My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 85.



Di dalam ruangannya, Dafi sudah ditangani oleh dokter, dia juga mulai tenang karena obat pereda nyeri yang dokter suntikkan.


"Gimana, sayang? Masih sakit?" tanya Anggi cemas.


"Sudah tidak terlalu, Ma."


Anggi menghela napas lega, "Syukurlah, Mama benar-benar cemas tadi. Tidak seperti Papa kamu, dia lebih peduli pada istri matre nya itu daripada anak sendiri."


"Ma, sudahlah! Aku mohon jangan terus-terusan berkata yang buruk tentang Sera! Dia itu tidak salah apa-apa," ucap Dafi pelan.


"Kamu kenapa masih membela nya, sih? Sudah jelas-jelas dia itu wanita tidak benar, dan dia juga pasti sudah menyakitimu," sungut Anggi, membuat Dafi semakin kesal pada ibunya itu.


"Karena aku tahu semuanya, aku tahu alasan Sera menikah dengan Papa. Ini semua bukan keinginannya, justru dia lah yang dimanfaatkan." Dafi berkata dengan emosi, dia langsung terdiam saat sadar sudah keceplosan berbicara.


Anggi mengerutkan keningnya, "Maksud kamu apa?"


Dafi menelan ludah gugup dan berdalih, "Sepertinya aku mulai mengantuk, jadi bicaranya ngelantur. Kalau begitu aku tidur dulu, Ma."


Dafi langsung memejamkan mata dan pura-pura tidur.


"Sayang, kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama? Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu yang memanggil papa kamu Om?"


Dafi tak menjawab, dia sengaja melakukan itu untuk mengakhiri pembicaraan agar sang mama berhenti bertanya.


Anggi semakin bingung melihat tingkah putranya itu, dia jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan mantan suaminya tersebut.


Tapi Anggi terkejut saat tiba-tiba ponselnya berdering nyaring, dia buru-buru mengambil benda pipih itu dari dalam tas dan menjauh dari Dafi.


Setelah memastikan jaraknya aman, Anggi menjawab panggilan masuk yang ternyata dari suaminya yang berada di Malaysia. Dari nada bicaranya, terdengar Anggi tidak senang dengan sang suami, mereka pun berdebat.


Dafi yang sebenarnya belum tidur, sayup-sayup mendengarkannya, dia bisa menebak jika sang ibu sedang ada masalah dengan ayah sambungnya itu.


***


Damar dan Sera tiba di rumah, Yuni yang melihat kedatangan mereka langsung menghampirinya dengan heboh.


"Eh, sudah pada pulang? Gimana keadaan anak Oppa?"


"Dia sudah sadar, tapi masih butuh perawatan, Yun."


"Syukurlah," ucap Yuni lega.


"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu."


Damar menarik langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua dan masuk ke kamar, dia langsung membuka pakaiannya dan berniat untuk membersihkan diri, karena sejak kemarin dia belum mandi. Namun sesuatu yang terletak di atas meja hias mencuri perhatiannya. Damar mendekati meja hias dan mengambil cincin berlian juga kartu ATM yang Sera tinggalkan itu, hatinya seketika bergetar.


"Dia benar-benar ingin secepatnya berpisah dari ku, tapi kenapa aku merasa sakit dan tidak rela kehilangannya? Apa aku memang jatuh cinta padanya?"


Damar pun mengembuskan napas dengan berat untuk mengurangi rasa sesak dan sakit di hatinya, "Kenapa jadi rumit begini?"


Damar sungguh bingung dengan perasaannya saat ini, dia tidak pernah menduga akan jatuh hati pada gadis yang sudah dia anggap sebagai anak, apalagi gadis itu mantan kekasih putranya sendiri. Dia tak ingin bersaing dengan Dafi, dia tak ingin hubungannya dengan sang putra semakin memburuk.


Sementara itu di dapur, Sera menceritakan apa yang terjadi di ruang sakit tadi kepada Yuni, hal itu membuat Yuni berang dan kesal.


"Dasar nenek lampir! Pantas saja anaknya kurang ajar, ternyata ibunya begitu!" sungut Yuni.


"Ssstt, pelan-pelan bicaranya Eonni! Tidak enak kalau kedengaran oleh Om Damar."


"Habis aku kesel, Sera! Dia sudah menghina kamu seenak jidatnya, padahal dia sendiri tidak baik," balas Yuni.


Sera mengernyit, "Dari mana Eonni tahu kalau dia tidak baik?"


"Sera, kalau dia baik, dia tidak akan bersikap seperti tadi."


Sera terdiam, dia mengira Yuni mengetahui sesuatu tentang Anggi.


"Tapi yang terpenting, Oppa membela kamu, kan?"


Sera mengangguk, "Iya, Om Damar dan Dafi membelaku."


"Kalau begitu, sekarang kamu bisa sekalian memanas-manasi nenek lampir itu juga. Jadi ibu dan anak bisa merasakan penyesalan karena sudah melepaskan orang-orang baik seperti Oppa dan kamu."


Sera tertunduk dengan wajah sedih, "Aku sudah memutuskan untuk berhenti memanas-manasi Dafi, dan aku juga sudah memutuskan untuk secepatnya berpisah dari Om Damar."


Yuni terkesiap, "Kenapa buru-buru sekali, Sera? Kalian kan baru saja menikah? Paling tidak tunggulah beberapa bulan atau beberapa tahun!"


"Eonni lihat kan apa yang terjadi? Aku tidak ingin semuanya semakin rumit dan kacau, aku tidak mau semakin banyak orang yang menghina dan berpikiran buruk tentangku. Apalagi sekarang Dafi sudah tahu yang sebenarnya tentang sandiwara ini, aku takut dia mengadu pada orang tua Om Damar dan membuat masalah baru."


Yuni menghela napas panjang, "Iya, terserah kamu saja. Aku tidak bisa melarang jika itu sudah menjadi keputusan mu."


Sera kembali bergeming dengan perasaan galau, sebab sejujurnya dia sendiri merasa sedih membayangkan jika harus berpisah dari Damar dan keluar dari rumah ini. Karena sebenarnya dia menyayangi Damar dan semua orang yang ada di sini, dia sudah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri. Namun tak ada pilihan lain, ini demi kebaikannya dan semua orang, dia juga tak ingin terlalu lama terjebak di antara ayah dan anak itu.


Yuni benar-benar merasa prihatin terhadap nasib Sera, baru saja gadis itu mulai merasakan kebahagiaan, kini dia harus bersedih lagi karena orang-orang yang tak berperasaan.


***