My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 30.



Malam harinya, Damar kembali menjemput Sera di hotel. Dia begitu terpesona melihat Sera mengenakan gaun yang dia pilihkan tadi, apalagi gadis itu sedikit berdandan seperti yang Yuni ajarkan padanya.


"Gimana, Om? Aku cantik tidak?" tanya Sera sambil bergaya di depan Damar.


"Cantik, kamu cantik banget," jawab Damar yang tak bisa berhenti menatap wajah cantik Sera.


"Kalau begitu, yuk! Aku sudah lapar, Om."


"Iya-iya, jangan lupa bawa dodolnya!"


Sera membawa paper bag yang berisi dodol tadi dan bergegas menutup pintu kamar, keduanya berjalan beriringan keluar dari hotel, banyak pasang mata yang memandang mereka, takjub dengan kecantikan dan ketampanan dua orang itu. Tapi tak dapat dipungkiri, orang-orang juga berpikiran macam-macam terhadap keduanya karena berada di hotel.


Di dalam mobil, Sera berulang kali menarik napas panjang lalu mengembuskan nya, dia sebenarnya merasa gugup dan takut kalau sandiwara ini gagal.


"Om, aku takut. Bagaimana kalau Mama Om curiga?"


"Kamu tenang, semua pasti baik-baik saja, kok. Yang penting kamu jangan gugup dan salah bicara nanti!" balas Damar.


"Jadi nanti aku harus bersikap seperti apa?"


"Bersikap sewajarnya saja, seperti kamu sehari-hari, tidak perlu ada yang diubah."


Jora terdiam, dia berusaha mencerna ucapan Damar dan memikirkan seperti apa sikapnya nanti.


"Tapi jangan ada adegan suap-suapan lagi, ya! Om malu!" lanjut Damar memberikan peringatan.


Sera langsung cemberut, "Iya-iya, Om."


"Eh, itu juga! Masa kamu panggil pacar sendiri Om, sih?" protes Damar.


"Kan memang sudah om-om," ledek Sera.


"Eits, biarpun umur sudah om-om, tapi fisik dan jiwa masih pantas jadi ABG, loh. Murid-murid SMA saja banyak yang berebut mau jadi pacarnya Om," seloroh Damar bangga.


Sera memutar bola matanya dengan malas, "Iya, tapi murid-murid SMA tahun sembilan puluhan?"


Tawa Damar sontak pecah, dia terbahak-bahak mendengar ledekan Sera itu.


Tak berapa lama, mobil Damar tiba di depan rumahnya, dia membukakan pintu mobil dan mempersilakan Sera turun.


"Terima kasih, Om."


Damar sontak melotot.


"Ups, maksudnya Mas," ralat Sera cepat.


"Kamu jangan sampai salah bicara! Nanti bisa berantakan semuanya, soalnya Mama kalau sudah curiga, dia bakal cari tahu ke mana-mana."


"Iya-iya, Mas."


"Nah, gitu, dong! Ya sudah, yuk masuk!" Damar menggandeng tangan Sera dan menarik gadis itu masuk.


"Hai, Sera. Kamu cantik sekali," puji Lusi, dia pun mencium pipi kanan dan kiri Sera.


"Terima kasih, Tante," balas Sera, lalu menyerahkan paper bag yang dia bawa. "Ini ada oleh-oleh untuk Tante."


"Apa ini, sayang?" Lusi menerima paper bag itu, lalu mengintip isinya, "wah, dodol! Pasti Damar yang bilang ya kalau Tante suka dodol, ya?"


Sera mengangguk dan tersenyum


"Terima kasih, ya, sayang."


"Sama-sama, Tan."


"Kalau begitu mari kita makan, Tante sudah suruh Yuni masak yang banyak malam ini." Lusi menarik lengan Sera dan mengabaikan sang putra.


Damar pun berjalan mengikuti dua wanita itu.


"Silakan, sayang. Jangan malu-malu!" ujar Lusi.


"Iya, Tante," sahut Sera yang duduk di hadapan Lusi, Damar pun ikut duduk di samping gadis itu.


Yuni yang baru datang dari dapur terkesiap melihat penampilan Sera yang sangat cantik malam ini, dia tersenyum kepada Sera dan gadis itu membalasnya.


Mereka pun mulai menyantap makanan di piring masing-masing.


"Kamu tinggal di mana, sayang?" tanya Lusi tiba-tiba.


Sera termangu, dia lantas melirik Damar untuk meminta bantuan menjawab pertanyaan Lusi itu.


"Sera tinggal di apartemen, Ma," jawab Damar cepat.


"Dengan siapa? Orang tua kamu?" Lusi kembali bertanya pada Sera.


Wajah Sera seketika berubah sendu, "Sendiri, Tante. Soalnya Ayah dan Ibu sudah meninggal."


Lusi terhenyak dan merasa tidak enak, "Maaf, ya. Tante tidak tahu kalau kedua orang tua kamu sudah tiada."


Sera memaksakan senyuman, "Tidak apa-apa, Tante."


"Sera itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Ma. Kerabatnya juga jauh, makanya dia tinggal sendirian di apartemen," terang Damar kemudian.


Lusi merasa iba dengan Sera, "Kasihan sekali kamu, sayang."


Lagi-lagi Sera hanya memaksakan senyuman.


"Ya sudah, kalau begitu mari makan lagi!" pinta Lusi yang tak ingin membuat situasi semakin sendu.


Sejenak suasana begitu hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Lusi memperhatikan Sera yang sedang makan, dan wanita paruh baya itu pun tersenyum. Sepertinya dia mendapatkan sebuah ide brilian.


***