My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 35.



Sore harinya, Damar dan Sera tiba di di kediaman duda tampan itu. Keduanya berjalan masuk dengan sedikit gugup dan tegang.


"Mama!" tegur Damar.


"Selamat sore, Tante," sapa Sera sambil memaksakan senyuman.


Lusi yang sedang membaca majalah di ruang tamu sontak menoleh ke arah kedua orang itu, "Selamat sore."


"Ma, ada yang ingin kami katakan," ujar Damar tanpa basa-basi.


"Apa?" tanya Lusi dengan wajah datar.


Sera dan Damar duduk di hadapan Lusi, meskipun wanita itu tidak mempersilakan mereka untuk duduk.


"Hem, Ma ...." Damar mengjeda ucapannya karena merasa semakin gugup, "ka-kami sudah memutuskan untuk menikah."


Lusi terkesiap, dia tak menyangka sang putra akan menyampaikan hal mengejutkan itu. Tapi Lusi berusaha tetap bersikap dingin.


Wanita paruh baya itu lantas menatap kedua insan di hadapannya dengan penuh curiga, "Apa yang membuat kalian tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?"


Keduanya saling pandang sambil menelan ludah, lalu Damar mengalihkan pandangannya pada Lusi.


"Kami sudah yakin dengan hubungan ini, Ma," dalih Damar.


Sera hanya tertunduk, dia semakin merasa tegang sekaligus gugup, dia takut Lusi menyadari sandiwara ini.


"Benar karena itu? Bukan karena Mama ingin melanjutkan perjodohan mu dengan Sarah, makanya kalian buru-buru mengatakan hal ini untuk menghentikan rencana Mama?" tebak Lusi sinis.


Damar menggeleng dan kembali berkilah, "Tidak, Ma. Sejak semalam kami sudah memikirkannya, dan akhirnya mengambil keputusan ini."


"Benar itu, Sera?" Lusi memastikan.


Sera seketika mengangkat kepalanya memandang Lusi, "I-iya, Tante."


Lusi menghela napas lega, "Baiklah, kalau begitu lusa Mama ingin bertemu dengan walinya Sera."


Kedua insan tersebut sontak tercengang mendengar keputusan mendadak Lusi itu.


Damar mengernyit, "Bertemu dengan walinya Sera? Untuk apa, Ma?"


"Ya, untuk melamar lah. Kalian kan sudah sepakat untuk menikah, jadi harus ada proses lamaran dulu, kan?" jawab Lusi enteng.


Sera dan Damar kembali saling pandang dengan jantung yang nyaris copot karena terkejut mendengar kata-kata Lusi.


Damar kembali menoleh ke arah Lusi dan melayangkan protes, "Ma, kenapa terburu-buru sekali? Kita masih harus membicarakan semua ini, masih banyak hal yang perlu dipersiapkan."


"Kita bisa membicarakan hal ini bersama walinya Sera, dan mempersiapkan semuanya setelah lamaran. Lagi pula Mama tidak ingin kalian berubah pikiran lagi!" sahut Lusi lugas.


"Hem, maaf, Tante. Tapi aku tidak punya wali, ibu dan ayahku tidak punya saudara laki-laki, sementara aku anak tunggal." Sera akhirnya buka suara, dia sengaja membuat Lusi mengurungkan niatnya.


"Kalau kakek kamu atau saudaranya?" tanya Lusi.


"Kedua kakekku sudah meninggal dunia saat aku masih kecil dan aku tidak tahu di mana saudara kakekku berada," balas Sera.


"Itu kan, Ma. Walinya Sera saja tidak ada, jadi nanti saja kita bicarakan lagi semuanya," sambung Damar.


"Ya sudah, kalau begitu kita bisa pakai wali hakim. Tapi kita akan tetap menemui kerabat Sera untuk menyampaikan niat baik ini," pungkas Lusi.


"Ma, tetap saja kita tidak perlu terburu-buru, kita rencanakan matang-matang dulu," sanggah Damar, berharap kali ini sang mama berubah pikiran.


Tapi Lusi justru kembali menatapnya dengan curiga, "Mama perhatikan dari tadi kamu selalu saja menghalangi niat Mama, apa jangan-jangan kamu tidak benar-benar ingin menikahi Sera?"


Damar terdiam dengan wajah tegang.


Lusi kemudian memandang Sera dan Damar bergantian, "Jangan-jangan kalian mau mempermainkan Mama, ya?"


"Hem, Mama jangan salah sangka dulu!" bantah Damar cepat, "aku hanya tidak ingin pernikahan kami berantakan karena terburu-buru dan tidak terencana dengan baik, itu saja!"


"Kamu tenang saja! Mama yang akan mengurus semuanya, kalian tinggal terima beres."


"Tapi Mama kan harus kembali ke Italia Minggu depan?" Damar mengingatkan Lusi, dia masih berusaha mengubah keputusan sang mama.


"Mama akan tunda kepulangan Mama sampai kalian menikah."


"Apa?" Sera dan Damar memekik bersamaan.


"Kalian ini kenapa, sih? Mama jadi semakin curiga kalau sebenarnya kalian ini memang ingin mempermainkan Mama!" tuduh Lusi.


Damar kembali menggeleng, "Tidak, kok, Ma!"


"Ya sudah, makanya turuti Mama!" tukas Lusi, membuat Sera maupun Damar terdiam.


"Kalau begitu Mama mau menyampaikan kabar baik ini pada Papa dulu." Lusi beranjak dan berlalu pergi sambil tersenyum penuh kemenangan, sementara kedua insan itu masih termangu, mereka tak menyangka masalah akan semakin runyam.


"Bagaimana ini, Om? Kita tidak mungkin menikah, kan?" cecar Sera cemas.


"Om juga bingung, Sera! Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Sera tak menjawab pertanyaan Damar, dia tengah khawatir dan bingung bagaimana cara untuk terlepas dari semua ini. Bahkan saking cemasnya, gadis itu sampai menangis.


"Kalau tahu akan seperti ini, dari awal aku pasti menolak untuk membantu Om. Aku menyesal!" sesal Sera sambil terisak-isak.


Damar yang melihatnya seketika merasa bersalah, dia lantas menggenggam tangan Sera lalu mengusap air mata gadis itu. "Sera, Om minta maaf karena membuat kamu terbawa-bawa dalam urusan pribadi Om."


Sera tiba-tiba beranjak dari duduknya, "Aku tidak bisa diam saja, Om. Aku tidak mau menikah dan Mama Om harus mengetahui kebohongan ini."


Damar terkesiap dan ikut bangkit dari duduknya. "Sera, tolong tenanglah dulu!"


"Aku tidak bisa, Om. Aku tidak mau terlibat lagi dalam sandiwara ini, aku minta maaf." Sera mengusap air matanya dan bergegas pergi mencari Lusi.


"Sera tunggu!" Damar pun buru-buru menyusulnya.


***