
Riko dan para talent sudah pergi meninggalkan ruang perawatan Damar, Sera juga memutuskan untuk pulang ke rumah sebab ingin mandi dan ganti pakaian, tinggallah Dafi yang kini menemani sang ayah.
Dafi berdiri di samping ranjang Damar, dia sudah menunggu momentum ini untuk menyampaikan permintaan maaf pada ayahnya itu.
"Pa, aku sudah dengar semuanya dari Oma, aku minta maaf karena selama ini bersikap buruk pada Papa, padahal Papa tidak bersalah dan sudah sangat baik padaku," ucap Dafi dengan suara bergetar.
Damar terkejut, dia tak menyangka sang mama akhirnya membuka kisah masa lalunya kepada Dafi.
"Sudahlah, Papa sudah memaafkan kamu. Papa mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu, ini semua juga salah Papa karena tidak bisa jadi ayah yang baik untuk kamu. Maafkan Papa juga, ya," balas Damar sambil menyentuh pundak Dafi.
"Tidak, Papa itu adalah ayah terbaik yang aku miliki dan aku bersyukur menjadi anak Papa."
Damar tersenyum, "Papa juga bersyukur dan bahagia bisa menjadi orang tuamu, kamu itu harta yang paling berharga dalam hidup Papa."
Dafi tertawa dan langsung memeluk Damar, "Aku sayang Papa. Terima kasih sudah rela berkorban untukku, terima kasih untuk semuanya."
"Papa juga menyayangimu." Damar membalas ucapan Dafi sembari mengusap sudut matanya yang basah.
Suasana begitu haru, akhirnya hubungan Damar dan Dafi membaik setelah bertahun-tahun berada di antara kebencian.
Dafi melepaskan pelukannya dan menatap Damar, "Aku tidak akan mengusik hubungan Papa dan Sera lagi, aku ikhlaskan dia untuk Papa."
Damar terkesiap, dia tak percaya Dafi mengatakan hal itu.
"Aku ingin Papa dan Sera bahagia, karena aku tahu kalian saling mencintai," lanjut Dafi sembari menahan sesak di dadanya.
"Kamu ini bicara apa, Daf?"
"Aku pernah tidak sengaja mendengar Papa bilang kalau Papa jatuh cinta pada Sera, dan aku bisa melihat jika dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Papa."
Damar menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecut, "Itu tidak mungkin, Daf. Papa tahu Sera tidak memiliki perasaan apa pun pada Papa."
"Papa salah, Sera mencintai Papa. Aku yakin itu!"
Damar terdiam, dia seketika teringat permintaan Sera agar mereka segera berpisah dan dia sudah mengurus perceraian mereka.
"Tapi kami akan berpisah, Papa sudah meminta pengacara untuk mengurus perceraian kami."
Dafi terperangah, "Papa sudah melakukannya?"
Damar mengangguk.
"Apa karena aku yang memintanya?"
"Bukan itu saja, Sera juga memintanya, dia ingin segera bercerai dari Papa. Lagipula dari awal kami merencanakan sandiwara ini, kami sudah sepakat akan berpisah. Dan Papa hanya menjalankan semuanya sesuai rencana," ujar Damar sedih, dia sendiri pun sejujurnya berat kalau harus berpisah dari Sera.
"Aku harap Papa memikirkan ulang keputusan Papa itu, aku tidak ingin Papa menyesal nanti."
Damar bergeming, dia pun bingung harus melakukan apa sebab dia sendiri tak yakin Sera juga memiliki perasaan terhadapnya.
Sementara Dafi berusaha sekuatnya menahan rasa sakit di hati, dia jelas masih sangat mencintai Sera tapi dia harus membuat sang ayah dan mantannya itu bersatu demi menebus rasa bersalahnya selama ini, berharap kedua insan itu bahagia meski dia yang terluka.
***
Malam harinya, Sera kembali ke rumah sakit untuk menjaga Damar. Begitu melihat Sera datang, Dafi memutuskan untuk keluar agar sang ayah punya waktu berdua dengan gadis itu. Dia berusaha mati-matian untuk ikhlas dan merelakan mereka bersama, meskipun sampai detik ini dia belum sanggup.
Sera duduk di tepi ranjang sambil memotong buah, Damar terus memperhatikan istrinya itu, dia teringat kata-kata Dafi tadi.
"Apa benar dia juga mencintaiku?" Damar bertanya-tanya dalam hati.
Damar pun mendapatkan ide untuk memancing Sera demi mencari tahu bagaimana perasaan gadis itu sebenarnya.
"Sera!"
"Om sudah meminta pengacara untuk mengurus perceraian kita," ucap Damar.
Sera termangu, jantungnya seketika berdebar kencang. Entah mengapa pengakuan Damar itu membuat hatinya sakit.
"Oh, ya sudah," jawab Sera tak acuh, padahal sebenarnya dia ingin menangis.
Damar menatap Sera dengan kecewa, "Kamu tidak sedih?"
Sera terdiam sejenak, kemudian menatap Damar sambil memaksakan senyuman, "Tidak, Om. Bukankah itu permintaan aku, lagipula dari awal kan kita sudah sepakat akan berpisah."
Damar lagi-lagi merasa kecewa atas jawaban istrinya itu.
Sebenarnya Sera ingin mempertanyakan perasaan Damar padanya, tapi begitu mendengar lelaki itu sudah mengurus perceraian mereka, rasanya Sera tak berminat lagi untuk mengetahuinya. Dia terpaksa berpura-pura biasa saja demi menutupi rasa kecewa dan sedihnya.
"Tapi Om sedih," ucap Damar jujur.
Sera mengernyit.
"Om sedih karena harus berpisah dari wanita yang Om cintai," lanjut Damar blak-blakan.
Sera terperangah, dia tak menyangka Damar mengakui sendiri perasaannya tanpa dia bertanya.
"Maaf, karena Om sudah jatuh cinta padamu," lanjut Damar.
Sera mendadak gugup dan salah tingkah, "A-aku ...."
Damar lantas menggenggam tangan Sera, "Om tidak akan memaksa kamu untuk menerima cinta Om, kamu bebas memilih untuk pergi atau tetap di sini."
Sera memandangi tangan Damar yang menggenggam erat tangannya, dia merasakan jantungnya yang berdegup semakin kencang, darahnya berdesir seperti ada aliran listrik yang menyengat. Dia tentu tidak asing dengan perasaan itu, dia pernah merasakannya saat jatuh cinta pada Dafi.
"A-aku juga mencintai Om," tutur Sera gugup.
Damar tak percaya jika cintanya akan berbalas, ternyata benar apa yang Dafi katakan, Sera juga mencintainya.
"Terima kasih, Sera."
Namun tiba-tiba Sera menarik tangannya dan cemberut, "Tapi tunggu! Kalau Om mencintai ku, kenapa Om tetap mengurus perceraian kita?"
"Om hanya menuruti permintaan kamu dan Dafi, Om tidak ada pilihan. Tapi Om akan segera membatalkannya, kamu tenang saja!" sahut Damar semangat.
Tapi wajah Sera tetap tidak menunjukkan raut bahagia, membuat Damar bingung.
"Kenapa? Kamu tidak senang?"
"Tapi masa suami aku om-om, sih? Apa kata teman-temanku kalau mereka tahu?" seloroh Sera.
"Hei, biarpun om-om begini, tapi jiwa dan tenaga masih ABG. Apalagi untuk urusan ranjang, masih perkasa!" Damar berbicara dengan penuh percaya diri, lalu berbisik dengan wajah genit, "kamu mau coba?"
Sera refleks memukul pundak Damar, wajahnya pun merah menahan malu, "Dasar om-om mesum!"
"Aduh, sakit!" Damar memegangi pundaknya sambil meringis.
"Eh, maaf-maaf, Om. Aku lupa kalau pundak Om sakit." Sera mengusap-usap pundak Damar dengan panik.
Tanpa Sera sadari jika Damar hanya bercanda, dan dengan cepat lelaki itu menarik tengkuk Sera dan mencium bibir sang istri.
Sera langsung memberontak dan mendorong dada Damar hingga tautan bibir mereka terlepas, wajah gadis itu semakin merah padam, "Om, jangan! Ini rumah sakit, kalau tiba-tiba ada yang datang gimana?"
"Om tidak peduli!" Damar kembali mencium bibir Sera, dia bahkan mengabaikan rasa sakit di pundak dan punggung belakangnya.
***