My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 21.



Sarah sedang duduk melamun di kamar hotel, dia benar-benar merasa kesal dengan sikap dan perilaku Damar. Dua kali mereka bertemu, dua kali pula lelaki itu membuatnya kecewa. Padahal pertemuan malam ini atas usul Lusi karena berharap Damar meminta maaf pada Sarah dan mereka bisa bicara, namun apa yang terjadi sungguh di luar perkiraan.


Lamunan Sarah buyar ketika ponselnya tiba-tiba berdering, ada sebuah panggilan telepon dari Lusi. Sarah mengabaikan panggilan itu, dia tahu apa tujuan Lusi menghubunginya. Namun wanita paruh baya tersebut rupanya tak mau menyerah, dia terus saja menghubungi Sarah, mau tak mau Sarah pun menjawabnya.


"Halo, Tante," sapa Sarah lembut.


"Kamu masih bersama Damar, ya?"


"Aku sudah kembali ke hotel, Tan," jawab Sarah.


"Jadi gimana makan malamnya? Kali ini sukseskan?"


"Iya, Tante.


"Syukurlah. Terus Damar bilang apa saja tadi? Dia sudah minta maaf, kan?"


Sarah terdiam sejenak, dia kembali teringat apa yang terjadi di restoran tadi.


"Dia tidak mengatakan apa-apa, Tan," sahut Sarah.


"Loh, jadi dia masih juga bersikap dingin? Memang dasar itu anak, ya! Nanti Tante akan marahin dia."


Sarah mengembuskan napas berat, "Hem, Tante."


"Iya, Sarah."


"Kenapa Tante menjodohkan Damar padaku padahal dia sudah punya kekasih?" lirih Sarah.


"Apa? Damar punya kekasih?"


"Iya, Tan. Tadi dia datang bersama kekasihnya itu."


"Tapi setahu Tante selama ini dia tidak punya kekasih, makanya Tante jodohkan kalian."


"Tapi kenyataannya seperti itu, Tante. Dan aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain," bantah Sarah.


"Sarah, Tante minta maaf yang sebesar-besarnya padamu. Tante juga bingung, kenapa jadi seperti ini?"


"Iya, Tante. Tidak apa-apa, kok."


"Ya sudah, nanti Tante akan coba cek kebenarannya. Tante tutup dulu, ya, sayang."


"Iya, Tan."


Sarah melemparkan ponselnya ke atas ranjang setelah Lusi mengakhiri pembicaraan mereka, tak bisa dipungkiri dia masih merasa kesal dan marah pada Damar.


***


Keesokan paginya, Sera yang baru keluar dari kamar terkejut melihat sebuah kado berwarna merah muda tergeletak di atas meja makan, dia celingukan mencari pemilik kado itu.


Yuni kemudian datang membawakan sarapan dan menghidangkannya di atas meja.


"Eonni, ini kado siapa?" tanya Sera penasaran.


"Tidak tahu, sejak tadi aku bangun, kado itu sudah ada di sana," jawab Yuni.


"Apa punya Om Damar?" tebak Sera.


"Mungkin."


Tepat bersamaan Damar turun dan menghampiri meja makan, "Selamat pagi semuanya."


"Pagi, Om."


"Pagi, Oppa."


Damar tersenyum sembari meletakkan pantatnya di kursi.


"Itu kado milik Om, ya?" Sera menunjuk kotak hadiah berwarna merah muda itu.


"Oh, itu untuk kamu. Tadi malam kamu sudah tidur, makanya Om letak di sini saja."


"Untuk aku, Om?"


Damar mengangguk, "Iya, itu ucapan terima kasih karena kamu sudah membantu Om semalam."


"Seharusnya Om tidak usah repot-repot begini," ujar Sera sungkan.


"Tidak apa-apa," balas Damar, "buka, dong!"


Sera bergegas membuka kado itu dan tercengang saat tahu isinya adalah sebuah ponsel keluaran terbaru dengan logo apel tergigit. Begitu juga dengan Yuni yang merasa kagum dengan isi kado tersebut.


"Wah, bagus banget!" seru Sera, lalu menatap Damar, "pasti mahal, kan, Om?"


Damar senang melihat Sera gembira, harga ponselnya itu tidak ada apa-apanya untuk seorang Damar Atmajaya.


"Kamu suka?" Damar memastikan.


Sera mengangguk, "Suka banget, Om. Terima kasih, ya, Om."


"Sama-sama. Itu sudah tinggal pakai, Om juga sudah menyimpan nomor telepon Om di situ, jadi kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung hubungi Om," terang Damar.


"Iya, Om. Sekali lagi terima kasih banyak."


Damar menyunggingkan senyum dan mengangguk.


"Oh iya, kampus yang kamu mau sudah mulai buka pendaftaran, jadi kamu sudah bisa daftar dari sekarang," beber Damar.


"Benar, Om?"


Damar kembali menganggukkan kepalanya, "Iya, nanti Om bantu kamu mendaftar via online."


"Ok, Om."


Hari ini Sera benar-benar sangat bahagia, dia sungguh berterima kasih pada Damar yang baik hati.


***


Keesokan harinya ....


"Nyonya?"


Yuni yang sedang membersihkan rumah terperanjat ketika melihat Lusi berjalan masuk sambil menarik kopernya. Dia tak menyangka sang majikan datang mendadak begini, biasanya kalau mau datang Lusi pasti memberikan kabar pada Damar dan lelaki itu pasti menyampaikannya ke Yuni.


"Hai, Yun. Apa kabar?" sapa Lusi.


"Ba-baik, Nyonya." Yuni mendadak gugup, dia takut Sera tiba-tiba keluar dan bertemu Lusi.


"Kenapa kamu tegang dan gugup begitu?" Lusi memandang curiga Yuni.


Yuni menelan ludah, "Saya hanya kaget saja Nyonya tiba-tiba pulang."


"Oh, saya kira kamu melakukan kesalahan dan takut ketahuan oleh saya."


Yuni meringis, "Saya tidak pernah melakukan kesalahan, Nyonya. Semua aman terkendali!"


"Baguslah kalau begitu," Lusi melangkah ke ruang makan dan duduk di salah satu kursi, "kamu masak apa, Yun?"


"Oseng daging dan sup tahu, Nya," jawab Yuni, dia semakin cemas. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar tamu.


"Saya agak lapar, tapi saya ingin ganti pakaian dulu sebelum makan."


"Baiklah, saya akan siapkan semuanya, Nyonya ganti pakaian saja dulu!" ujar Yuni.


Lusi akhirnya beranjak dan menarik kopernya ke kamar yang biasa dia tempati kalau datang ke sini, Yuni mengembuskan napas lega dan buru-buru ke kamar tamu untuk memberi tahu Sera.


Sementara itu, Sera sedang bersantai di dalam kamarnya sambil bermain ponsel baru pemberian Damar, dia membuka media sosialnya yang sudah enam bulan ini tidak tersentuh. Ada banyak pesan bela sungkawa yang dikirimkan oleh teman-teman sekolahnya, termasuk Dafi.


Sera sengaja tidak membuka pesan dari mantan kekasihnya itu, dia mengabaikannya. Sedangkan pesan dari teman-temannya yang lain dia balas satu per satu.


Gadis cantik itu terkejut saat Yuni tiba-tiba masuk ke kamar dengan wajah tegang dan panik.


"Sera gawat!"


"Gawat kenapa, Eonni?"


"Nyonya Lusi datang."


Sera tercengang, "Haa? Kapan?"


"Barusan saja, sekarang dia sedang ganti pakaian di kamarnya dan sebentar lagi dia mau turun dan makan, jadi kamu jangan keluar dari kamar."


"Sampai kapan aku bersembunyi di sini, Eonni?"


"Sampai Oppa datang, sekarang kamu cepat hubungi Oppa dan sampaikan berita ini!" pinta Yuni heboh.


Sera mengangguk, "Iya, Eonni."


"Ya sudah, aku keluar dulu. Ingat, kamu jangan ke mana-mana!"


Yuni keluar dari kamar tamu dengan tergesa-gesa, Sera pun ikut panik dan takut. Dia segera menghubungi Damar seperti perintah Yuni.


***