My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 39.



Hari ini Lusi dan Damar menemui para talent yang menyamar menjadi kerabat Sera di salah satu apartemen sederhana yang sengaja Damar sewa demi memuluskan rencana mereka.


Ayu dan Raffi berlakon sebagai saudara mendiang ayahnya Sera, sedangkan Hesti dan Deni sebagai saudara dari almarhumah Mila.


Lusi memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangannya kepada keempat orang itu, tentu mereka menyambut Lusi dan Damar dengan begitu hangat juga ramah.


"Bagaimana, apakah lamaran kami di terima?" tanya Lusi harap-harap cemas.


"Kalau kami terserah Sera saja, Bu," sahut Raffi.


"Iya, kan nanti Sera yang akan menjalaninya," sambung Deni, kemudian beralih memandang Sera, "bukan begitu, Sera?"


Sera mengangguk sedikit gugup, "I-iya, Om."


Lusi pun menatap Sera penuh harap, "Bagaimana, Sera? Kamu bersedia kan menikah dengan Damar?"


Sebenarnya Lusi hanya ingin memastikan saja jawaban Sera di hadapan keempat orang itu.


Sera sempat terdiam sembari melirik Damar yang sedari tadi tak bicara sepatah katapun, kemudian menjawab pertanyaan Lusi, "I-iya bersedia, Tante."


Lusi tersenyum, merasa senang sekaligus lega.


"Jadi kamu mau minta apa saja untuk hantaran, sayang? Lalu maharnya mau apa? Nanti Tante siapkan."


Sera merasa sungkan, "Terserah Tante saja."


Lusi mengernyit, "Kamu tidak menginginkan sesuatu?"


Sera menggeleng, "Tidak, Tante. Aku serahkan semuanya ke Tante saja, apa pun dan berapa pun yang Tante berikan, aku terima dengan ikhlas."


Lusi terenyuh mendengar kata-kata Sera itu, dia kagum dengan kesederhanaan gadis itu.


"Baiklah, kalau begitu kira-kira kapan tanggal yang bagus untuk melaksanakan pernikahan?" Lusi kembali bertanya kepada keempat talent yang menyamar menjadi kerabat Sera itu.


"Kami, sih, terserah Ibu dan keluarga saja." jawab Hesti.


Lusi memandangi Sera dan Damar bergantian, "Kalian tidak ada usul kapan sebaiknya pernikahan dilaksanakan?"


Sera kembali menggeleng, "Tidak ada, Tante."


"Kalau aku maunya setelah Sera tamat kuliah, Ma," sela Damar yang akhirnya buka suara.


"Kalau itu sih kelamaan, Damar!" bantah Lusi, "Bagaimana kalau Minggu depan?"


Sera, Damar dan semua orang tercengang mendengar usul Lusi yang sangat mendadak itu.


"Ma, itu terlalu cepat dan terburu-buru. Kita belum ada persiapan apa-apa," protes Damar.


Sera yang syok dan bingung tak tahu harus berkata apa.


"Damar, kamu kan tahu Mama dan Papa tidak bisa lama-lama di sini, kami harus segera kembali ke Italia. Jadi sebelum kami pulang, kami ingin melihat kamu menikah. Kalau untuk persiapan pernikahan, Mama yang akan urus semuanya. Kalian tenang saja!"


"Tapi, Ma ...."


"Sudah, kamu menurut saja dengan Mama!" tukas Lusi sebelum Damar sempat melanjutkan kata-katanya, dia kemudian memandang keempat talent itu untuk meminta persetujuan mereka, "Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu?"


"Kami ikut saja, Bu," sahut Deni.


Lusi tertawa senang, "Baiklah, kalau begitu pernikahan kita laksanakan Minggu depan."


Damar menghela napas pasrah, begitu pun dengan Sera.


"Jadi pernikahan akan kita adakan di mana?" tanya Lusi.


"Hem, di apartemen ini saja, Tante. Tapi aku tidak ingin pesta, cukup dihadiri keluarga saja," ucap Sera, ini memang bagian dari rencana mereka.


Lusi mengernyit, "Kenapa begitu? Tante malah ingin mengadakan pesta besar dan mengundang banyak orang."


"Ma, kedua orang tua Sera itu sudah tidak ada, apalagi kan Ibunya baru saja meninggal enam bulan yang lalu, dia merasa sedih jika mengadakan pesta pernikahan yang meriah tanpa kehadiran orang tuanya. Mama mengerti kan maksud aku?" terang Damar.


Wajah Lusi berubah sendu, dia sebenarnya sedikit kecewa karena keinginannya ditentang tapi dia juga tak ingin egois dan membuat Sera sedih.


"Baiklah, kita adakan acara kecil-kecilan seperti yang Sera mau. Nanti Mama hanya akan mengundang saudara-saudara dekat kita dan Pak RT saja sebagai saksi," ucap Lusi mengalah.


"Iya, Ma. Terus untuk penghulu, biar aku saja yang urus. Mama cukup menghandle persiapan acaranya saja," cetus Damar, ini juga bagian dari rencana mereka, karena ini pernikahan bohongan, jadi penghulu dan saksinya juga tentu bohongan.


"Iya, begitu juga boleh, jadi Mama tidak terlalu repot," balas Lusi.


Damar tersenyum, dia dan semua orang sedikit lega karena Lusi menyerahkan perkara ini pada mereka.


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih sudah menyambut dan menerima kami," ujar Lusi.


"Iya, Bu. Kami juga berterima kasih karena Ibu dan Nak Damar sudah bersedia menerima Sera," kata Deni basa-basi.


Lusi mengangguk dan tersenyum. Setelah berpamitan, Lusi dan Damar pun meninggalkan apartemen itu.


Selepas kepergian ibu dan anak itu, Riko juga Ferdi yang sedari tadi bersembunyi di dalam salah satu kamar pun keluar.


"Bagaimana akting kami tadi, sudah meyakinkan?" tanya Deni.


"Mantap! Kalian memang bisa diandalkan," puji Ferdi kagum.


"Tapi aku merasa tidak enak karena sudah membohongi Tante Lusi, aku kasihan padanya," sesal Sera dengan wajah sedih.


"Iya, aku takut kualat karena membohongi orang tua," sambung Hesti.


"Tidak ada pilihan lain, mau tak mau kita harus melakukan ini. Aku juga merasa tidak enak, tapi aku terpaksa melakukannya. Kalau tidak, Pak Damar akan menyalahkan aku seumur hidup, karena awal mula sandiwara ini terjadi karena ide ku." Riko mengoceh panjang lebar.


"Iya, kalian itu sudah terlanjur berbohong dari awal. Jadi untuk menutupi semuanya, kalian harus membuat kebohongan baru," imbuh Ferdi.


"Tapi ini bukan hal sepele, Mas. Kita mempermainkan orang tua dan pernikahan, bagaimana kalau Tuhan marah? Aku takut," lanjut Sera.


"Itu urusan belakangan, yang penting sekarang masalah ini kelar dulu. Setelah itu kita bisa minta ampun pada Tuhan," pungkas Riko enteng.


Semua orang mengangguk menyetujui ucapan Riko itu, kecuali Sera. Dia masih merasa kasihan pada Lusi dan takut menimbulkan masalah baru.


"Sekarang kita harus menyusun skenario lagi untuk hari H nanti, jangan sampai menimbulkan kecurigaan dan berantakan," usul Ayu.


Mereka pun kembali berembuk dan menyusun rencana berikutnya untuk hari pernikahan. Tidak diragukan lagi, kemampuan akting para talent itu bisa diacungi jempol, mereka sangat watak mendalami peran masing-masing. Setidaknya untuk saat ini, semua berjalan sesuai dengan harapan.


***