yuni, asisten rumah tangganya Damar."


Sarah terperangah dan sontak menatap Lusi, "Berarti kekasihnya Damar ada di Jakarta, dong. Buktinya dia ada di sini bersama asisten Damar."


"Jadi itu kekasihnya Damar? Berarti Damar bohong pada Tante?"


Sarah hanya bergeming, dia tak harus harus berkata apa sebab juga merasa kaget.


"Kamu tunggu di sini." Lusi langsung beranjak meninggalkan Sarah dan buru-buru mengejar Sera serta Yuni yang berjalan masuk ke toko pakaian tadi.


Yuni mengambil sepotong baju dan menyodorkannya ke Sera, "Yang ini bagus, kamu pasti semakin cantik kalau pakai ini."


Sera mengecek harga baju itu, "Ini terlalu mahal, Eonni."


"Sudah, coba dulu sana!" pinta Yuni sedikit memaksa.


Sera pun menuruti Yuni dan membawa baju tersebut ke ruang ganti.


Sedangkan Lusi melangkah mendekati Yuni dan langsung menegur asisten rumah tangga Damar itu.


"Yuni!"


Yuni sontak menoleh ke arah Lusi dan seketika tercengang dengan mata melotot. "Nyonya Lusi?"


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Lusi penasaran.


Yuni mendadak gugup, "Sa-saya sedang ... anu ... itu ...."


"Kamu kenapa gugup?"


Belum sempat Yuni menjawab pertanyaan Lusi itu, Sera yang sudah mengenakan pakaian tadi keluar dari ruang ganti.


"Bagaimana, Eonni? Bagus tid ...." Sera tak jadi melanjutkan kata-katanya sebab terperangah melihat Lusi sedang berdiri menatap dirinya.


Lusi melangkah mendekati Sera dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat gadis itu menelan ludah dan mendadak takut.


"Kamu ini kekasihnya Damar, ya?" Lusi bertanya sembari menatap Sera dari bawah sampai atas.


Sera melirik Yuni yang berdiri di belakang Lusi, dan asisten rumah tangga Damar itu memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya.


Namun di saat bersamaan, Sarah datang menyusul Lusi, membuat Sera tak bisa berbohong. Sementara Yuni kian tegang, dia tak menyangka akan terjebak di dalam situasi seperti ini.


"I-iya," jawab Sera akhirnya.


Lusi tersenyum dan mengulurkan tangannya ke hadapan Sera, "Kenalkan, saya Lusi, mamanya Damar."


"Sera," balas Sera sambil memaksakan senyuman, mau tak mau dia menyalami dan mencium tangan Lusi.


"Bukannya kata Damar kamu sedang berada di Medan?"


Sera termangu dan kembali melirik Yuni, asisten rumah tangga Damar itu kembali memberi isyarat dengan mengangguk. Tanpa dia sadari, Sarah memperhatikannya.


"Ah, i-iya. Baru saja kembali ke sini," sahut Sera gugup.


Sera dan Yuni merasa lega karena Lusi percaya.


Lusi kemudian berbalik menatap Yuni. "Kamu kenapa bisa ada di sini bersama Sera, Yun? Siapa yang memberikan izin?"


"Oppa ... eh, maksudnya Mas Damar, Nya. Tadi dia minta saya temani pacarnya belanja," dalih Yuni.


"Jadi Damar sudah tahu pacarnya pulang, tapi dia tidak mengatakan apa-apa pada ku. Dasar anak nakal! Awas dia!" gerutu Lusi.


"Hem, maaf Tante, aku permisi dulu. Aku masih ada urusan," sela Sarah yang merasa diabaikan.


Lusi sontak beralih menatap Sarah, "Eh, maaf-maaf, Sarah. Tante jadi cuekin kamu."


Sarah tersenyum, "Tidak apa-apa, Tante. Kalau begitu aku permisi dulu."


"Tapi kita belum selesai bicara, Sarah."


"Lain waktu saja kita lanjutkan lagi, Tan. Soalnya aku masih ada janji dengan temanku. Maaf, ya, Tan?"


"Iya, sayang. Kalau begitu terima kasih sudah temani Tante, ya."


"Iya, Tante."


Lusi dan Sarah pun cipika-cipiki, keduanya terlihat begitu akrab. Sarah kemudian bergegas meninggalkan mereka dengan sedikit kesal, dia bahkan tidak menyapa Sera dan Yuni sama sekali.


Setelah kepergian Sarah, Lusi kembali menatap Sera, "Kamu ada waktu? Bisa kita ngobrol sebentar?"


Lagi-lagi Sera melirik Yuni, dan wanita pecinta drama Korea itu kembali mengangguk.


"Iya ada, Tante."


"Yuk, ke restoran itu." Lusi menunjuk restoran tempat dia dan Sarah ngobrol tadi.


"Aku ganti bajunya dulu, Tan."


Lusi mengangguk, "Baiklah, Tante tunggu."


Sera bergegas kembali ke ruang ganti dengan jantung yang berdebar kencang, dia benar-benar takut.


Di dalam ruang ganti, Sera buru-buru menghubungi Damar dan bicara dengan berbisik-bisik.


"Halo, Sera."


"Om, gawat!" seru Sera heboh.


"Apanya yang gawat, Sera?"


"Mama Om memergoki kami sedang belanja di mall, dan dia tahu kalau aku yang jadi kekasih Om waktu makan malam itu," beber Sera.


"Apa? Kok bisa?"


"Sepertinya wanita di restoran waktu itu yang beritahu, soalnya mama Om datang bersama dia," sambung Sera.


"Sial!"


Sera terkejut dan terdiam mendengar Damar mengumpat.


"Jadi sekarang gimana?"


"Mama Om mengajak aku ngobrol di restoran, aku tidak bisa menolak," sahut Sera.


"Ya sudah, kamu ikuti apa mau Mama, kalau dia bertanya, kamu jawab seperlunya saja dan jangan buat dia curiga. Om akan segera ke sana."


"Baik, Om. Sudah dulu, ya. Takut Mama Om curiga kalau aku lama."


"Iya-iya."


Sera segera memutuskan pembicaraan dengan Damar dan menukar bajunya dengan tergesa-gesa lalu keluar dari ruang ganti.


"Sudah?" tanya Lusi yang melihat Sera berjalan ke arahnya.


"Sudah, Tan."


"Kalau begitu, yuk!" Lusi menarik lengan Sera keluar dari toko baju itu. Yuni hanya membuntuti mereka dengan perasaan cemas, dia benar-benar takut sandiwara ini terbongkar, bisa tamat karirnya sebagai asisten rumah tangga Damar.


***